Menghadapi Anak yang Minta Makan Saat Tengah Malam

Menghadapi Anak yang Minta Makan Saat Tengah Malam

Langit sudah gelap. Pekat. Tidak ada lagi bunyi serangga yang terdengar. Tidak ada lagi suara deru kendaraan yang lewat depan rumah. Tidak ada lagi terdengar obrolan Bapak-Bapak yang ronda. Tidak pula terdengar sorakan “gool!!” orang-orang yang menonton sepakbola. Sunyi.

Di waktu yang seperti itulah, Raihan tiba-tiba membangunkan saya. Dengan tangan mungilnya ia goncangkan tubuh saya.

“Bund.. bunnd….,” katanya.

“Bunnd…bangun Bund…”

Saya tak menanggapi. Pikir saya sebentar lagi juga ia akan tertidur.

“Bunn…bangun, Bund. Bund bangun. Lehan (Raihan) lapel (lapar), Bund. Kasih makan ya Bund..”

Saya buka mata dengan agak berat. Saya lihat wajahnya memelas. Terlihat hampir menangis.

“Tadi kan sudah maem banyak, Dek. Bunda ngantuk nih,” kata saya.

“Jangan tidul (tidur), Bund. Ayo bangun! Kasih Lehan (Raihan) makan.”

Akhirnya saya menyerah. Raihan mengikuti saat saya turun dari kasur. Sambil saya gendong, saya bawa ia menuju dapur.

Eh, ternyata Raihan tidak mau. Ia minta makan di luar. Aduh, padahal sudah larut malam begini mana ada warung yang buka. Saya bujuk ia agar makan di rumah saja. Ia menolak. Ia berkeras ingin cari makan di warung.

Terpaksa saya ajak Raihan untuk keluar. Rumah saya terletak di kompleks perumahan, jadi masih aman untuk berjalan sepanjang jalan kompleks walaupun pada tengah malam.

Saya katakan pada Raihan bahwa waktu sudah malam, tidak ada lagi warung yang buka.

Setelah berjalan sekitar lima belas meter dari rumah, akhirnya Raihan mau diajak makan di rumah saja. Mungkin ia akhirnya ia sadar bahwa tidak akan menemukan warung makan pada jam segitu.

Setelah makan kenyang, ia akhirnya kembali tertidur pulas sampai pagi.

Pernah mengalami pengalaman serupa, Ma?

Tentu sebagai seorang Mama, kita sangat senang saat melihat anak lahap makan. Dan akan merasa kebingungan bila anak tidak mau makan sama sekali.

Alhamdulillah, Raihan termasuk anak yang lahap makan. Karena itulah ia tumbuh dengan bobot dan tinggi yang cukup baik. Selain lahap makan Raihan juga termasuk anak yang aktif. Saban hari tak terlihat ia capek saat bermain.

Saya kutip dari sebuah artikel di media, bahwa Judy More, ahli gizi anak dan anggota dari Infant & Toddler Forum di Inggris mengatakan, makanan di tahun-tahun awal pertumbuhan anak dapat membentuk kebiasaan makan yang memengaruhi kesehatan mereka di kemudian hari. Dia juga mengatakan, anak yang lebih tinggi dan aktif sebaiknya mengonsumsi makanan dengan porsi lebih lebih besar dari anak-anak yang lebh pendek dan kurang aktif.

Lebih lanjut, bahwa pola makan untuk anak usia dibawah lima tahun haruslah memperhatikan kebutuhan gizinya. Jenis makanan yang baik diantaranya adalah buah, susu, pudding, dading sapi, daging ikan, telur, kacang, yoghurt, biskuit, dan lainnya.

Nah, Ma.. selain memperhatikan jenis makanan, pola makan anak juga harus memperhatikan jadwal makannya. Biasanya anak mempunyai jadwal makan pagi, siang, dan malam. Dengan diselipi berbagai camilan sehat diantara waktu makan itu.

Tentu saja jam satu dini hari bukanlah waktu makan yang tepat untuk anak ya, Ma. (Jangan seperti Raihan yaa… hehehe)

Maka pastikan saja anak sudah cukup kenyang saat makan malam, sehingga pada tengah malam ia tidak akan terbangun dari tidurnya.

IMG-20160209-WA0011
Perjalanan Raihan Mencari Makan di Tengah Malam 😀

.

.

Oleh: Ana Rosdiana, Mamanya Raihan Asal Banyuwangi

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu