Mah, Jangan Membentak Anak Karena Hal Ini, Cobalah Untuk Menghargainya

Mah, Jangan Membentak Anak Karena Hal Ini, Cobalah Untuk Menghargainya

“Yang ini udah jelek. Buang aja, ya?”

“Ih. Ngapain ginian disimpan? Bikin sempit rumah aja!”

“Apa bagusnya ini? Buluk banget. Masukin gudang, gih!”

Dan ungkapan lain, kerap kita lontarkan saat mendapati barang-barang milik anak yang ada di sembarang tempat. Bisa jadi, barang-barang tersebut memang sampah di mata kita, namun, apa demikian bagi mereka? Apakah keputusan untuk menyingkirkan adalah hal terbaik, Mah?

Menghargai berarti menghormati, mengindahkan, atau juga memandang penting satu objek (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Saya pernah mengalami satu kejadian berharga, bersama anak sulung saya, yang saat itu baru selesai acara perpisahan TK, sekolah tempatnya belajar.

Siang yang terik, suara kendaraan  bersaing dengan suara decit bannya, sesekali. Saya naik motor dengan kecepatan sedang. Di atas 40 km/jam. Dalam pikiran saya, berkelebat tiga rencana, apa yang akan saya lakukan bila sampai ke rumah nanti. Beribadah, istirahat (baca tidur siang), dan melakukan hal lain sesudah bangun. Saya juga membayangkan, meneguk segelas air dingin, setelah mengganti pakaian. Sejuk pastinya.

Sayang, ketika saya baru mematikan mesin motor. Ada hal lain yang menunda saya untuk melakukan apa yang saya bayangkan. Satu hal yang membuat anak sulung saya menggulung bibir, menekuk dahi, dan mata berkaca.

“Ummi, penghapusanku ketinggalan di sekolah!”

Yang dia maksud adalah, alat penghapus pensil. Setip, begitu kami biasa menyebutnya. Saya memandangnya. Pipi gembilnya tampak membesar, dalam keadaan mencucu begitu. Tangan ini masih memegang helm, setelah melepas, dan belum sempat meletakkan pada tempatnya.

“Apa harus diambil sekarang?” tanya saya merendahkan suara.

Sungguh, dalam hati saya juga bertanya-tanya. Kenapa dia sampai membawa setip ke sekolah? Hari ini kan hari perpisahan, kenapa bawa setip. Dan anehnya, kok tidak membawa alat tulis lain?

“Iya,” jawabnya seraya menghentak-hentakan kaki.

“Sebentar, Ummi mau minum dulu. Terus, kita ke sana, ya?” usul saya, berharap disetujui.

Sukur, dia mengangguk. Dia masih berdiri di dekat motor, dengan adiknya. Saya dan dua anak kami sudah seperti materei dan surat perjanjian, ke mana satu menempel, ke situ semua ikut.

Ketika masuk rumah, saya merasa adem. Seperti ada pintu kulkas terbuka, dan saya lewat di dekatnya. Saya mengambil air minum, sebelum meneguk isinya, saya menarik napas beberapa hela. Berharap, itu akan mengurangi kadar emosi yang gampang naik bila dalam keadaan panas, plus lelah.

Bergegas, saya keluar rumah menuju garasi. Di sana, dua anak saya sudah menunggu dengan wajah yang sama ekspresinya. Kenyataan, bahwa adik terpengaruh oleh kakaknya, sangat jelas terjadi pada anak-anak saya. Jika kakaknya sedih, adik langsung berempati. Dan kali itu, demikian lah yang terjadi.

“Yuk! Kita ke sekolah lagi!”

Dia langsung melompat ke boncengan. Adiknya naik, berdiri di depan, kebetulan saya memakai motor matic. Saya memacu si hitam dengan keadaan lebih pelan dari sebelumnya. Sambil membiarkan semilir angin yang menggoyangkan daun-daun padi, menyejukkan wajah, pun badan. Semoga saja sejuknya yang tadi, saat pulang saya abaikan, bisa masuk ke dalam hati, sehingga saya bisa menemani anak saya mencari setipnya itu.

Sampailah kami di sekolahannya.

“Maaf, Bu. Kami mau mencari setip,” ucap saya pada Bu Yanti, gurunya yang sedang membawa keranjang sampah ke arah utara. Menuju bak sampah. Sudah tidak ada siapa-siapa di sekolah, selain para gurunya.

“Oh, silahkan,” jawab beliau ramah.

Nah, saya bingung.

Ini sekolahan ukurannya jika dibanding dengan setip, kan jauh lebih besar. Lalu, ke mana kami akan memulai pencarian? Saya mencari cara, atau semacam peta, supaya bisa fokus untuk menemukannya.

“Kak, setipnya ditaruh di mana?”

“Di wadah snack, di atas meja dekat Ummi, tadi.”

Jawabannya membuat saya hampir melompatkan jantung. Dag-dig-dug tambah kencang jauh di dalam sana. Lah, itu wadah, ya, sudah dikumpulkan jadi satu. Ada ratusan wadah lain yang bersama dengan wadah yang mungkin menyimpan setip anak saya.

