Jadi Single Parent Bukanlah Hal Mudah, Jaga Keharmonisan Keluarga Kecil Anda

0
209
Ilustrasi

Menjadi seorang single mom tidaklah mudah. Saya bukan seorang single mom dan saya bersyukur atas kondisi ini. Namun cerita teman saya, seorang single mom yang tangguh, rasanya pantas dibagikan di sini sebagai bahan pembelajaran bagi kita semua.

Teman saya adalah seorang ibu muda berusia 27 tahun dengan satu anak yang baru saja masuk SD. 3 tahun lalu dia berpisah dengan suaminya saat si anak berusia empat tahun. Di umur sekecil itu, si anak tentu tak mengerti apapun soal perceraian. Ia hanya jadi korban perceraian itu.

Saya tak ingin mengadili teman itu, sebab saya mengerti kondisinya memang sulit untuk dia dan suaminya. Teman saya itu, sebut saja Rini. Jika berpisah adalah jalan yang menurutnya terbaik, saya hanya bisa mendukung. Toh keduanya sudah sama-sama dewasa dan mengerti kondisi masing-masing.

Hanya saja, kita perlu memberi perhatian pada anak usia 4 tahun yang tinggal bersama ibunya saja. Tiga tahun tanpa kehadiran ayah di dalam rumah adalah waktu panjang yang membuat saya merasa iba pada anak Rini.

Saya tak bisa membayangkan apabila anak saya diasuh oleh saya sendiri. Menghabiskan masa kecil hanya berteman dengan seorang ibu yang kesehariannya sibuk bekerja benar-benar membuat anak kekurangan perhatian.

Rini sendiri bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan. Pekerjaan itu membuatnya sibuk berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sampai malam hari. ketika  pulang ke rumah, Rini pulang dalam keadaan lelah.

Tidak ada pilihan lain baginya. Ia harus bekerja keras seharian agar kebutuhan anak yang kian bertambah dapat tercukupi. Mulai dari membelikan susu sampai kebutuhan sekolah yang mendesak. Sebagai single mom, ia merasa bertanggung jawab penuh atas nasib anak tunggalnya. Ia pilih menanggungnya sendiri ketimbang menghubungi mantan suami dan meminta bantuan untuk membesarkan anak mereka.

Sekuat tenaga ia sempatkan mengurus anak tunggal yang hanya dapat bertemu ibunya di malam hari. Pagi hari pertemuan mereka sangat pendek, hanya sempat sarapan bersama sebab Rini segera berangkat kerja.

Sesekali kami bertemu, saling bercerita dan memberi support. Ya, kami teman lama sejak jaman bersekolah. Sudah terlalu sering kami berbagi cerita satu sama lain. Dalam kondisi rumah tangga yang berbeda, saya lebih memilih banyak mendengar ketimbang bercerita. Saya tahu kondisi rumah tangga saya lebih baik. Dia lebih membutuhkan teman curhat yang mau mendengar semua ceritanya apa adanya.

Rini bilang ia begitu lelah sebenarnya, fisik maupun batin. Tetapi ia tak punya pilihan lain. Demi tercukupinya kebutuhan anak, ia mau bekerja keras seberapa lama pun dalam sehari. Terkadang ia memaksakan diri berangkat kerja meski dalam kondisi tidak enak badan. Kepada mantan suaminya ia kekeuh tak mau mengharap bantuan. Ada suatu alasan yang tak bisa saya ceritakan di sini. Saya hanya menghormati keputusannya. Meski sebenarnya hal itu membuat hidupnya semakin berat.

Tetapi ia menghela nafas lega masih bisa jadi single mom yang kuat. Di depan anaknya yang sangat lucu, Rini selalu berusaha tampil ceria. Mendengarkan cerita si anak selama siang hari. dengan siapa dia bermain, atau apa saja yang ia lakukan selama itu. Mereka memang tak pernah bertemu di siang hari terkecuali di hari Minggu saat Rini libur bekerja.

Cerita anak memang jadi sumber kebahagiaan bagi ibu mandiri itu. apapun akan ia dengar dan tanggapi. Hanya saja air mata Rini akan tumpah ketika si anak bertanya soal suaminya.

