Mama Stres, Butuh Kasih Sayang Papa..Itu Saja!

Mama Stres, Butuh Kasih Sayang Papa..Itu Saja!

Pikiranku terkadang tidak gampang terkontrol dengan baik ketika menghadapi anak-anak. Emosi mudah meledak-ledak sampai teriak histeris di rumah. Kejadian sering marah-marah ini aku alami semenjak menikah dan punya anak sampai dua.

Entah apa yang terjadi dengan diriku, tiba-tiba rasa bosan, jenuh, letih dan banyak hal lainnya menjadi kebiasaan yang tidak bisa dihindari setiap harinya, korbannya siapa saja, bahkan aku tak segan marah dengan anak, walaupun akhirnya aku menyesal.

Apalagi ketika semua kerjaan rumah tak kunjung selesai aku kerjakan, bisa saja ngomel sendiri sembari menyuci.

“Mama kenapa sih sering marah?” bisik anakku di balik jendela rumah dengan muka merona, dan rasa rasa takut.

Setelah sekian lama aku pun menyadari jika ada yang hilang dari diriku yang sebenarnya. Selama ini aku tidak bisa menjadi diriku sendiri, di depan cermin aku tatap perempuan yang juga seorang ibu ini di mana ia layak diperlakukan nyaman dalam rumah tangga, dipuji, disanjung dan disayang.

Serasa tubuh ini kering dan gersang kasih sayang, terutama dari orang yang paling dekat dariku sendiri, yaitu suamiku.

Aku terkadang sedih dan menderita setiap hari mengurus anak-anak yang susah diatur,  di sisi lain aku sadar bahwa aku hanya perempuan pelampiasan nafsu belaka. Setelah selesai dinafkahi secara batin, perasaan dan getaran saat masih muda dulu seakan hilang begitu saja antara aku dan suami,

“Sekarang kita sudah tua Ma, pikirkan saja bagaimana ngurusin anak dengan baik.”

Kalimat seperti itu yang sering dikatakan suamiku, terkadang aku pengen lari jauh ke pantai berteriak bagaimana seorang perempuan selamanya harus diperlakukan sama, terutama di usia yang semakin tua, dengan semakin banyak pekerjaan hingga ia lupa dengan yang namanya istirahat.

Aku tidak lagi mengenal kisah romantis dari seorang suami yang dulu memikat rasa rindu itu, hingga ketika aku tak bertemu dengannya semalam saja terasa ia jauh, dan menyempil rasa rindu yang teramat sangat.

Setiap malam aku tidak merasa hening dan sedih karena berselimut sepi, tapi setidaknya ada getaran bunyi di Hp yang ketika aku buka penuh dengan kata mutiara pujian  yang membuat hati ini nyaman.

Tapi hari ini bayangan tentang dunia yang digambarkan dalam bait puisi itu, kian purna bersamaan dengan waktu di mana Fadilah tumbuh besar dalam ruang rumah tangga yang mulai carut oleh teriakan kesedihan yang dalam. Apalagi dengan lahirnya anak yang kedua.

Jujur saja, dengan kehidupan seperti ini aku tidak nyaman, seolah aku tidak kuat menjadi ibu, maupun menjadi istri dari mas Romi. Apalagi ia sering pulang malam karena harus lembur kerja, apalagi dengan alasan rapat kantornya, tak mungkin aku bantah, karena di situ sumber kehidupan keluarga.

Ditambah lagi ketika ia harus berkumpul dengan temannya di kedai sampai larut malam, hingga aku tidak sempat menyambutnya. Memang begitu nasibku hari ini, kaya harta tapi miskin perhatian dan kasih sayang dariku sendiri.

Kadang aku berpikiran apakah aku sudah tidak menarik lagi di mata suamiku? Atau apakah ada cewek lain yang lebih menggoda dariku ? Tapi tetap saja, setelah aku tanyakan, jawabannya selalu tidak.

“Satu istri saja tidak kuat menghadapi, bagaimana kalau dua Ma? bisa mati papa,” begitu jawabnya saat aku menyinggung masalah itu.

Setelahnya ia pasti akan menasehatiku panjang lebar dan menjelaskan juga jika emosiku akan berdampak terhadap perkembangan anak dalam rumah tangga.

“Tapi pa, mama stres butuh kasih sayang papa, itu saja!” ketusku.

“Emang papa tidak memberikan apa yang mama minta?” suamiku balik bertanya.

“Mama tidak butuh harta, mama butuh refreshing, kejutan, dan lain sebagainya, seperti janji papa, akan selalu romatis sehidup semati dengan mama,” ujarku dengan setengah berteriak.

Aku juga menjelaskan jika aku seorang istri yang selamanya layak dipuji, seorang ibu yang harus mendapatkan dukungan batin maupun lahir, seorang ibu rumah tangga yang setidaknya sesekali pantas mendapatkan hadiah karena telah mengurus rumah, serta perhatian karena bisa membesarkan anak-anaknya.

Tak usah dengan materi, cukup saja ia mencium keningku dan meninggalkan secarik kertas yang berisi kalimat indah seperti ‘Ma, Papa sayang Mama’.

Setidaknya dengan itu saja semua pekerjaanku akan terbayar tuntas, walaupun aku kurang istrahat.

 

*Seperti dituturkan Ibu EN di Palembang kepada tim Tutur Mama.

Comments

Close Menu