Kalimat Ajaib Untuk Anak yang Berdampak Besar Pada Tumbuh Kembangnya

Kalimat Ajaib Untuk Anak yang Berdampak Besar Pada Tumbuh Kembangnya

Begitu banyak waktu yang saya habiskan bersama anak. Walaupun usinya masih satu setengah tahun, namun sejak ia lahir saya sudah bersamanya.

Dua puluh empat jam sehari, dan tujuh hari seminggu.

Sudah ada banyak perkataan yang saya ucapkan padanya. 

“Sini, Nak.. makan dulu,” itu yang saya katakan saat waktu makan tiba. “Waktunya mandi.. Ayook, kita maen sama bebek,” kata-kata itu untuk mengajak anak mandi.

“Ssttt… Gak boleh makan ini ya,” kata saya padanya kalau anak saya mau makan mainannya. Hehehe..

Anak memang belum bisa mengerti sepenuhnya arti perkataan kita. Misalnya saja anak usia 4 bulan. Banyak ayah ibu yang bilang padanya, “Anakku yang cantik..” tapi usia 4 bulan hanya mampu merespon gerakan.

Bayi belum mengerti arti kata. Ia tersenyum dan ketawa bukan karena mendengar kata-kata orang tuanya, tapi mungkin karena melihat wajah ayah ibunya yang lucu.

Tapi saat anak berusia 3- 6 tahun, ketrampilan bahasanya meningkat pesat. Ia bisa mendengarkan ungkapan sederhana yang bermakna. Setiap perkataan yang ia dengar akan membentuk perkembangan konsep dirinya. Harga diri positif.

Inilah kenapa banyak yang bilang jangan membentak anak yang usianya masih balita. Karena hal itu tak baik buat perkembangan diri anak.

Bunda, setelah saya coba baca-baca di berbagai literatur, apabila anak sudah masuk usia 3 tahun cobalah katakan kalimat ini pada anak.

Pertama, “Aku mencintaimu, Nak…”

Sudahkah kita sebagai orang tua mengucapkannya? Cinta adalah sebuah perasaan yang lebih banyak membutuhkan kata. Bayangkan saja deh, saat Bunda masih awal-awal mesra dengan suami, berapa banyak suami mengucapkan kata-kata cinta itu? Tak terhitung bukan.

Sama dengan anak. Anak juga perlu mendengar ibunya berkata bahwa ia mencintainya. Saya kutip dari literatur ya, bahwa “kebutuhan cinta dan anak merasa dicintai, memerlukan totalitas dari orang tua. Ungkapan ini bukan sekedar ekspresi bahasa, ia hadir dan dirasakan anak dalam pola asuh yang membahagiakan. Atmosfer keluarga menjadi segar, sehat, dan menumbuhkan. Anak yang merasa dicintai merasa dirinya berharga. Perasaan ini mendorong mereka berani menaklukkan tantangan, siap mengemban tanggung jawab, rela mencintai sesama.”

Kedua, “Ibu bangga padamu, Nak..”

Salah satu “penyakit” yang harus dijauhi oleh orang tua adalah: suka membanding-bandingkan anak. Setelah membandingkan ini, orang tua cenderung menganggap rendah anaknya sendiri. Padahal mungkin saja anak sudah melakukan banyak hal untuknya.

Orang tua yang dijangkiti sindrom “kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.” Gejala perilaku orang tua yang rajin mendaftar kekurangan anak. Seolah tiada kebaikan dan potensi sedikitpun dimiliki anak.

Maka, seperti yang tertulis dalam media parenting bahwa, “Ibu bangga kepadamu, Nak,” tidak selalu bergantung pada prestasi besar. Mari membuka mata. Bagi saya anak usia tiga tahun punya inisiatif belajar melipat sarung dengan rapi sungguh anak hebat. “Alhamdulillah. Ibu bangga kepadamu, Nak.”

Ketiga, “Ibu yang salah. Ibu minta maaf ya, Nak…”

Kadang sebagai orang tua sangat gengsi banget meminta maaf pada anak. Padahal sudah jelas bahwa yang salah bukan anak. Rasa gengsi inilah yang menghalangi orang tua untuk meminta maaf.

Padahal orang tua meminta maaf pada anak tidak akan membuat harga diri orang tua menjadi jatuh. Tidak ada yang dirugikan oleh permintaan maaf kita kepada anak, yang mendasar adalah anak belajar meminta maaf dengan cara kita meminta maaf kesalahan kita kepadanya.

Keempat, “Ibu, memaafkanmu…”

Anak salah, wajar. Namanya usianya masih balita. Anak keliru, wajar. Semua orang juga begitu. Tak ada manusia sempurna bukan? Bahkan kita sebagai orang tua saja pernah melakukan sebuah kesalahan.

Maka memaafkan anak yang berbuat salah adalah perkataan yang wajib kita ucapkan pada anak. Dan ini harus diucapkan, agar anak lega hatinya. Ia sadar bahwa ia keliru, namun kekeliruan itu sudah mendapatkan pemaafan dari orang tua.

Kelima, “Ibu mendengarmu, Nak…”

Saat anak belum bisa bicara, kita sebagai orang tua sibuk mengajarinya bicara. Berbagai nyanyian dan nama-nama benda kita sebutkan padanya. Agar ia lancar dan fasih bicara.

Namun saat anak sudah lancar bicara, sudah sering bertanya ini itu. Bahkan terlalu sering, orang tua malah menyuruh anak untuk diam. Duh…

Di sisi lain, saat anak berbuat salah. Ia ingin bicara tentang apa yang sebenarnya terjadi, ia ingin dipahami, tapi tak banyak orang tua yang mau mendengarnya. Tak banyak orang tua yang mampu menjadi pendengar yang baik, kebanyakan orang tua hanya ingin di dengarkan.

Begitulah Bunda..

Ternyata kata-kata tak hanya sekadar kata. Tapi ia punya makna yang berdampak. Ia punya kekuatan untuk menggerakkan, menghidupkan atau mematikan. Tergantung pilihan kita sebagai orang tua; apakah ingin menggunakan kata-kata untuk menghidupkan hati anak atau mematikannya?

Nah, bila bunda ingin tahu juga tips mudah untuk menjadikan anak cerdas, bunda bisa baca juga tipsnya disini ya Bunda.. 13 Tips Mudah Jadikan Anak Cerdas

Happy parenting yaa… ^_^

.

.

.

Oleh: Rini Kusuma, Asal Jogja.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu