Kecurangan Keuangan Suami pada Istri Sama Halnya dengan Perselingkuhan

Kecurangan Keuangan Suami pada Istri Sama Halnya dengan Perselingkuhan

Saya sebenarnya bukan tipikal istri yang materialistik, bukan pula tipikal orang yang mudah marah ketika suami tidak memberikan duit, saya justru bisa bersikap sangat biasa ketika sedang tidak ada uang. Dalam rumah tangga hal itu pasti sudah biasa terjadi, dan banyak bunda yang sudah tahu tentang ini. Tapi ada hal yang saya paling tidak suka, yakni jika suami tidak terbuka tentang masalah keuangan keluarga.

Bagi saya, kecurangan suami dalam hal mengatur keuangan keluarga sama halnya dengan perselingkuhan. Sama sakitnya, sama resahnya, sama sedihnya, sama galaunya, dan sama-sama dengan hal lainnya. Pokoknya rasa sakitnya tuh di sini !! Kebayang tidak si jika suami menikung? Apalagi sampai menguras saku dalam suami. Pasti susah dilupakan.

Sebab itu saya menyarankan dalam rumah tangga untuk menghindari dua hal, satu tentang perselingkuhan dan kedua tidak boleh tertutup tentang keuangan.

Keuangan dalam rumah tangga adalah perihal yang sangat urgen. Wajib hukumnya diatur dan dimanajem dengan baik. Jika tidak, bunda tinnggal tunggu saja kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terjadi di dalam rumah tangga. Misalnya saja tiba-tiba anak tidak bisa beli susu, menu masakan rumah tangga akan berubah, seperti yang seharusnya sayur dan daging di pagi hari berganti tempe goreng dan sambel terasi.

Saya pernah mengalaminya dalam rumah tangga,bisa dihitung lebih dari tiga kali. Hal yang sering sekali terjadi di saat sebelum saya punya anak, selebihnya sesudah kelahiran anak pertama saya, Satria. Penyebab utama keuangan yang tidak terkontrol dan keuangan rumah dari suami tidak jelas ke mana perginya. Faktanya karena saya jarang sekali menikmati gaji suami setiap bulan.  Ketika ditanya apakah ada tabungan, ia bilang tidak ada.

“Wah gawat pastinya,” pikir saya ketika suami menjelaskan, katanya sih buat kepentingan keluarga tapi tidak ada barang yang bertambah. Yang paling nyata bisa saya lihat adalah menipisnya stok susu Vitamilku di laci lemari dapur buat Satria.

Anehnya lagi. Urusan belanja bulanan, dari belanja parfum, lipstik, baju baru satria, dan kebutuhan kecil lainnya, tidak pernah meminta sama suami. Boro-boro ditawarin, “Ini ma belanja bulanannya.” Atau menyuruh saya untuk mengirit sebagai ibu rumah tangga. Tapi justru ketika saya minta untuk kebutuhan keluarga ia bilang sudah habis.

Pikiran saya sudah mulai aneh “Jangan-jangan…, jangan-jangan… dan jangan-jangan lainnya”. Kondisi pikiran saya sebagai ibu rumah tangga mulai memanas. Tahu sendiri kan bun ketika ibu rumah tangga mulai gelisah, tidak tenang, tidak nyaman, pasti rumah tangga akan berantakan.

Anak tidak terurus, pekerjaan rumah tangga juga bisa ditinggalkan. Bahayanya lagi jika ibu rumah tangga lagi marah dan galau tingkat dewa, pasti itu merupakan petanda jika di dalam rumah tangga akan mendapatkan petaka besar yang akan menimpa keluarga tersebut.

Hal itu saya alami. Ini harus diatasi. Memberikan kebiasaan pada suami untuk mengatur keuangan rumah tangga tanpa dikontrol dan tidak jelas hasilnya. Maka itu sakitnya serasa jadi dua, dicampakkan, dan tidak diperhatikan.  Dan pertanyaan yang bisa muncul di benak adalah Apakah suami mulai bosan?

Apalagi kita hidup di situsasi Jaman Now, semua keuangan harus lebih transparan dan terbuka pada semua pengeluaran. Kenapa demikian, jika tidak maka yang terjadi adalah kerusakan rumah tangga yang berkepanjangan.

Akibatnya yang paling fatal, ketika keuangan tidak transparan di dalam rumah tangga karena suami tanpa banyak perhitungan, maka yang pasti akan menggangu proses tumbuh kembang anak.

Walaupun pada dasarnya saya bukan tipikal orang yang pemalas, dan tidak bisa mandiri jika hanya mengurus anak. Tapi persoalannya adalah hidup dalam satu atap rumah tangga yang harus rukun dan saling mencintai.

Comments

Close Menu