Jangan Mendidik Anak Cuma Agar Ia Bahagia, Tapi Juga…

Jangan Mendidik Anak Cuma Agar Ia Bahagia, Tapi Juga…

“Loh, apa-apaan itu? Kok bisa? Judulnya gak mutu nih?”

“Wah, menyesatkan nih.. Bisa-bisanya ngomong gitu…”

Duh, bentar ya para pembaca budiman sekalian. Jangan emosi dulu hanya dengan membaca judul di atas..

Sabar.. sebentar saya jelaskan ya pelan-pelan..

Jadi, begini.

Setiap orang tua, setahu saya, akan menginginkan dan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya. Untuk menyenangkan hati anak-anaknya. Saya kira semua orang tua sepakat dengan hal ini.

Karena itu tak jarang kita akan mendapati orang tua yang suka sekali memberikan barang ataupun makanan kepada anaknya. Berjuang untuk memenuhi semua keinginan si buah hati.

Setiap ibu, mungkin, tak pernah segan untuk mengorbankan apa saja demi menghapus air mata anaknya yang masih usia tiga tahun. Dalam diri ibu ada sebuah perasaan “tak tega” melihat anaknya ngamuk, nangis kencang, rewel, hanya demi keinginan sebuah mainan.

Perasaan tak tega yang bercampur saking jengkelnya, malu, ataupun pikiran “sudahlah, cuma mainan doang.” Karena memenuhi semua keinginan anak, ternyata tak selamanya adalah tindakan yang tepat.

Setiap orang tua ingin membahagiakan anaknya.

Kalau memungkinkan, mungkin, banyak ibu yang tak ingin anaknya menangis. Sedih. Ia hanya ingin anaknya selalu tertawa. Riang gembira.

Bahkan mungkin ibu tak ingin anaknya terjatuh, tak ingin anaknya lecet. Tak mau bajunya kotor. Tidak mau ia dinakali dengan “kenalan khas anak kecil.” Tak mau ia menangis, padahal anak usia balita menangis, lima menit kemudian ia akan tertawa kembali.

Menangis, rewel, bukan berarti anak tidak bahagia. Namun ini kadang disalahpahami. Pengennya adalah “anakku layak untuk bahagia.”

Nah, sebenarnya keinginan itu lahir dari alam bawah sadar setiap orang tua. Apalagi bila dahulu mereka diasuh dengan “masa kecil kurang bahagia.”

Padahal, kata Shefali Tsabary, Ph.d seorang pakar parenting, beberapa orang mengira menjadi orang tua yang sadar adalah memanjakan anak dan menuruti semua kemauan mereka supaya mereka puas dan nyaman. Jutsru sebaliknya, pola asuh semacam itu ternyata didasari oleh rasa takut yang berakar pada ketidaksadaran.

Artinya kalau banyak orang tua menuruti semua keinginan anak agar anak puas dan nyaman, itu bukan muncul dari kesadaran orang tua, tapi lebih condong pada aspek alam bawah sadar orang tua itu. Dalam alam bawah sadar, mereka takut anak mereka “tidak nyaman.”

Padahal sudah semestinya orang tua sadar bahwa pola asuh seperti itu justru akan melemahkan anak-anak kita.

“Sebaliknya, orangtua yang sadar tidak akan takut untuk membuat anak merasa tidak nyaman kalau itu dibutuhkan agar mereka bisa berkembang,” katanya seperti tertulis dalam buku The Awakened Family.

“Pendekatan ini agar anak tumbuh menjadi tangguh dan berdaya guna, tidak melulu bahagia dan merasa nyaman.”

Ya, anak yang tangguh.

Yang siap menghadapi segala rintangan dan tantangan di masa depannya. Karena anak akan hidup di dunia mendatang, yang kita tidak akan tahu akan seperti apa.

Lantas bagaimana mendidik anak yang tangguh?