“Maaf, Bu. Wadah snack yang di sini, digeser ke mana, ya?” tanya saya pada bu guru yang lain.

“Wah, sudah kami taruh semua di dekat bak sampah.”

Benar, kan?

Tadinya, saya berharap jawaban lain. Siapa tahu, mereka memindahnya  ke keranjang kecil di dekat meja. Berarti, kami akan membuka-tutup semua wadah kardus berwarna kuning itu satu per satu?

Saya jadi ingat novel Toto Chan. Di sana, ada peristiwa saat Toto Chan mencari pita rambutnya. Dia sampai mengaduk-ngaduk (maaf) jamban untuk mencari, dan gurunya hanya bilang, “Kau akan mengembalikan ini ke keadaan semula, kan?” Tidak marah, padahal saya yakin, bau yang ditimbulkan sangat luar biasa.

Kondisi kami tentu tidak separah Toto Chan. Jadi, saya putuskan mencarinya, di kardus-kardus, yang bisa jadi satu jam ke depan sudah diambil tukang rongsok. Dan berterimakasih sekali dengan guru-gurunya yang ikut mencari.

Satu per satu kardus di buka.

Setip yang kami cari, belum ketemu juga.

Iya, sih. Bisa banget beli lagi. Wong harganya kan hanya dua ribu. Tapi, anak saya tidak mau, jika bukan setip itu. Pokoknya itu, ya itu! Titik. Amazing memang yang namanya anak-anak.

“Semua sudah dibuka. Tidak ada tuh, Kak. Apa, Kakak lupa naruhnya di mana?”

“Enggak. Aku taruh di dalam kardus.”

Tuhaaan.

Semua kardus memiliki ukuran dan bentuk sama. Bagaimana mengenalinya?

Tunggu dulu!

Ada kardus di atas lemari. Jarak antara lemari dan meja saya tadi, berdekatan. Apa mungkin, satu di antara dua kardus di atas lemari itu berisi setip milik anak saya? Ah. siapa tahu.

Saya mendekat.

“Itu snack masih utuh, Bu,” cegah seorang guru.

Saya memohon izin untuk membukanya.

Alhamdulillah. Ternyata, di satu kardus di antara dua kardus yang ada, berisi setip anak saya. Warnanya putih, sudah berubah menjadi sedikit abu-abu.

“Taraaa! Ini lho yang dicari!”

Wajah anak saya menjadi cerah. Jika sebelumnya terlihat bermendung, dan sedikit gerimis, maka saat barang yang dicarinya ketemu, wajahnya serupa langit berpelangi nan indah dan hangat.

Para gurunya ikut tersenyum. Saya dapat merasa, ada kelegaan yang memancar dari wajah mereka. Lega karena anak saya kembali ceria. Tidak lagi bersungut-sungut, cemberut.

Udara panas hari itu tak terlampau saya rasakan lagi. Ada kesejukan menelusup ke dalam hati. Rasa yang sebelumnya tak terprediksi akan hadir, tepat saat saya begitu lelah. Saya kembali menghela napas panjang. Rasa sukur berdentum-dentum untuk pengalaman yang tak terlupa itu.

Mah, coba bayangkan! Jika saya memarahinya, memaksa dan membelikannya sebagai ganti setip yang baru, saya tidak tahu, berapa lama dia akan menyimpan kecewanya dalam kenangan. Semoga saja peristiwa itu membuatnya teringat terus, hingga dewasa. Dia akan menghargai barang-barang milik anak, yang mungkin baginya tiada berarti.

Mencintai anak-anak adalah menghargai apa yang ada padanya, dan yang dimilikinya.

Menghardik  anak karena barang miliknya adalah cara terbaik untuk melukai hatinya. Kita bisa tidak suka, namun menghardik akan membuat kita keruh, dan memancing emosi sendiri. Kita bisa memberi nasihat, mengarahkan bagaimana sebaiknya dia menyimpan, dan memperlakukan barang-barangnya.

Bila bisa, sebaiknya buat perjanjian ketika kita mencari barangnya yang hilang, dan tidak ketemu. Sehingga saat barangnya tidak ketemu, setidaknya sudah mencari. Saya lupa melakukan itu, sukur ketemu.

Mengabaikan kelelahan kita, demi kebahagiaan anak-anak, akan membekaskan puas dan sukur di dalam hati. In sya Allah.

Orang-orang di sekitar, juga perlu mendukung apa yang kita upayakan. Mohon pengertian mereka, untuk mendukung perkembangan anak. Karena kita tidak bisa berjuang sendirian dalam mendidik mereka.

Sedih dan bahagia yang anak-anak rasakan akan membekas hingga mereka dewasa. Hingga menjadi orangtua juga, kelak.

Luka hati di masa kecil, tidak bisa sembuh begitu saja, butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya  (pengalaman penulis).

Comments