Mah, Saat Marah, Saat Sebel, Selalu Berhati-Hatilah Dengan Lisanmu

0
273
bunda berhati-hatilah dengan lisanmu

Masih selalu terkejut dan tak habis pikir saat membaca berita-berita tentang pembunuhan yang dilakukan suami terhadap istrinya. Padahal kasus-kasus ini bukanlah hal yang luar biasa, dalam artian hampir setiap hari pasti ada saja berita semacam itu. Dan saya masih selalu  tertegun “Kok bisa ya?” 

Belum hilang dari ingatan kita, kasus penembakan seorang pegawai BNN oleh suaminya sendiri yang disaksikan si anak. Disusul kasus penembakan oleh seorang dokter terhadap istrinya yang juga berprofesi sama saat sedang berada di kliniknya. Tak tanggung-tanggung hingga 6 tembakan membabibuta. Dan ini hanyalah salah dua dari puluhan atau bahkan ratusan kasus serupa yang mungkin tak terekspos media.

Yang terbaru adalah kasus seorang suami yang membunuh lalu  memutilasi istrinya yang berprofesi sebagai SPG. Aaah… Masih saja ngeri membayangkannya. Dan lagi-lagi saya hanya bisa tertegun, “Kok bisa ya?” 

Pinjam  kata-katanya Om Tere Liye yang sedikit saya modifikasi (kan akooh fans berat Om Tere), kebencian sebesar apakah yang membuat seorang suami tega menghabisi nyawa istrinya sendiri. Tak sekedar membunuh, bahkan memutilasi lalu membakarnya.

Istrinya lho ya, bukan sekedar ayam betina atau burung tetangga.  Istri yang kata orang jawa adalah sigaraning nyawa. Yang kata Om Ariel Noah adalah separuh aku. Yang kata para pujangga adalah belahan jiwa. Yang sama Om Anang sampai dibikinin lagu saat separuh jiwanya pergi. Lhah ini, dibunuh dengan sadisnya oleh tangannya sendiri. Bukan tangan tetangga atau tangan orang ketiga. Bukankah itu artinya dia telah membunuh separuh dirinya juga? 

Ah entah… iblis macam apa yang merasuk ke tubuh mereka  kala melakukan perbuatan itu.

Iseng saya ngobrolin masalah ini dengan yth. Pak suami yang ganteng dan coolnya sebelas duabelas sama Nicholas Saputra (pujiannya ndak gratis lho pak, kutunggu transferannya ke rekening BRI ya…)

“Kok bisa ya Yah, ada suami yang sampai segitu-gitunya tega bunuh  istrinya sendiri? Bukankah mereka dulu saling mencintai?”

Dan dia seperti biasa menjawab dengan woles…

“Gelap mata Ma… Laki-laki itu kadang nggak tahan kalau dicerewetin atau dicecar istrinya. Wanita  itu kalau lagi marah kan ngomongnya ngasal, waton njeplak, nggak dipikir, sembarangan. Coba lihat kasus-kasus itu, biasanya diawali dengan masalah sepele, adu mulut, cek-cok, terus suaminya nggak tahan, emosional, terus dor! Selesai.”

Saya tak ingin  terburu-buru membantah penjelasannya walaupun sebenarnya agak tak terima. Sesepele itukah?

“Oh gitu ya? Kok kamu nggak pernah kesel kalau aku marah-marah? Berati tahan dong?”

“Siapa bilang? Aku itu nahan kesel lho kalo pas Mama marah-marah. Sebenernya ya kesel banget lah. Nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ngambek. Marah-marah nggak jelas. Ditanyain sebabnya marah, nyuruh diem. Giliran didiemin tambah marah, katanya nggak ngertiin yang Mama rasakan. Njuk aku kudu pie?”

“Haha. Iya ya?”

Kemudian say coba mengaca diri. Pakai pengilon gede yang habis dibersihin pakai cling pembersih kaca. Saya ingat-ingat omongan apa saja yang sering saya lontarkan  saat ngamuk sama suami. Lalu sepintas-pintas saya ingat betapa njengkelinnya saya waktu itu. Sepintas-sepintas ya, soalnya orang yang lagi marah biasanya nggak sadar kata-kata apa saja yang diucapkannya saat marah itu. 

“Iya sih, aku emang ngeselin kalo lagi ngamuk. Tapi sepertinya hampir semua wanita kaya gitu deh, nggak cuma aku. Coba tanya temanmu, istrinya kalau pas marah, marahnya kaya aku nggak? Pasti iya.” (membela diri, cari alibi, golek bala)

Berdasarkan pengalaman pribadi dan hasil mamalisis (analisis waton-nya mama) saya, ada beberapa hal yang sering dikatakan seorang istri saat ia marah kepada suaminya.

