Mama, Jangan Anggap Remeh Sebuah Cerita

Mama, Jangan Anggap Remeh Sebuah Cerita

Cerita adalah kekuatan, bukan sekadar bahan obrolan ataupun sebuah omong kosong. Cerita memiliki kekuatan unik untuk menggerakkan.

“Cerita ataupun dongeng yang berkembang dalam sebuah negara ternyata berperan dalam prestasi suatu bangsa,” begitulah kesimpulan dari penelitian David McClelland, seorang pakar psikologi sosial. Ia memaparkan penelitiannya terhadap dua negara terkuat di abad-16, yaitu Inggris dan Spanyol.

Menurut McClelland cerita anak di Inggris, seperti Knight Arthur, penuh dengan muatan spiritualitas dan motivasi untuk maju. Sebaiknya cerita anak di Spanyol penuh dengan muatan yang membuat anak terlelap dan terninabobokan.

Penelitian senada diungkapkan pula oleh Ismail Marahaimin, guru besar Fakultas Budaya UI. Ia mengatakan bahwa cerita Si Kancil Mencuri Ketimun yang berkembang di masyarakat Indonesia berperan dalam bobroknya mental pejabat negara ini. Maka sebuah negara yang pertumbuhan ekonominya sangat tinggi adalah negara yang memiliki cerita dongeng, cerita rakyat ataupun legenda yang mengandung need for achievement (kebutuhan berprestasi) tinggi.

Apakah penelitian itu benar?

Saya tidak tahu. Tapi saya mengerti bahwa penelitian itu telah melalui serangkaian metode ilmiah.

Apakah itu berarti cerita-cerita rakyat dari Spanyol jelek?

Saya pun tidak tahu.

Sebuah budaya terlampau sulit sekaligus rumit untuk diurai agar bisa dikatakan jelek atau bagus. Meminjam kata Kinanthi Hope (tokoh dalam novel karangan Tasaro GK), bahwa “seseorang tidak bisa menghakimi sebuah peradaban, tradisi, atau kebudayaan dengan standar pergaulan dan tradisi yang ia lakoni.”

Tapi fakta bahwa sebuah cerita memberikan pengaruh pada perkembangan mental dan sikap seseorang ataupun sebuah bangsa, saya sepakat dengan pernyataan tersebut.

Cerita, kata Peter Guber dalam bukunya Tell To Win, selalu menjadi pemicu aksi, yang menggerakkan orang untuk melakukan berbagai hal. “Sesuatu yang bukan cerita dapat memberikan informasi, tetapi cerita memiliki kekuatan unik untuk menggerakkan hati, pikiran, kaki dan dompet orang kea rah yang diinginkan oleh pencerita,” kata Guber dalam pengantar bukunya.

Sebuah cerita memang berbeda dengan data statistik. Sebuah cerita yang dituturkan dengan baik, entah cerita itu benar atau tidak, memiliki kekuatan magis yang membuat orang selalu tertarik, terinspirasi dan kemudian bergerak. Itulah mengapa orang lebih suka mendengar cerita ‘tentang orang’ alias gosip daripada analisis yang kaku dan ilmiah.

Tak perlu dipungkiri bahwa orang saat ini orang sukses adalah orang yang mampu menggunakan kekuatan cerita. Hal ini diaminni oleh Guber yang mengatakan bahwa, “hanya baru-baru ini, semakin jelaslah bahwa cerita yang penuh makna –cerita yang diciptakan dengan misi khusus- sangat penting dalam mempengaruhi orang lain untuk mendukung sebuah visi, mimpi dan kampanye.” Termasuk mendukung penjualan. Hal ini tersebut didukung adanaya penelitian yang menunjukkan bahwa marketing “tutur tinular” merupakan strategi pemasaran paling efektif.

Manusia adalah mahkluk pentutur. Pencerita. Dan manusia sangat menyenangi sebuah cerita.

Perkembangan yang begitu pesat industri film dan buku cerita (termasuk novel) telah membuktikannya. Meledaknya media sosial yang salah satu fungsinya adalah sebagi media sharing cerita sehari-hari telah membuktikannya. Maka dengan mengetahui kekuatan sebuah cerita kita dapat menggunakan dengan lebih bijak. Misalnya saja dalam hal pemilihan buku cerita untuk anak-anak kita.

Manusia adalah mahkluk pencerita. Apakah Anda masih punya cerita atau sudah kehilangan cerita?

Salam bercerita,

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu