Kenapa Mama Tidak Pernah Mencium Bibirku?

0
589
Mother kissing daughter outdoors

Saya ibu yang tidak pernah melewatkan waktu untuk mencium Kalis anak pertama saya dengan mas Wisnu yang sekarang sudah berumur 7 tahun. Terhitung dari semenjak sebelum tidur, bangun tidur, sehabis mandi, sebelum makan, sebelum dan sepulang sekolah, bahkan ketika ia sedang sedih sekalipun, saya akan menyentuh serta mencium kening dan tangannya, kecuali bibirnya.

Suatu ketika  Kalis bertanya kepada saya perihal kenapa ibunya tidak pernah mencium bibirnya, ketika itu kalis sedang berada di ruang tengah, ayahnya di sampingnya sedang mengajari kalis melukis, lebih tepatnya menggambar.

Waktu itu saya habis dari luar, beli beras di warung sembako sebelah rumah. Ketika membuka pintu aku melihat Kalis sedang belajar bersama ayahnya dan aku langsung mencium kening dan ubun-ubunnya, tak lain agar kalis bisa lebih semangat belajarnya.

“Ma, kenapa sih mama sering banget cium Kalis, sementara papa jarang?” tanyanya.

“Karena mama sayang Kalis,” tuturku sembari meletakkan beras dan telur ke dalam lemari dapur.

“Berarti papa tidak sayang dong sama kalis,” Kalis kembali bertanya.

“Coba tanya sendiri dong sama Papa, he he…” pinta saya.

Entah apa yang sedang Kalis obrolkan dengan papanya saya langsung masuk kamar mandi karena kebelet buang air kecil, tapi suara di ruang tengah semakin gaduh.

Setelah saya keluar, Kalis langsung menyambut ibunya dengan pertanyaan yang selama ini tidak pernah terpikirkan bahwa kalis akan bertanya seperti itu. Tapi saya akui Kalis memang cerdas dan selalu bertanya ketika ada sesuatu yang ia tidak tahu.

“Ma…. kenapa mama tidak pernah cium bibir kalis, kata ayah ciuman kasih sayang itu selalu berawal di bibir dari orang yang disayang?”

“Hemm Ayah,” geram saya dalam hati.

“Sayang nanti kita bahas ya, sekarang belajar dulu sama ayah,” janji saya sama Kalis untuk menjelaskan kenapa tidak pernah mencium bibir Kalis, bukan karena tidak sayang padanya, tapi karena itulah cara saya mendidik dan merawatnya.

“Ma, bagus tidak gambar aku?” tiba-tiba ia lari dari ruang tengah ke kamar dalam, menyusul bapaknya dari belakang.

“Bagus sayang, ini gambar siapa?” tanya saya pada kalis sembari memujinya, karena saya yakin ia mewarisi bakat ayahnya sebagai sebagai seorang pelukis.

“ini gambar Ayah dan Mama, yang kecil ini Kalis,” ungkapnya “Wah bagus banget sayang,” puji saya.

“Kalis tidur bareng mama dan papa ya, sekalian cerita yang tadi,” ujarnya sambil tersenyum manja.

“Boleh…tapi nanti habis cerita langsung bobok ya,” pintaku

Akhirnya kami bertiga tidur seranjang setelah Kalis minum susu yang dicampur dengan madu kesukaannya serta menyikat gigi. Papanya di samping kiri, Kalis di tengah dan saya disamping kanan, sembari menepati permintaannya untuk menjelaskan kenapa mamanya tidak mencium bibirnya.

“Yang jelas sayang, bukan berarti mama benci Kalis dan tidak sayang sama Kalis, sebab Kalis adalah jantung hati mama. Tanpa Kalis hidup mama tidak berarti,” begitulah penuturanku sebagai pembuka kepada Kalis.

Saya menjelaskan dengan rinci pada Kalis, sekaligus pembelajaran buat ayahnya, jika mencium bibir bukan tanda tidak sayang, tapi itu juga sebenarnya dilarang oleh Agama. Bahkan secara medis sekalipun hal ini sangat dilarang, sebab bibir adalah sumber virus, apalagi samapai menyentuh bibir anak, ia akan rentan penyakitan.

“Seperti gangguan pernafasan, flu, asma dan batuk-batuk,” tegasku.

“Sebab itu sayang, mama tidak mencium bibir Kalis, karena mama tahu yang terbaik buat anaknya,” tuturku.

Saya juga menjelaskan bagian tubuh mana saja yang bisa dicium sekaligus manfaatnya pada perkembangan anak:

Pertama, adalah ubun-ubun. Karena dengan mencium ubun-ubunnya itu menunjukkan kebanggaan orangtua pada anaknya, sembari mendoakan agar anaknya menjadi orang baik, berbakti pada orangtua dan orang lain.

Kedua, Kening. Ciuman kening pada anak bisa menunjukkan jika orangtua memberikan restu pada setiap tindakan anak, supaya ia bisa menjadi orang yang sukses dan memberikan manfaat pada orang lain atas tindakannya.

Ketiga, kedua pipinya. Ini merupakan tanda jika orangtua sedang merindukan anaknya, merasa tidak ingin jauh maupun berpisah lama.

Dan yang terakhir, memegang tangan anak sembari mengelus ubun-ubun kepalanya, itu pertanda jika orangtua tak mau anaknya bersedih, menangis sekeras-kerasnya.  Dengan memegang tangan dan mencium ubun-ubun di kepalanya itu pertanda jika orangtua peduli pada anaknya.

“Oh, jadi begitu ya ma? Kalis pengen jadi seperti mama,” katanya

“Emang kenapa harus seperti mama sayang?” tanyaku padanya.

“Sebab mama sayang sama Kalis dan Papa,” mendengar ucapannya saya pun menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Kalis mulai terlelap, aku tutup badannya dengan selimut dan mencium keningnya.

“Selamat bobok sayang,”  pungkas saya sambil mendoakan agar Kalis bisa menjadi orang yang selalu tumbuh sehat dan selamat, terutama terbebas dari segala macam virus dan penyakit.

*Seperti diceritakan seorang ibu rumah tangga bernama Enny kepada tim Tutur Mama

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here