Ayah, Kapan Kita Makan Bareng Lagi?

Ayah, Kapan Kita Makan Bareng Lagi?

“Nanti ayah pulangnya jam sepuluh malam, ya Bund..”

Saya melihat pesan singkat dari suami saat jam sudah menunjukkan pukul delapan. Saat itu saya duduk di sofa ruang keluarga. Sambil menonton, atau tepatnya ditonton, karena saya tak memperhatikan televisi yang menyiarkan berulang-ulang gosip politik.

Bila suami saya berkata bahwa ia akan pulang malam, maka ia pasti sudah makan malam. Mungkin bersama teman-temannya di rumah makan. Sambil nongkrong. Kebiasaannya sejak muda.

Padahal saya sudah memasak makanan kesukaan suami. Ada cak kangkung, tempe goreng, dan ayam goreng spesial. Yang resepnya saya warisi dari ibu mertua.

“Ayam goreng resep ini dimakan anak saya sejak kecil. Makanan kesukaanya. Kini kamu yang harus menghidangkannya padanya ya, Nduk” itu kata ibu mertua saya saat pertama kali mengajarkan memasak resep itu pada saya.

Makanan itu kini hanya terhidang di meja makan. Sudah dingin.

Saya menatapnya dengan perasaan yang susah dijelaskan. Antara sedih atau sayang tidak termakan atau kecewa.

Bayangan saya, hari ini kami makan bersama beritga; saya, suami dan anak saya yang masih berusia tiga tahun. Makan bersama memang kebiasaan yang ingin kami berdua bangun sejak dulu. Sejak menikah.

Saya belum makan. Inginnya menunggu suami pulang. Namun si kecil, anak saya yang berusia tiga tahun, sudah makan sejak jam setengah tujuh. Ia harus makan sesuai jadwal, agar jadi kebiasaan baik untuknya.

“Ayah, puyang jam belapa..?” tanya anak saya saat saya menyiapkan makannya.

“Nanti, sebentar lagi,”

“Ayah ikut maem gak..?”

“Iyaa, adek maem dulu sekarang gak apa-apa kok. Maem yang banyak yaa…”

Alhamdulillah, si kecil saat ini makannya lahap. Dulu ia termasuk anak yang susah makan. Lalu saya berikan nutrisi penambah nafsu makan anak, dan si kecil makannya jadi lahap. Tubuhnya lebih berisi saat ini. Silahkan baca saja lebih lanjut tentang nutrisi anak lahap makan itu disini. Cara Agar Anak Lahap Makan

Kalau banyak orang mengatakan makan tidak boleh sambil bicara, namun kami berbeda. Saat makan bersama, kami bisa ngobrol apa saja. Makan membuat komunikasi antara saya, suami dan anak menjadi lebih baik.

Percakapan saat makan itulah yang menurut saya bisa menjalin ikatan yang lebih kuat antar keluarga. Selain itu, saya dan suami bisa mengajarkan berbagai hal pada anak saat makan. Kami bisa mengajarkan pada anak sopan santun, saling bercerita tentang perkembangan anak, dan banyak lainnya.

Kebiasan ini memang bagus untuk keluarga. Dan sebisa mungkin kami pertahankan. Namun beberapa waktu terakhir, suami lebih banyak pulang malam.

Saya lihat lagi pesan suami saya. Belum saya balas. Bingung.

Ingin sekali memberitahunya bahwa saya sudah capek-capek memasak untuknya. Namun urung saya lakukan. Hanya akan membuatnya merasa bersalah.

“Lagi dimana emang sekarang?” kalimat itulah yang kemudian terketik di layar hape.

“Di resto. Sama teman-teman bicarakan bisnis.”

Nah, seperti dugaan saya. Di resto. Tidak ada orang yang pergi ke resto tanpa pernah memesan makanan.

Saya menghela nafas.

“Ya, sudahlah. Daripada menuggu, mungkin lebih saya makan sekarang.” Lalu saya berdiri. Mengambil piring. Mengambil makanan di meja makan. Lalu kembali lagi duduk di sofa.

Makan sambil melihat televisi. Bosan dengan gosip politik, saya pindah channel. Isinya sinetron. Pindah lagi, isinya kompetisi nyanyi yang gak bermutu. Pindah lagi, isinya lawakan yang tidak lucu. Orang tertawa karena disuruh tertawa, bukan tertawa karena ada yang lucu.

Akhirnya saya berhenti di channel yang liputan tentang olimpiade.

Padahal sewaktu makan bersama bersama keluarga, kami akan mematikan televisi. Meletakkan gadget di tempat yang jauh. Di meja makan hanya ada saya, suami, anak dan makanan. Serta obrolan yang hangat. Tidak boleh terganggu televisi dan suara notifikasi hape.

Makan bersama adalah waktu berharga. Ia tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi semata, tapi adalah waktu yang penuh makna.

Saat ini mungkin banyak yang mengabaikannya. Padahal dari jaman dahulu kala, jaman leluhur, makan bersama sambil lesehan adalah kebiasaan yang wajib ada di keluarga.

Ia adalah waktu dimana ada rasa bahagia antara istri, suami dan anak. Anak akan merasakan bahwa ada nuansa harmonis antara ayah dan ibunya. Dan secara langsung anak akan merasa lebih bahagia.

Maka makan bersama bukan soal makanannya, tapi pada soal kebersamaannya. Mungkin makanan di restoran bisa lebih enak, atau malah lebih enak masakan saya. Tapi ini bukan soal makanan, ini soal cinta. Dan ini yang pelan-pelan saya rasakan mulai luntur.

Selesai makan, saya ambil secarik kertas dan pulpen. Setelah mencuci piring dan gelas kotor saya menulis di atas kertas itu. Lalu saya taruh di atas meja makan. Berharap suami saya membacanya dan tersadar.

“Ayah, kapan kita makan bareng lagi?”

.

.

.

.

Ditulis oleh Rini Kusuma, asal Jogja. Terinspirasi dari kisah nyata.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu