Kehadiran Sang Buah Hati Bikin Rumah Tanggaku Semakin Kokoh

Kehadiran Sang Buah Hati Bikin Rumah Tanggaku Semakin Kokoh

Membangun hubungan rumah tangga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tidak semudah janji-janji manis yang dulu pernah kita ucapkan sebagai pasangan. Satu bulan, dua bulan terasa masih nyaman, tapi ketika masuk usia enam bulan janji manis sedikit demi sedikit mulai tergoyahkan seiring berjalannya waktu.

Banyak hubungan rumah tangga memasuki 5 tahun pernikahan sudah mulai rapuh, mulai dari cemburu karena suami kembali kepoin mantan, atau sudah mulai merasa bosan, belum diberikan keturunan, dan beberapa alasan lainnya. Semua bisa saja terjadi, dan jika iya jangan sampai hubungan sirna hanya dalam hitungan jari.

Saya pun mengalami sendiri bagaimana hubungan dengan suami jatuh bangun meskipun kami adalah pasangan yang telah lama berpacaran sebelum menikah. Tapi di rumah kami masih saja diterpa banyak badai yang dahsyat yang kadang kerap membuat saya pesimis menghadapinya.

‘Pacaran lama saya pikir tak menjamin hidup bisa bahagia.’

Waktu memang berjalan senyap tanpa sebab, tiba-tiba ada saja masalah rumah tangga, terutama persoalan finansial. Tak jarang saya bertengkar sampai histeris sampai tetangga sebelah kadang menyambangi saya.

“Ada apa mbak Kurnia?” tanya Mbak Ratri, tetangga sebelah. Terkadang aku malu sendiri dengan banyak tetangga, hampir dibilang setiap hari kami membuat ribut.

Saya bertengkar adalah suatu hal yang wajar sekali, Sebagai istri tentunya ingin selalu tampil menarik di depan suami, dan ketika diajak jalan setidaknya tidak mengecewakan. Tapi suami saya sungguh pelitnya minta ampun hingga terkadang berujung pada tidur misah di beda kamar.

Kian hari kian sulit, hubungan kami bak batu yang retak, walaupun kami menyadari masing-masing di antara kita masih saling mencintai. Cuma, Suami mengedepankan logika tematik, serba terhitung dan terbatas jika persoalan uang. Tapi saya, lebih mengutamakan kenyamanan dan perasaan takut jika suami melirik perempuan lain yang lebih terawat.

“Jika kita setiap hari kayak gini, ibaratnya menggonggong seperti anjing, tidak pernah adem, lebih baik kita cerai aja Ma,” kata suamiku suatu waktu.

“Mama marah kan minta haknya sebagai istri yang harus dipenuhi seorang suami, dan itu tidak ada larangan dalam hukum negara maupun agama, tapi kita kan tidak mau hidup sehari saja, kita akan hidup sampai usia tua, papa juga punya hak untuk bicara masa depan keluarga,” lanjutnya.

“Tapi juga tidak pelit-pelit amat kali pa,” balas saya.

“Jika mama tidak bisa diajak bicara baik-baik mending kita tidak usah bersatu lagi, kepala papa terasa pecah seperti ditimpali batu bara. Masak tiap hari sehabis kerja papa diomelin karena ini dan itu terus,” katanya dengan suara makin meninggi.

Perkataan suamiku yang seringkali minta cerai, membuat saya takut juga. Akhirnya sayapun menyerah. Yang biasanya tidak pernah masak buatnya, seketika saya jadi baik padanya. Saya akhirnya memanjakan dia. Saya terharu dan tambah sayang padanya.

Ada dua alasan yang sangat membuat aku tak mau berpisah dengan suamiku, bukan karena kumisnya yang tebal dan menggoda, tapi dia sungguh sangat perhatian padaku di saat aku sakit, dia selalu di sampingku memegang erat tanganku.

Setelah aku tahu penyebab dari berapa hari ini aku tidak enak badan, dan sering mual-mual karena ternyata saya telat bulan setelah saya tes urine dari dokter.

“Mas Imam!!!” teriak saya.

“Iya Ma, kenapa teriak-teriak gitu?” tanyanya.

“Aku Hamil Mas, sudah dua bulan ternyata,….aku hamil muda.” balas saya lagi.

“Serius Ma?” tanya suami saya lagi

“Iya…ini buktinya…” kata saya lagi sembari menunjukkan test pack kepadanya.

Betapa suami saya kegirangan minta ampun, memeluk mesra dan mencium kening saya tanda cinta. Baru kali ini juga saya menyadarinya, betapa ia juga tak kalah sayangnya dari saya. Selama ini saya melewati waktu yang sia-sia, mengedepankan rasa egois yang berlebihan sehingga membuat rumah terasa tidak nyaman sebab pertikaian yang tak wajar.

Kedua, di usia kandungan yang kesembilan bulan tujuh belas hari, akhirnya anak saya lahir dengan muka manis dan imut, mirip ayahnya. Ia juga mempunyai pandangan mata yang tajam penuh kebahagian seperti ayahnya ketika pertama kali menatap saya di persimpangan jalan kampus.

Dengan lahirnya anak kami, Ali Kurniawan, semakin membuat hubungan keluarga semakin kuat dan rapat seperti akar, sebab kami percaya disitulah kami mulai dewasa sebagai seorang ibu dan ayah. Boleh dikatakan ini semua berkat suami yang hebat.

Comments

Close Menu