Kematian Anak dan Penyesalan Seorang Ibu

0
243
sedy
Ilustrasi

Saya seorang ibu yang memiliki penyesalan mendalam. Semua penyesalan, Bunda, dan tak dapat ditebus dengan apapun. Penyesalan hanya menyisakan perasaan hampa yang tak akan pernah bisa diisi kembali. Semua sudah berlalu dan saya hanya bisa berbagi hikmahnya pada orang lain. Ini tentang kematian anak saya.

Sebenarnya, berat sekali menuliskan kisah ini. Ingatan tentang anak saya berkelebat membuat kesedihan kembali muncul. Tapi tak apa, saya akan lebih sedih jika mendengar kasus yang sama menimpa anak Bunda sekalian.

Anak saya itu, meninggal sebab overdosis narkoba. Ceritanya panjang dan akan saya singkat sebisa mungkin.

Anak saya, Beni, adalah seorang remaja usia 18 tahun. Itu usia terakhir sebelum ia meninggal. Terlalu cepat memang. Tapi begitulah jalan takdir memisahkan saya dengan dirinya. Saya tak pernah menduga bahwa akhirnya Beni akan kecanduan obat terlarang itu setelah kematian tantenya.

Bukan sebab apa-apa, Beni sangat dekat dengan tantenya seperti anak dengan ibu sendiri. Itu karena sejak kecil, Beni diasuh tantenya lebih sering ketimbang oleh ibunya sendiri. Saya memang ibu yang buruk.

Tante Beni adalah adik perempuan saya. Seorang ibu rumah tangga yang tak memiliki anak. Mungkin karena belum dikaruniai anak, dia menganggap Beni sebagai anak sendiri.

Sejak bayi saya menitipkan Beni kepada adik saya itu. Sementara saya bekerja di kantor perusahaan dari pagi sampai sore hari. Saya tak merasa bersalah kala itu sebab menjadi wanita karir adalah pilihan yang saya ambil.

Saya merasa tak bisa hidup tenang jika hanya berada di rumah dan menjadi ibu rumah tangga.

Seiring waktu, ikatan Beni dengan tantenya lebih kuat ketimbang dengan ibu kandung sendiri. Beni kecil sering merajuk pada tante meminta disuapi dan ditemani bermain. Ia selalu tertawa tiap kali bersama tantenya, berbeda jauh sewaktu bareng saya.

Saya memang amat sibuk dan jarang sekali bersama Beni. Pulang sore usai bekerja sudah membuat saya sangat capek dan lebih suka beristirahat. Tidak ada waktu bareng Beni kecil. Sekali bersama, darah daging saya sendiri tampak tak peduli.

Pernah suatu kali saya gendong dia dan ia memberontak minta diturunkan. Saya heran dengan sikapnya tapi kemudian lupa lagi sebab sibuk.

Bertahun-tahun saya mengabaikan Beni, sampai suatu ketika adik saya sakit keras dan akhirnya meninggal. Tentu saya sedih dengan kematian adik saya tercinta. Seorang ibu rumah tangga yang sampai ujung usianya tidak memiliki anak. Dia perempuan yang hebat, saya tahu itu.

Kesedihan berlalu dan saya kembali sibuk bekerja. Tanpa sadar, Beni sekarang jarang di rumah entah kemana.

Sepertinya dia sangat terpukul dengan kematian adik saya. Ibunya ini tak bisa jadi sosok pengganti yang baik. Sekali lagi, saya tak terlalu ambil pusing sebab Beni sudah remaja dan bisa mengurus dirinya sendiri.

Sampai di suatu siang tiga bulan sejak kematian adik saya, ada telepon masuk dari rumah sakit. Perawat bilang kalau anak saya sedang di rumah sakit sebab overdosis. Saya terkejut. Menundukkan kepala sebab tak menyangka sudah separah ini Beni. Dia kecanduan narkoba dan overdosis.

Seketika itu saya langsung menuju rumah sakit tempat Beni dirawat. Pertolongan sudah diberikan. Tapi keadaannya amat lemah dan dokter hanya bilang berusaha sekuat tenaga.

Malang tak dapat ditolak, malam harinya Beni tak sanggup lagi menahan sakit yang ia rasakan. Nyawanya diambil sang Pencipta dan akhirnya tangis saya pecah. Setelah berpuluh tahun jadi sosok wanita karir yang tangguh, akhirnya saya tak kuasa menahan air mata.

Anak yang saya abaikan selama belasan tahun meninggal mendahului ibunya sendiri. Memang saya bersalah mengabaikan dirinya. Tapi sejahat apapun seorang ibu, dia tetap mencintai anaknya.

Dan itu saya sadari setelah Beni tiada. Bodoh sekali memang. Bertahun-tahun saya hidup bersama Beni namun tak sekalipun memikirkannya. Justru, saya mengabaikan dirinya meski dia hanya anak satu-satunya.

Kini Beni sudah tiada, meninggal sebab kecanduan obat terlarang. Kesedihan yang dirasakan Beni akibat kematian adik saya berbuntut panjang. Dan semua itu salah ibunya. Salah saya sendiri.

Kesibukan dan pencapaian saya di kantor selama ini terasa hancur lebur dengan ketiadaan Beni. Percuma kau jadi pegawai nomor satu di kantor saat anak terjerumus ke dunia gelap itu. Sungguh, karir saya terasa tiada artinya lagi.

Tapi kesadaran ini datang begitu terlambat. Mungkin saya terlalu bebal hingga penyesalan ini baru datang saat Beni sudah tiada lagi di sisi saya.

Semoga Beni tenang di sisi-Nya. Saya mendoakan yang terbaik bagi anak satu-satunya itu. Untuk Bunda, jangan sampai hal seperti ini menimpa Anda. Tentu saja, pedulikan anak Anda selagi dia ada.

Perhatikan sebaik mungkin agar dia menyayangi ibunya sendiri.

 

 

*Seperti yang dikisahkan ibu Eti dari Malang*

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here