1. Menegasikan semua kebaikan yang pernah dilakukan suami

“Kamu itu lho, NGGAK PERNAH menganggapku penting. Urusan kantor mulu diurusin, keluarga NGGAK PERNAH dipikirin. (Padahal hampir setiap minggu Si suami rela mereschedule tiket kereta yang berarti harus mengeluarkan biaya tambahan yang lumayan jumlahnya demi bisa pulang satu hari lebih awal, untuk memenuhi  permintaan si istri yang kala itu marah-marah. 

“Kamu lho enak banget,  NGGAK PERNAH ngerasain capeknya ngurus rumah sama anak-anak. Tiap hari dengerin mereka berantem la la la la la la. Pokoknya besok pulang aku nggak mau ngapa-ngapain.” (Padahal selama di rumah si suami manut saja saat diminta memijit punggung istrinya,  menyeboki, memandikan dan mengganti diapers anaknya, membantu menjemur baju, serta apa saja yang diminta si istri padahal ia juga lelah sekali dengan pekerjaannya)

2. Mengungkit-ungkit kesalahan  jaman Majapahit

Wanita itu adalah pengingat ulung atas detail kesalahan yang dilakukan  pasangannya sekalipun sudah terlewat sangat lama.

“Kamu ingat nggak 8 tahun yang lalu waktu jempol kakiku  keseleo gara-gara aku belum pewe duduk di boncengan tapi kamu udah gas motornya? Dari dulu kamu memang kurang perhatian sama aku. Atau sebenarnya kamu memang nggak cinta? Terpaksa nikah sama aku?”

3. Meminta  hal-hal yang sulit diwujudkan  dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja

“Aku tuh cuma minta dibeliin fortuner, bukan alphard apa rubicon.  Masa gitu aja nggak bisa. Katanya cinta? Buktikan dong! Mana! (Kalau suaminya juragan gethuk tingkat internasional  mungkin nggak masalah. Tapi terkadang permintaan istri seringkali tak logis atau di luar kemampuan suami)

4. Mencecar suami 

“Jadinya kapan mau beli rumahnya? Udah nggak tahan lagi di sini. Sumpek. Itu lho, tetangga udah renovasi rumahnya jadi tingkat empat setengah se-isi-isinya ganti semua. Kita gini-gini aja dari dulu. Aku dulu mau nikah sama kamu nggak buat diginiin.”

5. Membawa-bawa pihak luar yang seharusnya nggak perlu dibawa-bawa (karena berat)

“Gak becus jadi laki-laki. Pantesan aja sekeluarga nggak ada yang beres. Dulu gimana sih orangtuamu ngedidik kamu. Coba dulu aku nurutin nasihat orangtuaku. Nggak akan kaya gini jadinya. Nyesel kawin sama kamu.”

Contoh-contoh percakapannya sinetron banget ya? Gakpapa biar dramatis.

“Tapi kan nggak semua istri kaya gitu mba.” 

“Yang bilang semua juga siapa?”

Kita (saya) kadang nggak ngerasa bahwa kita juga sedang melakukan KDRT secara verbal terhadap pasangan. Bahwa kekerasan tak hanya soal memukul, menampar atau membunuh. Bahwa kata-kata itu memang setajam silet. Bisa jadi senjata untuk melukai  hati pasangan. Padahal mungkin sebenarnya tidak bertujuan demikian. Hanya ingin mengungkapkan uneg-uneg namun caranya yang belum benar. 

Masalahnya, tingkat penerimaan omelan istri oleh suami itu berbeda-beda antara suami satu dengan lainnya. Beruntunglah para istri yang dikaruniai suami dengan tingkat kesabaran level sinuhun. Yang bisa menerima cecaran dan omelan istrinya dengan lapang dada dan penuh kesabaran (boleh peluk si bapak dan bilang makasih?) Namun bagaimana dengan suami-suami yang punya  level kesabaran di bawah rata-rata? Ibarat kita mancing-mancing kemarahan pasangan kita. Dan ingat! Kemarahan itu membutakan mata hati. Kemarahan itu mematikan akal dan logika. 

Btw tulisan sepanjang ini baru bahas seupil tentang KDRT dari sisi istri saja ya. Belum bahas tentang gimana kalau memang si suami yang nggak becus jadi kepala keluarga, belum bahas tentang bagaimana harusnya suami bersikap agar istri nggak sering marah dsb. Baru sebatas lisan istri. Karena saya perempuan dan saya paham gimana perasaan perempuan kalau sedang marah. 

Waah mbaa, tulisanmu yang ini gak ngepro sama kaum hawa nih. Gak suka ah…

Haha. It’s oke. Ini pendapat pribadi aja sih, boleh banget dibantah atau tak disetujui. 

Intinya, tulisan ini sekedar  ingin mengingatkan kita para istri,  utamamanya saya,  untuk lebih bijak dalan menggunakan lisan. Berfikir sedikit lebih panjang sebelum marah-marah dan merepet nggak jelas kemana-mana. Untuk lebih bisa belajar mengendalikan diri dan mendinginkan hati, demi terciptanya sebuah hubungan yang nyaman, berkesinambungan dan bertanggungjawab. Halah.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here