Jangan Biarkan Anak Kecanduan Gadget

Jangan Biarkan Anak Kecanduan Gadget

Siang itu cuaca cerah. Awan tampak berarak di langit. Anak itu datang bersama ibunya ke rumah. Ia tak hendak bertemu saya, mereka cuma duduk-duduk saja di teras rumah.

“Numpang wifi ya, Mbak..” katanya sambil menyapa.

“Monggo, Bu…” jawab saya dengan agak keberatan di dalam. Tapi tentu saya tak bisa menolak. Di lingkungan masyarakat begini sangat sulit kita menolak permintaan sepele seperti itu. Walaupun hanya rumah saya yang terpasang wifi.

Usia anak itu baru empat tahun. Tentu ia belum bisa membaca. Menulis pun belum lancar. Ia bahkan belum bisa berhitung genap sepuluh.

Tapi tangannya sudah lihai memainkan gadget. Hape orang tuanya yang harganya belasan juta, dengan mudah ia kuasai.

Tanpa ada yang mengajari, ia tahu cara membuka game di hapenya. Tahu cara mencari video upin ipin. Tahu cara menjawab telepon.

Dan gadget, alias hape telah menjadi candu.

Tiap kali si anak rewel, si ibu lantas memutarkan video di hapenya. Dan anak itu lekas diam. Awalnya memang untuk menarik perhatian anak. Untuk menenangkan anak. Tapi lambat laun, ternyata si anak saban menit merengek minta hape.

Bila tak diberikan, ia akan memberontak. Menangis meraung. Ngamuk. Si Ibu tentu tak akan tega melihatnya. Dikabulkanlah keinginan si anak. Walaupun harus numpang wifi di rumah saya.

Beberapa kali saya sengaja matikan sambungan wifi itu, agar anak itu tidak tiap hari nongkrong di teras rumah.

Bukannya saya pelit, tapi melihat ketergantungan anak yang demikian akut pada gadget, sebenarnya membuat saya prihatin.

Kemajuan teknologi saat ini memang membantu para orang tua dalam mengasuh anak. Namun kadangkala anak-anak yang tenang dan diam itu hanyalah alasan agar orang tua bisa melakukan hal lain dengan lebih tenang.

Inilah yang dikhawatirkan banyak orang. Banyak ahli parenting.

Bukan saja tentang anak yang kecanduan gadget, tapi juga orang tua yang “kecanduan” mengasuh anak dengan gadget.

Bersebab kecanduan piranti digital, kata Fauzil Adhim, pakar parenting, anak-anak tak lagi mengenal permainan yang menggalang kebersamaan dan kerjasama sekaligus mengasah empati semacam petak umpet atau gobag sodor.

Ketika anak usia 3 tahun pun dapat terjangkiti digital addiction (kecanduan peranti digital), akan sulit bagi mereka untuk melakukan permainan alami. Anak-anak itu pun bahkan mengalami kesulitan untuk melakukan kontak sosial dan tatap muka dengan baik. Handicapped.

Lalu apa yang harus kita -sebagai orang tua- lakukan bila anak sudah kecanduan gadget?

Nah, sebelum mencari solusinya. Lebih baik kita merenung kembali. Kita periksa diri kita, jangan-jangan kita juga kecanduan gadget bukan? Apakah kita masih saja cakep dikit, cekreek… Jam makan, cekreeekk.. 🙂

Bila kita sudah sadar dan paham, maka akan lebih mudah untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak.

Fauzil Adhim mengatakan bahwa ada beragam cara untuk mengatasi anak kecanduan gadget. Tapi kunci pentingnya adalah kesediaan meluangkan waktu untuk anak kita. Sengaja meluangkan waktu akan menjadi saat berharga untuk anak kita. Inilah saatnya berbincang dan berbagi cerita dengan mereka. Semoga anak-anak kita merasakan betapa berharga kesempatan berjumpa, berbincang dan bercanda dengan kita. Mereka senantiasa merindui itu.

Gadget bukan terlarang, lanjutnya, tapi kita perlu menyiapkan mereka dan kita sendiri agar kehadirannya menjadi jalan kebaikan. Gadget benar-benar berfungsi sebagai teknologi informasi dan komunikasi.

Bila boleh saya rangkumkan dari berbagai sumber, maka ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan.

Pertama, ajak anak bersosialisasi dengan teman sebaya. Dengan banyak teman, ia akan sibuk dengan teman-temannya itu. Dorong mereka untuk bermain aktif, seperti bermain bola, petak umpet, dan sebagainya. Tapi jangan rame-rame lalu main gadget yaa.. 🙂

Kedua, sibukkan anak dengan berbagai aktivitas menarik.

Sediakan alternatif permainan pengganti, sehingga anak lebih menikmati aktivitas itu, daripada sekadar bermain gadget. Permainan yang dipilih sarat dengan interaksi, komunikasi, kerja sama, dan lain-lain. Entah bermain bermain bola tangkap, lari-lari, memasak, bercerita, dan lain-lain.

Ketiga, Berikan reward.

Jangan sungkan untuk memberikan hadiah pelukan, ciuman, acungan jempol saat anak berhasil mengurangi frekeuensi bermain gadget-nya.

Keempat, Jangan beri anak gadget

Maksudnya jangan biarkan anak memiliki gadget sebelum waktunya. Gadget itu punya orang tuanya. Anak hanya meminjam. Maka ketika meminjam lebih mudah memberikan batas waktu untuk anak dalam memakainya.

Tentu kita tak ingin membesarkan anak menjadi generasi menunduk bukan bunda? Maksudnya adalah anak-anak yang hanya sibuk bermain dengan gadgetnya tapi abai terhadap lingkungan sekitar.

Kita ingin anak-anak tumbuh cerdas, aktif dan sehat. 🙂 Bunda bisa baca ulasan tips mudah mendidik anak cerdas disini kok.. 13 Tips Anak Cerdas Tanpa Gadget

Happy parenting yaa.. ^_^

Oleh: Rini Kusuma, Asal Jogja. 

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu