Kiat yang Perlu Ibu Ketahui Agar Anak Tidak Rewel Saat Ditinggal Shalat

Kiat yang Perlu Ibu Ketahui Agar Anak Tidak Rewel Saat Ditinggal Shalat

Alkisah, ada sebuah seorang ibu muda yang hampir-hampir tidak bisa menjalankan kewajiban shalat 5 waktunya. Apa pasal? Setiap kali hendak mengerjakan shalat bayinya menjerit dan menangis kencang-kencang. Bayi yang tadinya anteng mainan sendiri, ketika sang bunda beranjak berdiri mengenakan mukena sontak ngamuk tak karuan.  Lalu sang ibu tidak tega, atau tidak menemukan cara, atau akhirnya milik tidak shalat aja. Hiks, sedih.

Kejadian lain, di awal shalat si bayi baik-baik saja. Namun, di tengah shalat dia menangis keras. Sang ibu tidak tega melihat bayinya meraung-raung, macam lagi disiksa itu. Jadilah dia memilih membatalkan shalatnya. Pernah mengalami kejadian ini, Moms? Semoga serempong apapun kita menjadi ibu muda, shalat tidak kita tinggalkan ya..

Di awal waktu setelah melahirkan, saya mulai memikirkan kejadian serupa. Saat itu bayi saya masih banyak nangis. Saya bilang ke suami dengan nada resah, “Nanti kalau aku mau shalat, gimana?”

“Ya nanti dedek ta’ jagain pas shalat,” jawabnya.

Nyatanya tidak setiap waktu, kan, suami bisa mendampingi kita. Ada kalanya suami mesti keluar rumah, kerja, dan sebagainya. Nah, di saat itu saya mulai berpikir bagaimana mensiasatinya.

Ketika bayi saya tidur saat menjelang shalat, saya usahakan belum adzan sudah wudhu. Jadi habis adzan langsung deh shalat. Saat itu saya sering ketar-ketir. Karena bayi ketika terbangun biasanya langsung menangis. Hihi shalatnya masih sambil mikirin bayi. Nggak papa deh, Alhamdulillah banyak kemudahan.

Ketika bayi tidak sedang tidur, saya cari momen yang tepat untuk mengajaknya shalat. Yup, ini salah satu cita-cita saya sejak hamil, mengajak bayi saya shalat di samping shaf. Dalam hal ini saya perlu teliti, apakah kondisi bayi benar-benar sudah nyaman; tidak mengantuk atau lapar, sudah ganti popok atau baju, dan yang tak kalah utama kondisi moodnya lagi baik. Karena akan berpengaruh saat kami shalat nanti.

Alhamdulillah selama ini juga banyak dimudahkan. Ada kalanya ia menangis. Ada kalanya narik-narik mukena saat saya sujud. Atau sekedar mengangkat-angkat tangan sambil aiueo aja. Saat ia mulai merengek atau menangis saya mesti menguat-nguatkan hati untuk tetap melanjutkan shalat.

Apalagi dalam agama kita, diajarkan juga cara mengajak anak untuk shalat dengan menggendongnya. Ada kalanya, saya harus rela menggendong Wahida yang hampir 8 kilo sambil shalat. Karena terkadang dia cuma pengen didekatkan dengan Mamanya.

Bagaimanapun, sebisa mungkin saya usahakan dia happy saat ikut shalat. Sebisa mungkin tidak merasa ‘gara-gara shalat’ merasa dijauhi Mamanya. Sebisa mungkin membuat moment shalat terasa menyenangkan baginya. Walaupun lebih menuntut banyak energi.

Beberapa hal yang ingin saya bagikan terkait pengalaman ini, semoga bisa diambil hikmahnya.

Pertama, mindset tentang kasih sayang. Berapa banyak dari kita yang cinta bongkokan sama anak. Pasti dong. Namanya juga anak. Apalagi anak pertama seperti saya. Atau bahkan pasangan yang bertahun-tahun menikah dan sangat mengharapkan punya momongan. Rasanya, anak digigit semut atau nyamuk aja pengen nge-bom tuh hewan! Paling tidak tega melihat anak nangis deh, pokoknya.

Dalam hal ini kita sebagai ibu perlu bertanya lagi ke dalam diri, siapa yang menganugerahi rasa kasih sayang? Siapa yang berkuasa menyematkan rasa itu di dalam hati kita? Siapa yang berhak sewaktu-waktu mencabutnya? Tentu Dzat yang memiliki rasa kasih sayang tak terhingga, sampai-sampai masih muat aja dibagikan ke seluruh makhluk di dunia.

Pernahkah terpikir jika sewaktu-waktu rasa cinta kita dicabut? Na’udzubillah.. Alangkah sedihnya jiwa tanpa rasa cinta.

