Mah, Mengurangi Muka Galak itu Lebih Berharga dari Membelikan Baju Mahal Buat Anak

0
259
mama kurangi muka galak untuk anak

Anak itu selalu jadi alasan. Ia jadi alasan para orang tua untuk bekerja keras nyari duit. Ia jadi alasan orang tua ikut seminar ini itu. Ia jadi alasan para orang tua untuk hidup bahagia.

Dan, anak juga bisa jadi alasan untuk memenuhi ego dan obsesi diri. Termasuk soal yang remeh temeh; baju.

Bagi saya, dikatain tetangga gara-gara tidak pernah membelikan baju baru buat anak di mall bukan masalah, pelit tidak bisa membeli dengan harga yang melangit, its oke ! Hemm, jika boleh nyiniyir dikit; masa bodo dengan harga mahal.

Prinsip saya tegas, yang mahal itu adalah kasih sayang yang tulus dan memberikan apa yang sekedarnya dari hasil keringat yang halal.

Lagian anak kita masih kecil, tidak paham apa yang disebut mahal. Belum tentu juga ia senang. Kata teman saya ni ya, “Anak di kasih satu permen saja yang harganya 200 rupiah saja, asalkan kita tulus ia bisa bahagia. Anak dikasih kaos 15ribuan sama 150ribuan, juga gak bakal tahu bedanya. Tetap saja bakalan kotor saat ia makan.”

Benar juga, pikir saya.

Anak-anak, apalagi yang usianya masih balita, tidak bisa membedakan barang branded dengan barang non-branded. Tidak akan bisa melihat barang ori dan kw. Mereka akan tetap asyik dan menikmati apa yang orang tuanya berikan.

Pernah suatu ketika ada anak yang dibelikan baju mahal oleh orang tuanya. Lalu ia mengajak anaknya ini makan di restoran. Seperti umumnya anak balita yang baru belajar pegang sendok dan sukanya usil, makanan yang seharusnya masuk ke mulutnya tentu akan mampir dulu ke kaosnya. Tangan yang harusnya bersih pasti akan belepotan dengan makanan, dan tanpa memikirkan bakal susah dicuci, si kecil pastinya langsung menggunakan kaosnya sebagai lap.

Melihat itu ibunya langsung membentaknya. Berkata padanya bahwa sudah mahal-mahal dibeliin baju malah dikotori. Si kecil pun kaget dan menangis.

Dari kejadian ini kita bisa merenung; lebih penting mana jadinya; baju yang mahal atau senyum dan tawa si kecil saat bereksplorasi dengan makanan?

Ini juga terjadi dengan barang lain, misalnya mainan. Percaya deh sama saya, kalau usia anak belum genap tiga tahun, mending jangan membelikan anak mainan yang mahal dan canggih.

Kenapa? Ya, karena usia segitu anak tahunya mainan itu kalau gak dipreteli ya dibanting. Saya punya tuh setumpuk mobil-mobilan dari yang pakai remote control mahal hingga truk plastik, dan nasibnya sama semua; ada yang bannya sudah copot, pintu mobilnya rusak, pecah, dan sejenisnya.

Nah, menyikapi hal ini kadang orang tua malah marah-marah sama anaknya. Anaknya dibilang tidak bisa bermain dengan baik (ya, iyalah, usianya masih batita), anaknya dibilang nakal, padahal itu sikap yang wajar untuk anak seusia itu.

Baca juga: Ninggalin Anjing di Mobil Ribut, Ninggalin Anak Tiap Hari Diem Aja

Baca juga: Bertaubatlah, Suami! Saat Kalian keluyuran Malam, Istri Cuma Gigit Jari di Rumah

Maka sejatinya bahagia itu tidak berkorelasi positif dengan barang mahal.

Bagi saya konsep bahagia itu ada tiga, yaitu tidak terlalu mahal, hidup sehat, dan tidak banyak utang ke tetangga apalagi ke bank. Masih absurd ya penjelasan saya? Ok, saya jelasin detilnya.

Pertama tentang hidup sehat.

Buat apa membeli semua kebutuhan dengan harga yang mahal, hingga pada ujung-ujungnya yang boros itu ibunya sendiri. Saya memang belanja ke toko baju yang standar di kampung, baik buat anak maupun saya sendiri. Ya, paling Rp 50 saja cukup buat satu anak, sepenting bersih, halal dan tidak jauh dari kuman.

Saya sering katakan jika anak tidak pernah tau tentang aneka baju mahal, apalagi sampai berdebat pada bundanya sebab tidak pernah dibelikan di Mall. Hal terpenting menjalani hidup sama anak cuma satu, mengajarkan pendidikan sederhan dan berpolah hidup sehat. Itu saja.

Kata suami saya, “Utamakan kesehatan dan kebersiahan. Hidup akan lebih berharga.” My Husband is right !!

Kedua, hidup asyik gak harus mahal.

Yang mahal dari hidup itu adalah menjaga keluarga tetap rukun, semangat juang mempertahankan kasih sayang, asyik.. !! Dan yang terpenting membangun kepercayaan dan kerjasama antara istri, suami dan anak. Selebihnya lebih mudah, apalagi persoalan materi dan gaya hidup.

Banyak nih orang bergaya hidup boros, hingga anaknya dimanja dari sejak kecil, tapi justru tidak bisa bahagia, karena yang ia kejar bukan kebahagian melainkan materi. Ada juga yang di uji sama Tuhan, suatu ketika jatuh bangkrut dan dapat masalah besar. Yang terjadi kemudian karena ia tidak kaya hati,  prustasi dan kadang bunuh diri. Ampun semoga kita di jauhkan dari itu semua, Amin !!

Yang terakhir adalah, hidup bahagia itu tanpa hutang.

Ini paling banyak dilakukan oleh ibu rumah tangga, demi membangun martabat supaya ia dipadang mampu, dan kaya raya, hingga suami dipaksa harus hutang ke tetangga, maupun ke Bank. Ditambah hal lainnya, seperti kredit prabotan rumah. pastikan jika hidup kamu tidak akan bahagia.

Ini alasan saya sejauh ini mau hidup sederhana dan biasa-biasa, sebab bagi saya harta yang paling berharga cuma satu; anak. Anak sehat dan memakai baju apa saja yang penting bersih sudah sangat bahagia, ditambah membuat suami senang dan bahagia, serasa saya hidup di surga.

Jadi yang lebih mahal dari barang adalah tawa bahagia anak-anak dan suami tercinta. Dan itu bisa kita lakukan dengan cara-cara paling sederhana. Misalnya dengan mengurangi pasang tampang galak saat bersama mereka.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here