Menggendongmu, Nak, Membuat Ibu Lebih Kuat

0
108

Hari ke-205 menjadi Ibu

Apakah Bunda tipikal perempuan langsing (untuk tidak menyebut kurus, apalagi cungkring) yang memiliki balita gemuk? Kalo iya, mari kita tosss!

Sebenarnya saya tidak kurus-kurus amat, tapi kalau lagi menggendong Wahida, putri pertama saya, yang cuma 7 kilo-an saya langsung merasa kurang gemuk. Padahal cuma perasaan kali ya.

Hooray! Memiliki baby gemuk, gembul, chubby, dan montok tentu sangat menggemaskan. Seneng dipeluk-peluk, dicium-cium, sampai dicubit atau ditepuk saking gemesnya. Tapi, adakah yang berpikir bagaimana sang Bunda berjuang sehari-harinya?

Pernah gak berpikir seperti itu? Betapa dalam setiap foto-foto bayi yang menggemaskan, selalu ada ibu-ibu yang riweuuhh di belakangnya.

Tidak. Saya bukan sedang mengeluh atau tidak bersyukur. Saya sangat bersyukur. Bahkan kalau boleh, saya ingin berbangga. “Nggak papa Emaknya kurus, asal anak dan suami gemuk..” Tapi semua kembali kepada Allah swt, yang berwenang melimpahkan gemuk atau kurus. Kita mah, terima-terima aja!

Di awal-awal memiliki bayi, saat masih belajar menggendong, apalagi menggendong sambil naik motor, saya sering merasa lelah, gampang capek sekadar menyangga kepalanya dengan tangan kiri, atau berlama-lama duduk sambil menggendong. Saat anak susah tidur dan harus membopong-bopong, saat malam hari misalnya, terpikir betapa melelahkannya menjadi ibu.

Akankah hari-hariku seperti ini terus? Sampai kapan?! [ Paling juga sampai anak usianya 2 tahunan sih ya, kan usia segitu anak sudah bisa jalan sendiri ]

Pikiran semacam itu kalau kita biarkan bercokol di kepala akan sangat membuat rugi.

Pertama, kita sebagai ibu jadi stress dan terbebani. Apa-apa jadi terasa berat. Padahal kurang baik apa Allah itu, yang menjanjikan surga di telapak kaki ibu. Tentu kelelahan dan keletihan itu sebanding bukan? Mashaa Allah, betapa kebaikan tak terhitung jika kita niatkan setiap aktivitas kita sebagai ibadah.

Kedua, anak akan terbawa psikologi ibunya. Saat ibunya tidak bahagia, tidak dipungkiri menjadi salah satu penyebab anak rewel, susah diatur, banyak cari perhatian, dan kawan-kawannya. Nah, ibu jadi tambah stress bukan?

Berikutnya, kita akan kehilangan best moment dari best age anak-anak kita. Yup. Perkembangan terbaik tubuh adalah di masa kanak-kanak, bukan? Alangkah ruginya kalau kita malah melewatkannya dengan banyak marah dan ngomel.

Kembali ke baby gemuk. Masa awal bayi terlahir ke dunia, dia sangat suka dekat-dekat ibunya. Sembilan bulan digendong kemana-mana, tentu setelah lahir salah satu perlakuan yang dia suka adalah digendong ibunya. Pelukan dan dekapan ibu memang tak tergantikan. Membuat bayi lebih awal mengenal rindu.

Itulah kekuatan cinta, membangun kedekatan yang sangat lekat antara ibu dan bayinya. Dan tahukah, Bunda? Bayi yang sering digendong akan memiliki jiwa yang lebih kokoh, perasaan yang lebih stabil, dan karakter lebih kuat karena semasa kecilnya menemukan kenyamanan dalam pelukan dan gendongan orang yang dicintainya.

Well, beriring waktu, saya semakin merasa nyaman menggendong Wahida. Bahkan ada semacam rindu bila setelah sekian waktu tidak memeluk dan menggendongnya.

Saya merasa lebih kuat dan tangguh. Selepas mengerjakan pekerjaan domestik saya masih punya stock tenaga untuk mengayunnya, stock senyum untuk menghiburnya, dan stock doa yang tiada habis-habisnya.

Memilikinya, membuat saya lebih menyadari, betapa ada kekuatan dalam diri saya yang selama ini tersembunyi.

Yeeyy.. Menggendongmu, Nak, membuat Ibu lebih Kuat!

Jadi bagi para suami yang hobinya fitness tuh, gampang kok kalau mau olahraga angkat beban di rumah. Coba deh gendong bayinya, kuat berapa menit? Udah kayak gitu, masih berani bilang kalau “wanita itu mahkluk yang lemah?”

Ditulis oleh: Wahtini, tinggal di Jogja.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here