Meski Ada Saja yang Nyinyir, Saya Tetap Bangga Jadi Ibu Rumah Tangga

0
1074
bangga jadi ibu rumah tangga

“Ngapain kamu sekolah tinggi sampai sarjana tapi cuman jadi ibu rumah tangga?”

Pernyataan nyinyir seperti di atas kerap mampir di telinga saya, bikin kepala pusing saja. Entah kenapa, banyak orang yang menyalahkan status saya sebagai ibu rumah tangga yang sering di rumah. Semu itu karena saya sarjana. Jadi, sudah capek-capek sekolah tingg, hanya jadi ibu rumah tangga.

Kata mereka, sekolah tinggi saya percuma.

Hidup emak-emak emang enggak lepas dari nyinyir orang lain.Itu sudah biasa. Mungkin banyak ibu rumah tangga lain yang merasakan kondisi sperti saya ini. Adanya dinyinyirin orang karena jadi ibu rumah tangga, sementara ibu lain sibuk bekerja di luar.

Mungkin mereka bilang, “Enggak kasihan sama suami yang kerja keras?” Atau “Enak ya di rumah terus santai-santai?”

Beginilah rasanya jadi emak-emak,kalau enggak diomongin orang ya digunjingkan orang. Semoga saja kita enggak suka ngegosip ya Bunda. Amin.

Saya sering banget tuh digituin. Kadang lagi beli sayur di deket rumah, ada ibu-ibu yang ngegosip. Tapi tak apa. Itu hanya bagian dari kehidupan. Pad dasarnya, resiko hidup memang demikian adanya. Tidak perlu ditanggapi terlalu serius.

Tetaplah bangga jadi ibu rumah tangga. Saya percaya banyak ibu rumah tangga yang bangga dengan statusnya saat ini. Meski di mata orang lain, dia hanya masak, bersih-bersih umah dan mengurus anak. Di mata orang lain, semua itu pekerjaan sepele. Tapi di mata ibu yang mengerti, pekerjaan-pekerjaan tersebut sangat penting untuk keluarga.

Ilustrasi

Tanpa seseorang yang mau ngurus rumah, pasti rumah akan berantakan. Harus ada seseorang yang turun tangan. Cuci piring terlihat sangat sepele, tapi tanpa ada seseorang yang megerjakannya, rumah pasti berantakan.

Lagi pula, jadi ibu rumah tangga adalah sebuah keputusan. Bunda sudah memilih, saya juga sudah memilih untuk menemani si kecil sampai besar nanti. Saya tidak mungkin meninggalkan si kecil lalu diasuh orang lain.

Saya pikir, saat ini adalah waktu paling tepat untuk berkorban demi anak. Tentu saya harus merelakan semua ego pribadi, seperti mengejar karir atau melakukan hal-hal egois lainnya. Harus mengehentikan belanja banyak kosmetik atau baju demi belanja baju si kecil.

Apapun itu, semua demi suami dan anak. Saya rela kok sekarang sering di rumah.

Dulu memang saya aktif di luar, terutama sejak kuliah. Punya banyak teman dan jaringan yang membuat saya main kemana-mana. Jadi sibuk banget pokoknya. Itu sebabnya, peralihan dari wanita sibuk ke ibu rumah tangga mengagetka banyak teman-teman saya.

Kok bisa, si Rani memutuskan jadi IRT. Begitulah, saya pikir Bunda juga merasakan nyinyir-nyiyir demikian.

Awal jai ibu rumah tangga terus dinyinyirin, saya merasa gundah. Kepikiran sepanjang malem kok bisa demikian. Itu beberapa bulan pertama saja. Saya mikir kembali alasan saya jadi ibu rumah tangga.

Ini sudah jadi keputusan saya dan suami berdua, memutuskan agar saya fokus sama si kecil dengan cara jadi ibu rumah tangga. Tidak mengurus pekerjaan di luar. Si kecil lebih penting dari apa pun di dunia ini.

Lebih baik mengurus si kecil dengan baik meski enggak dapet penghasilan daripada sibuk bekerja tapi si kecil terabaikan. Betul kan, Bunda?

Banyak sekali hal yang berubah setelah jadi ibu rumah tangga. Ambisi masa muda yang meledak-ledak surut di hadapan tangisan si kecil. Apap pun kesibukan saya, kalau anak menangis ya sudah, pekerjaan harus ditinggalkan segera. Sebagai ibu, penginnya anak enggak pernah nangis kesakitan atau semacamnya.

Siip, semua mimpi saya sekarang hanyalah mengasuh anak dengan baik. Biar si kecil yang meneruskan mimpi-mimpi saya di waktu mendatang.

Ibu yang mengasuh anak sepanjang waktu akan membesarkan anak yang cinta orangtua. Waktu besar nanti, dia akan belajar demi membahagiakan orangtua. Mau sekolah dengan rajin demi membahagiakan orangtua.

Begitu kata orang-orang yang berpengalaman, anak yang diasuh sendiri ibunya, bukan baby sister, akan lebih berterima kasih pada sang ibu. Tentu saja bentuk terima kasihnya dengan menjadi anak sholeh yang mau membahagiakan orangtua.

Jadi, Bunda, tetap bangga jadi seorang ibu rumah tangga meski ada banyak gosip anak yinyir. Sesederhana apapun pekerjaannya, itu sanat penting bagi keluarga.

Ibu rumah tangga tetap ibu yang hebat. Kondisi ibu rumah tangga enggak seburuk itu kok.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here