Maka saya berusaha mensyukurinya salah satunya dengan mengajak anak untuk shalat, menyembah sang Maha Pengasih. Saya pikir betapa tidak bersyukurnya kita, yang malah tidak mencintai SATU-SATUNYA Dzat yang memberi perasaan itu, lalu berpaling lebih mencintai ciptaan-Nya.

Manajemen rasa cinta ini susah, ya Bu-Ibu. Saya juga masih belajar, sih. Sering saya soundingkan juga ke putri saya, “Wahida, Mama sayang Wahida. Bapak sayang Wahida. Allah lebih sayaaanggg Wahida.”

Kedua, pendidikan anak sejak dini. Rasa kasih sayang yang Allah bekalkan kepada kita sejatinya adalah modal utama untuk mendidik, bukan? Nah, bagaimana agar rasa kasih yang kita miliki tidak melulu sekadar ‘memberi apa yang anak kita minta’? Tidak melulu menuruti asal mereka suka dan bahagia? Ya. Sikap tegas dan tega.

Bayi perlu diajari siklus hidup, begitu kata mentor saya. Waktunya tidur ya tidur, waktunya makan ya makan, giliran shalat? Ya ayok kita shalat. Semoga tidak kalah, hanya gara-gara rasa tidak tega sang anak nangis membuat kita kehilangan moment menanamkan pondasi iman yang utama.

Saya pernah membaca bahwa anak perlu dibuat mengerti, ada waktu-waktu dimana orang tua punya wewenang untuk memaksa. Atau ada hal-hal yang tidak semua bisa dituruti walaupun menangis sejadi-jadinya. Anak perlu dibuat mengerti, bahwa kewajiban adalah tetap kewajiban. Tidak bisa digantikan.

Saat saya mulai rikuh mau shalat karena bayi lagi lengket-lengketnya, nggak bisa ditinggal, saya berpikir, “Berapa lama, sih, bayi itu kuat nangis? Paling shalat kita 5 menit, bukan? Masa’ tidak tega memberi kesempatan bayi menangis 5 menit aja? Kan biasanya malah ada ibu yang tega ngomelin bahkan nyubit anaknya yang sedikit rewel sampai nangis kejer-kejer juga?! Mana yang lebih sadis coba?” *Kenapa saya jadi sewot begini yak :/

Ketiga, lingkungan yang saling mendukung. Bayi saya jalan 7 bulan sekarang. Beberapa waktu lalu saat orang tua saya bertandang dari desa, tiap kali waktu shalat tiba Ibu saya menawarkan untuk momong Wahida dulu. “Sini ta’ ajake, kamu shalato.” Maksudnya baik, biar saya bisa shalat dengan tenang. Tapi saya menolak.

Saya memilih shalat aja bersama Wahida yang kadang narik-narik mukena, ngubek-ubek sajadah, nyundul-nyundul kaki, dan sebagainya. Nggak papa dia rusuh begitu, nangis-nangis sebentar, kadang sibuk aaaiiiuuuooo sendiri.

Saya lebih senang anak saya terlibat dalam aktivitas saya menjalankan kewajiban. Maka saya katakan pada ibu saya, “Nggak papa, Mbok. Wahida udah biasa ikut shalat. Wahida mau sekalian belajar shalat, Mbok.” Dan di sinilah dia, tengkurep di samping shaf saya.

Perlu dipahamkan juga kepada keluarga, perihal mendidik anak untuk shalat sejak dini. Semoga pembiasaan seperti ini menjadi salah satu sarana yang baik untuk menanamkan akidah yang kuat sebagai seorang Muslim yang taat. Saling menyemangati dengan suami. Insya Allah lebih kokoh.

Dan yang utama dari itu semua adalah kekuatan doa. 

Ibu-ibu, semoga Allah swt menuntun dalam mendidik anak-anak. Semoga kita memiliki anak yang tidak hanya menyenangkan dipandang mata, tapi juga menentramkan di jiwa karena keshalihannya.

Seperti doa-doa yang dicontohkan para Nabi. Rabbi habli minash shalihin. Ya Tuhanku, karuniakan kepadaku anak-anak yang shalih.

Rabbij’alni muqiimash shalati, wamin dzurriyati, rabbana taqabbal du’aa’.  Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat, wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Jika hari ini kita tidak menanam, apa yang kita tuai sebagai harapan?

Yup. Doa anak shalih, semoga menjadi salah satu keberuntungan kita di hari penghitungan. Aamiin ya Rabb.

Ditulis oleh: Wahtini, tinggal di Jogja. Mamanya Wahida. 

Comments

Wahtini

Mamahnya Wahida, tinggal di Jogja. Suka menulis.
Close Menu