Mengajari Anak Bicara Tak Sekadar Tata Bahasanya, Tapi Juga Cara Menyampaikannya..

0
172
Oki Setiana Dewi

Menurut teori seorang tokoh parenting nasional, pendidikan anak usia 0-2 tahun salah satu titik tekannya adalah “Bahasa Ibu yang Sempurna”. Apabila anak memperoleh pengajaran tentang Bahasa Ibu dengan sempurna, maka nantinya ia mampu mengekspresikan gagasan secara baik-santun-tepat-jelas.

Apa itu bahasa ibu? Nah, maksudnya bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikenal anak. Bahasa ibu ini adalah bahasa yang digunakan di rumah dan lingkungan sekitarnya. Jika anak memang sehari-hari berinteraksi dengan orangtua yang menggunakan bahasa asing maka bahasa ibunya memang bahasa asing tersebut.

Anak sudah paham bahasa ibu, dan ia akan terus mengeluarkan pendapat dan berekspresi sesuai makna yang sudah dia pahami. Bahasa ibu adalah bahasa yang dikenalkan oleh ibu pada anak, karena memang seorang ibu adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama anak.

Saya rangkum dari berbagai info bahwa anak mengenal bahasa dalam beberapa tahapan. Tahap pertama di bawah 1 tahun idealnya anak akan mengeluarkan satu suku kata yang umum seperti mi, ma, bu, tu untuk mengekspresikan keadaannya. Di tahap ini orang tua sudah mulai bisa “membaca” komunikasi inisial si anak.

Bahkan bisa mulai membenarkan kata tersebut. Contohnya saat secara berulang anak mengulang kata “mi..mi..mi” saat haus, si ibu bisa berkunikasi dengan “mau mimik ya? Haus…” Dengan begitu perlahan anak mengerti ada kata yang lebih tepat dalam mengekspresikan, namun sabar dulu si anak belum bisa mengontrol semua motoriknya jd ya belum bisa ngomong satu kata dengan sempurna.

Kemudian di tahap selanjutnya anak bisa mengucapkan satu kata dengan sempurna (belum dalam kalimat), si anak mulai menempelkan setiap makna kata, dengan suatu keadaan yang relevan dengan dirinya.

Tahapan berikutnya, anak mulai berbicara satu kalimat pendek dengan satu makna. Di tahap ini anak mulai mengerti penggunaan kata dalam kalimat. Biasanya akan diucapkam dengan intonasi dan nada yang sama. Tahapan penting selanjutnya adalah mereka mulai bisa merangkai kalimatnya sendiri dan bisa membangun cerita sendiri. Di tahap ini mereka benar-benar memulai menggambarkan ekspresinya dengan lengkap. Penggunaan kata dlm kalimat, sdh memiliki emosi dlm pengucapan dan bahkan sudah memiliki nilai kritis. Yang terpenting dalam tahapan-tahapan td adalah bahasa menjadi caranya berekspresi.

Nah, kembali ke soal anak saya.

Sejak Qiyya bayi, kami biasakan dia dengan bahasa jawa ngapak sesuai daerah asal dan domisili kami. Memasuki usia 1 tahun, ada kegundahan tentang pilihan bahasa jawa ngapak untuk Qiyya. Baru tau bahwa bahasa jawa ngapak itu ternyata menurut ahli bahasa tidak punya tingkatan bahasa seperti bahasa jawa jogja-solo.

Jadi, sama rata bahasanya ke semua tingkat usia lawan bicara. Seperti bahasa Indonesia. Saya pikir kok kurang sopan ya.

Namun dalam praktek kehidupan nyata, bahasa jawa ngapak ada tingkatan-tingkatannya sesuai jenis usia lawan bicara, tapi jadi terlihat wagu (kurang pas).

Saya pun jadi bingung. Mau memakai bahasa jawa ngapak versi asli yang “blakasuta-minded” Atau mau pake bahasa jawa ngapak versi campuran walau agak wagu didengar tapi masih ada nilai “unggah-ungguh”nya? Atau pilih bahasa Indonesia saja yang universal dan amat sangat familiar di tanah air tercinta ini?

Kebingungan ini terasa makin bingung dengan kondisi latar belakang keluarga kami. Semua mbah-mbahnya Qiyya dan keluarga besar memakai bahasa jawa ngapak versi asli dan versi campuran dalam berkomunikasi sehari-hari.

