Kenapa Sih Kalian Harus Pada Bercerai?

Kenapa Sih Kalian Harus Pada Bercerai?

Sepanjang tahun ini, sudah ada 2.231 kasus perceraian di Bekasi. Jumlah yang banyak banget ya Bunda. Bayangin deh, pasangan sebanyak itu pada membubarkan rumah tangga mereka. Mana 1.862 kasus cerai disebabkan perselingkuhan lagi. Sedih banget. Kenapa sih mereka enggak bisa mempertahankan pernikahan itu? Kenapa mesti ada pasangan suami istri yang harus selingkuh?

Katanya, faktor perselingkuhan itu karena sembarangan main medsos. Bayangin aja, pada main medsos buat nyari ‘pria/wanita idaman lain’. Kan bahaya banget. Bisa berantakan ini negara gara-gara banyaknya pasangan yang cerai setiap hari.

Satu pasangan yang bercerai di Sulawesi mengaku kalau suaminya ketagihan main medsos seharian. Awalnya kenalan sama orang lain, keterusan sampai akrab dan merasa nyaman. Terjadilah perselingkuhan yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Si istri baru mengetahui tingkah suaminya dua bulan sejak perselingkuhan dimulai. Parah banget, kan suaminya itu. Enggak punya tanggung jawab sama istri sendiri dan anak-anaknya. Malah ditinggal buat melakukan tindakan tercela bersama wanita lain.

Kalau diselingkuhin kayak gitu, istri memang harus marah. Enak aja suami seenaknya selingkuh. Tindakan biadab. Tidak layak dipertahankan. Perselingkuhan ini jadi motif kebanyakan pasangan yang cerai.

Kenapa sih, sampai ratusan ribu pasangan cerai setiap tahun. Separah itukah orang-orang saat ini? Sudah ngadain akad dan resepsi yang mahal, eh, malah diakhiri sendiri di meja hijau. Seburuk itukah kualitas pernikahan orang-orang hari ini?

Fenomena perselingkuhan lewat media sosial seperti pasangan di Sulawesi itu musti dilihat sebagai tanda darurat perceraian di Indonesia. Ini bencana nasional yang akan menghancurkan ratusan ribu rumah tangga di setiap tahun.

Ini baru kehancuran pasangan, masih banyak korban lain selain suami dan istri. Jelas ada anak-anak yang ditinggalkan. Padahal umumnya pasangan yang cerai itu masih muda, usia 30 sampai 40. Lah di usia segitu anak-anak masih kecil-kecil, butuh peran kedua orangtua.

Semisal pisah, pasti banyak banget kerepotan yang terjadi.

Terdapat kisah perpisahan suami istri di Bekasi. Istrinya seorang pelukis sukses, suaminya pekerja kantoran. Setelah pisah, istrinya pergi meninggalkan suami dan membawa anaknya. Ia pindah kota ke Jogakarta. Suaminya menikah lagi sementara ia tetap sendiri.

Bagaimanapun Si istri adalah ibu baik yang mau mengasuh anaknya dengan baik. Saat anaknya ingin bertemu ayahnya, Ia antarkan anaknya ke Bekasi. Hampir setiap bulan ia melakukan hal demikian. Tidak lain karena ingin membahagiakan anak semata wayangnya.

Tak ayal, perjalanan ke Bekasi membawa ingatan lama di masa keluarganya utuh. Tentu saja ada penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Soal rujuk kembali, tentu saja hal itu tidak mudah. Tak semudah komentar netizen.

Itu satu kisah yang terjadi. Ratusan ribu pasangan lain lebih menderita lagi. Lebih banyak pasangan yang bercerai karena tekanan ekonomi. Sulitnya memenuhi kebutuhan keluarga jadi salah satu motif mengapa orang-orang bercerai.

Yuly, seorang pegawai di Madiun, mengaku tak tahan dengan kesulitan ekonomi di keluarga kecilnya. Tujuh tahun berlalu sejak pernikahannya, tapi ekonomi keluarga tak kunjung membaik. Dia atau suaminya kerap bertengkar karena masalah keuangan. Keduanya merasa sudah bekerja keras dan berhak menggunakan uang hasil keluarga untuk memenuhi kebutuhan pribadi.

Pertengkaran, Kau tahu, selalu menyisakan goresan luka di hati. Membekas dan tidak bisa dilupakan sampai kapan pun.

Yuli kemudian bercerai dari suaminya dan hingga kini hidup sendiri. Di desanya saat ini, Ia dipanggil janda oleh tetangga-tetangganya. Ada rasa sedih di hati kala mengetahui tetangga tengah membicarakan status jandanya. Itu terdengar seperti ejekan baginya, menyakitkan.

Setelah bercerai, tidak ada yang tersisa dari rumah tangga kecuali kesepian dan kesedihan. Kalaulah ada kebahagiaan, hanya datang dari anak kecil yang tengah tumbuh. Sesekali, Seniman tadi merasa sedih saat anaknya bertanya “Ayah di mana?”

Memang enggak mudah mempertahankan rumah tangga, tapi bukan berarti enggak mungkin. Semua bisa kok menjaga rumah tangga sampai akhir.

Saya melihat usaha itu di teman saya. Seorang teman kuliah yang saat ini tinggal jauh di Sumatera. Awalnya di tinggal satu kota dengan saya di Jogja. Lalu dia pergi bersama suami setelah dipinang. Jauh sekali, jadi jarang ketemu.

Sudah lima tahun dia di sana dan jarang sekali pulang. Sekali waktu dia pulang ke Jogja dan mengajak saya bertemu di sebuah café. Kami bertukar cerita dan pengalaman hidup masing-masing. Sampai pada suatu tema serius, rumah tangganya. Dia bilang pernikahannya tak selalu bahagia, dia dan pasangannya saling menuntut satu sama lain.

Ia ingin begini, suaminya ingin begitu. Taka ada jalan tengah dan pertengkaran sering meledak dalam rumah mereka. Bagaimanapun, pertengkaran selalu mengikis rasa sayang di hati pasangan.

Tapi toh mereka melewati semua itu. Dia bilang, tiga tahun pertama adalah masa-masa yang sulit. Banyak pertengkaran dan usaha menyesuaikan. Pasangan, seromantis apa pun, selalu memiliki perbedaan-perbedaan kecil. Tidak ada pasangan yang sama betul dalam hobi dan keiginannya.

Pasangan awet adalah mereka yang berhasil menyesuaikan diri dengan pasangannya. Jadi, setelah tiga tahun, teman saya tadi mulai bisa menyesuaikan diri dan menjalani rumah tangga dengan tenang. Semuanya tentang pembelajaran dan kemauan untuk memahami pasangan.

Angka perceraian di Indonesia sangat tinggi. Bisa dibilang sedang darurat. Baik sekali kalau kita mampu ikut mengurangi permasalahan demikian dalam masyarakat. Rumah tangga dibentuk dengan janji dan koitmen. Membubarkan bangunan rumah tangga sangat tidak dianjurkan.

Sudah ya, jangan berantem lagi, Bunda, Pertahankan rumah tangga kalian, ya.

 

Tulisan Fifi Viola Agustina

 

 

 

 

Comments

Close Menu