“Kapan ayah pulang, buk?” tanya anaknya beberapa kali.

Dan ya, Rini hanya bisa tersenyum dan menjawab sekedarnya. Selanjutnya mengalihkan pembicaraan pada hal lain. Rini tak tega mendengar pertanyaan dari gadis kecilnya. Anak sekecil itu tak seharunya merasakan rasa kesepian ditinggal sosok ayah. Sayang, dunia orang dewasa memiliki jalan cerita sendiri.

Itu membuat Rini menangis sendirian di malam hari. Menangisi kondisinya yang menyedihkan tetapi tak mampu berbuat apapun. Memilih rujuk bersama mantan suaminya bukan pilihan yang mudah. Perceraian tidak pernah sesederhana pertengkaran anak kecil yang cepat berakhir usai salah satunya menangis.

Rini juga menangis, tetapi kondisi tidak kemudian menjadi baik.

Dalam hati, saya bersyukur atas kondisi rumah tangga saya sendiri. Sebagaimana semua pasangan yang terkadang bertengkar, saya dan suami juga sesekali bertengkar. Tetapi itu semua hanyalah bagian wajar dalam rumah tangga. Kalau sudah capek, salah satu dari kami akan berusaha mengalah dan mencoba memperbaiki keadaan.

Kalau memang marah, kami menahan agar perasaan itu tidak dikeluarkan di depan anak-anak. Kondisi rumah tidak boleh terlihat keruh di mata malaikat kecil kami. Sebab perasaan anak itu lembut. Setiap goresan luka di masa kecil akan membekas di hatinya sampai dewasa. Mungkin menyisakan trauma.

Saya dan suami memang bersepakat untuk menjalin komunikasi sebaik mungkin, termasuk dengan menyampaikan keluhan. Itu yang terkadang memuncak jadi marah. Namun itu membuat saya lega, sebab setelah itu kami baikan lagi.

Mungkin itu cara kami sendiri. Bukan agar sering bertengkar, malah agar hubungan terjaga dengan baik. Saya tak ingin ada rasa yang terpendam sebab menahan diri dari pertengkaran. Itu lebih baik bagi saya agar setiap permasalahan dapat segera diselesaikan. Jangan sampai perasaan terus bertumpuk sebab suatu hari nanti akan jadi ledakan besar yang dapat mengganggu keutuhan rumah tangga.

Beberapa kali usai bertengkar malam hari, ia akan ajak saya ke kamar anak hanya untuk melihat wajah mungilnya yang tengah tidur. Adem sekali wajah anak kecil. Hati saya jadi dingin. Tidak ingin melanjutkan pertengkaran lagi sebab melihat wajah anak kecil yang tak berdosa itu.

Tidak pernah terbersit sedikitpun pikiran untuk membuatnya menderita. Sebab itu, hubungan kedua orang tuanya harus tetap baik. Harus tetap bisa tertawa bersama. Makan bersama. Bermain bersama.

Semoga Rini segera menemukan kebahagiaan kembali. Entah bagaimana. Saya ingin ia bisa sebahagia kami. Memiliki ayah untuk gadis mungil yang ia perjuangkan sepenuh hati. Jangan sampai terjadi, gadis Rini mencari perhatian pada orang lain, mencari sosok pengganti ayah yang tidak tepat.

Korban perceraian adalah anak-anak usia dini. Mereka yang masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua tetapi malah ditinggalkan akan mencari sosok pengganti. Entah pada om atau tantenya, atau malah mencari seorang pacar di usia dini.

Ya, semoga kita yang masih memiliki keluarga utuh dijauhkan dari perpisahan sebab perceraian. Belajar untuk menjaga hubungan agar tetap langgeng sampai rambut memutih nanti. Kalau bertengkar, segeralah selesaikan. Mungkin dapat meniru cara suami saya dengan melihat wajah anak yang sedang tidur. Hehe.

Untuk sahabat saya yang baik, Rini, semoga kau kembali menemukan kebahagiaanmu. Ketahuilah, kamu ibu yang hebat.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here