Jadilah Ayah yang Selalu Dirindukan Anak-anak

Jadilah Ayah yang Selalu Dirindukan Anak-anak

“Ma, kapan ayah pulang ? Anis kangen banget sama ayah, tidak ada teman bermain dan berdongeng lagi..Ma… Papa Kemana?,” begitulah anakku Anis yang selalu menanyakan tentang ayahnya.

“Dalem sayang? Papa lagi keluar kota, ada acara di Bali, dua hari lagi pulang kok sayang, sabar ya, do’a saja supaya bisa cepat selesai kerjaannya dan pulang ketemu Anis,” kataku menjawab pertanyaannya.

“Amin Ya Allah, semoga papa cepat pulang, Anis sudah kangen papa Ya Allah,” demikian curahan kerinduan yang hampir setiap hari disampaikan Anis tiga hari belakang ini kepada ayahnya yang sekarang lagi di pulau dewata Bali dalam rangka acara temu mitra nasional.

Tentu bagi Anis ini sangat lama, sebab baru kali pertama ia ditinggal lama ayahnya. Biasanya setiap hari ayahnya selalu bersamanya di rumah sepulang kantor. Dari ikut menyiram tanaman di halaman rumah sampai ia tidur di sampingnya. Sungguh ia sangat dimanja olehnya.

Sebagai seorang suami dia adalah orang yang paling perhatian sama Anis, dia sangat memanjakannya. Sejauh ini semua permintaan Anis selalu dituruti olehnya. Hebatnya lagi dia bisa membuat Anis patuh padanya. Semisal mau belajar dan makan, beda halnya jika aku yang menyuruhnya.

“Anis Makan siang dulu sayang, sehabis itu bobok siang ya, nanti aja Ma, mau makan sama papa, sekarang Anis belum laper Ma,” katanya.

“Sayang,  Anis kan belum makan siang, nanti sakit,” kataku.

“Tidak mau, Anis Mau sama Papa,” rengeknya.

Untuk membuatnya mau makan aku harus telpon ayahnya dulu di kantor, baru setelah itu dia mau makan. Tapi terkadang dia mau karena sebelum berangkat kerja ayahnya selalu memberikan pesan padanya.

“Sayang, nanti jangan lupa makan siang sama Mama ya?” kata ayahnya

“Oke papa,” jawab Anis

“Sayang papa dulu dong,” tambah suamiku

Dia langsung memeluk ayahnya dan mencium kening ayahnya. Begitupun ayahnya. Pokoknya Anis lebih dekat sama ayahnya ketimbang aku.

Walaupun sebenarnya aku sendiri tak jauh berbeda cara mendidiknya.

Bahkan aku seringkali bertanya padanya, apakah dia sayang sama aku, dia menjawab bahwa dia sangat sayang banget sama mamanya. “Anis sayang banget sama mama jika mama tidak pernah marah-marah sama Anis.”

Karena ayahnya tidak pernah marah, suamiku lebih spesial baginya. Apabila suamiku perjalanan jauh atauh bahkan ketika telat pulang kerja, dia selalu menunggu di depan teras rumah. Sehingga aku selalu memanggilnya dari dalam rumah, memastikan Anis ada di rumah.

“Anis lagi apa sayang?” panggilku di dapur sembari mencuci beras untuk menu makan malam bersama. “ Anis lagi nunggu papa pulang mama,” katanya.

Bahkan dia menjadi orang pertama yang mengambil tangan ayahnya apabila pulang kerja, ayahnya pun selalu membalas dengan bercerita ingin cepat pulang ke rumah karena prilaku anaknya yang selalu menyambutnya.

Bahkan suamiku sempat bercerita karena bangga sama Anis. “Ma, aku sekarang di kantor kadang kehilangan fokus, selalu pengen cepat pulang, tak sabar tangan papa di sambut sama Anis dan di cium olehnya,” jelas suamiku

“Betapa papa bangga punya anak seperti dia Ma” tambahnya.

Sekarang Anis sampai jatuh sakit demam, karena ditinggal agak lama oleh ayahnya Ke Bali. Akhirnya aku bawa Anis ke dokter tapi tetap saja demamnya tidak turun. Bahkan ketika tidur di malam hari selalu memanggil-manggil ayahnya.

“Papa, papa, pa…..”

Aku sentuh kepalanya, dan aku berbisik padanya, besok papa pulang sayang, tunggu. Aku cium keningnya lagi supaya ia bisa nyenyak dalam tidurnya. Akhirnya aku telpon suamiku, Mas Lukman.

“Assalamualaikum Mas…”

“Waalaikum salam sayang, Anis sudah tidur Ma?” tanya suamiku.

“Anis demam Mas, dia sering manggil-manggil mas, setiap hari dia selalu tanya mas kapan pulang, bahkan barusan pas aku keloni sebelum tidur, dia mengigau kamu terus mas,” kataku.

Aku mendengar suamiku sedang menangis dan gugup. “Perasaan papa dari kemarin tidak enak, ingat Anis terus, ternyata Anis sedang sakit,” jelas suamiku.

“Ma, papa ikut penerbangan malam ini ma, papa pulang ke Jogja langsung ikut jam 7.”

“Besok gimana pa, kan besok penutupan acaranya ?” katanya lagi.

“Gampang ma, biar diganti asisten papa, Anis lebih penting daripada bisnis.” ujarnya.

Akhirnya mas Lukman mendarat di bandara Adi Sucipto jam 9 malam. Aku menjemputnya. Sesampainya di rumah Anis masih dalam keadaan pulas, ayahnya langsung mencium keningnya sembari dikeloni, dan dia belum tau jika ayahnya sudah datang.

Setelah bangun di pagi hari betapa terkejutnya ia, orang yang sangat dirindukan ada di depannya dan langsung memeluknya dengan erat.

“Ayah, Anis kangen papa,” ujarnya smbari menangis dengan linangan air mata kerinduan.

“ I Love Yous sayang. Papa juga kangen banget.”

Akhirnya demamnya juga turun pada waktu itu. Semenjak itu pula ayahnya tidak pernah lama-lama pergi keluar kota, karena dia adalah ayah seorang yang selalu dirindu oleh anaknya.

Comments

Close Menu