“Untuk menciptakan anak yang tangguh adalah dengan memberi kesempatan anak untuk belajar mengambil risiko. Orang tua sering kali tergoda mengambil peran anak karena mereka tidak mau anaknya sakit yang merupakan risiko dari apa yang dihadapinya,” kata psikolog anak dan remaja, Ratuh Zulhaqqi.

Berikan kesempatan pada anak untuk belajar. Dorong dia untuk mengetahui banyak hal. Lalu tumbuhkan percaya dirinya.

Tegaslah. Ya, tegaslah pada diri sendiri dan pada anak.

Kadang kita seringkali menyerah dengan kehendak anak. Menyerah dengan kemauan anak yang menurut kita tidak baik untuknya. Akibatnya anak menjadi pribadi yang selalu mengamuk, rewel, tantrum, setiap kali keinginannya tidak dipenuhi oleh orang tuanya.

Memang tidak mudah. Saya tahu dan mengalaminya. Ya, benar-benar tidak mudah. Dan ingat, jangan sampai salah paham, karena ingin bersikap tegas, eh malah kita memberikan tugas di luar kemampuan anak dengan selalu memukul dan membentak anak.

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mendidik anak tangguh.

Pertama, kita sebagai orang tua harus memberikan contoh untuk bersikap optimis. Tidak berkeluh kesah di depan anak. Dan juga tidak bertengkar di depan anak-anak kita.

Kedua, bisa juga mengikutsertakan anak dalam berbagai lomba yang sesuai usianya. Tidak perlu anak harus menang. Tidak. Anak hanya perlu pengalaman untuk bertanding dan mengasah kepercayaan dirinya.

Ketiga, semangati anak untuk mencoba. Katakan padanya bahwa mencoba itu lebih penting daripada sekadar menjadi juara. “Tidak apa-apa, besok kita coba lagi,” begitu.

Keempat, biarkan anak berusaha sendiri. Jangan selalu dibantu. Jangan jadi superhero yang selalu ada buat anak.

Ingat, kita tidak akan ada selamanya untuk anak-anak kita. Kelak mereka akan dewasa dan menghadapi hidupnya sendiri. Jangan dikit-dikit dibantu, dikit-dikit dibantu.

Kelima, hargai usaha anak. Jangan pernah melabeli dan menyalahkan anak. Mungkin suatu saat anak berbuat salah, kita sebagai orang tua wajib membenarkan. Tapi harus dipahami bahwa ada perbedaan sangat besar antara “menyalahkan” dan “membenarkan.”

Keenam, tidak menghina dan merendahkan hasil dari upaya anak. Kalau anak TK gambarnya masih jelek, ya wajar. Lha wong, kita sendiri saja bisa jadi kalau gambar masih acak-acakan. Ajarkan pada anak untuk melakukan sesuatu dengan benar, tapi jangan pernah menghina dan merendahkan hasil karya anak.

Tentu mengasuh anak tidak segampang berteori. Ya, saya tahu.

Bahkan kalau dipikir-pikir kembali, mungkin orang tua kita dahulu mendidik kita juga tidak begini-begini amat. Ya kan? Tidak rumit-rumit amat. Dan kita melalui waktu hingga saat ini dalam kondisi saat ini.

Tapi anak-anak kita kelak akan menghadapi “dunia” yang berbeda dengan kita dahulu. Dunia yang entah seperti apa.

Dulu orang tua kita tidak menyiapkan kita untuk menghadapi dunia digital. Dunia yang terhubung dengen internet. Sesuatu yang tidak pernah kita dapatkan dahulu, karena saat ini anak-anak usia satu tahun pun sudah bisa ngomong “youtube..youtube..youtube…”

Maka pengasuhan anak bukanlah garis finish, ia adalah garis start yang memang tidak ada finishnya. Mungkin finishnya adalah saat kita telah tiada, dan apa yang akan kita tinggalkan pada anak-anak kita?

Ingat pesan dari Frederick Douglass, “It is easier to build strong children than to repair broken men.”

Comments

Close Menu