Memberi Untuk Mengenal

0
65
cara anak bermain dengan teman sebaya

Umumnya anak usia balita kurang mudah untuk langsung bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Itu pula yang terjadi pada Livia, putri saya saat berumur 4 tahun.

Saat saya minta Livia untuk bermain bersama anak tetangga, Livia biasanya malu. Biasanya ia hanya melihat polah tingkah anak-anak lain. Takut atau entah karena apa; saya juga tidak begitu mengerti.

“Ayo, Nak. Main sama temannya,” kata saya.

“Enggak, Bunda,” jawabnya sambil bersembunyi di belakang saya.

Perkembangan ini saya rasa kurang baik untuk Livia. Anak seusia dia seharusnya tak lagi sungkan untuk bermain bersama teman sebayanya.

Saya kuatir bila masalah ini berlanjut terus maka ada satu aspek tumbuh kembang yang terganggu yaitu perkembangan sosial anak. Padahal setidaknya ada tiga manfaat bermain bersama teman sebaya, yaitu: melatih komunikasi anak, melatih bersosialisasi, dan memperkaya pengalaman dan pengetahuan anak.

Saya renungkan apa yang sudah saya lakukan selama ini. Apakah cara saya berkomunikasi dengan anak kurang variatif?

Maka saya coba cara lain.

Suatu sore saya ajak Livia untuk pergi ke taman. Dekat rumah saja. Taman itu cukup luas. Ada berbagai macam arena permainan yang memang ditujukan untuk anak-anak. Ada prosotan, ban yang membentuk terowongan, bangku-bangku kecil, dan sebuah kolam kecil.

Saban sore taman itu penuh dengan anak-anak lingkungan rumah. Sambil ditemani oleh Ibunya, anak-anak itu bermain di taman itu. Ada yang membawa sepeda, bermain lari-lari, dan tak sedikit Ibu yang datang sambil menyuapi anaknya.

Melihat anak-anak itu Livia hanya diam saja. Melihat-lihat. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia kepingin ikut bermain. Namun ia terlalu takut untuk mengawali. Maklum ia belum mengenal mereka.

Ah, saya punya ide.

Kebetulan saya membawa kue. Saya bilang ke Livia, “Nak, ini Bunda bawa kue. Yuk, kita bagi ke teman-teman lainnya.”

“Iya, Bunda.”

Saya datangi anak-anak itu, tentu saja setelah berkomunikasi dengan ibunya, lalu saya minta Livia untuk memberikan kuenya.

Sembari anak saya memberi kue, saya sambung dengan bertanya kepada anak yang diberinya.

“Siapa namanya? Mau ya main sama Livia,” kata saya.

Livia pun mulai menyahut.

Ia ajak “ngobrol” anak itu. Selang tak berapa lama Livia pun mulai berani. Tak perlu waktu lama untuk kemudian melihatnya lari-lari bersama teman barunya.

Nah, cara itulah –memberi untuk mengenal– yang selalu saya pakai saat mengenalkan Livia ke lingkungan baru, diantaranya: TPA dan TK.

Sampai suatu hari, Livia terlihat membagikan jelly kepada teman-temannya di depan rumah.

“Apa itu, Nak?” tanya saya.

“Jelly, Bunda. Ini namanya berbagi dengan teman, Bund,” katanya.

Mendengar Livia berkata seperti itu, saya tersenyum.

.

.

Oleh: Eva, asal Yogya Mamanya Livia

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here