Tapi Qiyya sekeluarga baru saja pindah rumah dari desa ke kota yang tetangga dan anak-anak tetangga berbahasa Indonesia. Makin bingung deh mau pake bahasa yang mana untuk Bahasa Ibu yang Sempurna bagi Qiyya.

Oiya, tidak ada alternatif bahasa asing karena Ayahe dan Ibune Qiyya nggak bisa.

Nah, petunjuk itu datang pada suatu hari yang cerah. Saat saya melihat postingan di facebook mbak Fitri Iing tentang anak pertamanya yang sudah lulus Bahasa Ibu dan mau belajar bahasa asing.

Saya pun jadi ikut komen untuk bertanya tentang kegundahan saya soal pilihan Bahasa Ibu tersebut. Qodarulloh, ada bu Nesri yang ikut jawab di komen saya dan menjelaskan yang intinya begini: “Mau pake bahasa apa saja asal mengungkapkannya dengan setulus hati dan penuh kasih sayang, insyaaALLOH itulah bahasa ibu yang sempurna..”

Jlebb…!!

Oo, oouw…

Saya masih suka tegas bin galak ini ke Qiyya..

Jadi, Bahasa Ibu itu intinya bukan jenis bahasanya, tapi justru cara penyampaiannya yang harus sempurna..

Walau memakai “kromo inggil” bila tidak sempurna ketulusannya pasti nadanya berbeda. Tidak halus dan cenderung ketus di dengat telinga.

Tapi, bila bahasanya “ngoko” disampaikan setulus hati dan penuh kasih sayang, intonasi yang keluar jadi terdengar lembut dan merdu. Itulah yang namanya “the power of: bahasa qalbu, bahasa ibu”.

Walau sama-sama kata “makan” tentu bakal berbeda apabila hal itu disampaikan dengan nada, itonasi, dan ekspresi tertentu. Bila dikatakan sambil tersenyum dan dengan nada yang rendah membujuk, maka “makan” menjadi sebuah permintaan. Kalau dikatakan dengan tegas, keras, dan wajah sangar, maka kata “makan” menjadi sebuah perintah.

Bener juga ni Ibu.. Kita kan tidak boleh membanding-bandingkan keragaman bahasa yang ada ya. Bukankah Allah itu menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan ragam bahasanya agar untuk saling mengenal? Justru beragamnya jenis bahasa itu lah yang harus jadi pembelajaran.

Sekarang tinggal prakteknya nih dalam pengasuhan keseharian anak. Apapun bahasanya haruslah keluar dari rasa yang tulus dan penuh kasih sayang..

Ternyata ini lebih sulit… Huhuhu..

Apalagi ketika Qiyya usia 20 bulan, ketika pertama kali tantrum. Nangis njerit-njerit plus guling “klekaran” di lantai, entah apa maunya. Ditanya ini salah, dikasih itu salah.

Saat itulah ujian besar tentang Bahasa Ibu yang Sempurna tiba. Ibune sedih, ini anak tidak bisa mengekspresikan kehendaknya dengan baik. Bingung mau ngomong tentang suatu hal, tapi nggak tau cara mengungkapkannya.

Ooo, berarti benar.. Sekarang beralih mengajarkan bahasa tertentu untuk situasi tertentu.. Dengan bahasa ibu yang datangnya dari Qalbu..

Tulus… Penuh harap kepada Sang Pembolak-balik hati agar disampaikan dengan baik di benak anak tentang maksud tujuan tiap kata yang keluar dari mulut Ibu.

***

“Ibu minta tolong, Qiyya nyuwun nenen.”

“Permisi.. Permisi.. Qiyya lewat dulu ya.”

“Minta maaf ya bu, Qiyya mboten manut.”

“Terima kasih ya.. Sama-sama..”

“Assalaamu’alaykum warohmatulloh wabarokaatuh..(nada guru tpa) Qiyya pulang..”

“Ampun lah, mbok Qiyya nangis cih.. Ampun ya..”

***

Alhamdulillaah.. Walau Ibune masih sering tegas bin galak, frekuensi tantrum Qiyya sudah mulai berkurang.

Ternyata begitu to yang dimaksud Bahasa Ibu yang Sempurna.. Satu hal yang masih jadi PR Ibune : mengurangi kalimat berbau ancaman..

Selamat belajar bu.. Selamat momong..

Ditulis oleh: Bunne Qiyya

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here