Kisah Ibu Mengasuh Anak Adopsi: Nada yang Dicintai

2
263

Saya tidak akan pernah lupa tanggal itu. 17 Maret 2015. Ya, sudah satu tahun lalu namun tanggal itu bukan sekadar tanggal bagi saya. Tanggal itu adalah sebuah tonggak baru dalam kehidupan rumah tangga saya.

Jadi ceritanya begini, Ma.

Awal kisah dimuali dari tga belas tahun lalu saat wali saya menerima ijab dari seorang pria. Tiga belas tahun bukanlah waktu yang sebentar ya, Ma. Mungkin bila Mama punya seorang buah hati, dan telah melalui mahligai rumah tangga selama itu maka saat ini buah hati Mama telah menjelang remaja.

Tiga belas tahun adalah usia pernikahan saya. Dan sampati saat saya menuliskan cerita ini, saya dan suami belum juga dianugerahi buah hati pernikahan. Berbagai cara telah kami tempuh untuk berikhtiar mendapatkan momongan. Di tahun ketiga pernikahan, kami mulai intensif periksa medis, cek lab, USG, tes hormon, dan sebagainya telah kami lalui.

Alternatif? Sudah pula kami coba. Namun apa daya. Semua jua kehendak Gusti Allah kan?

Maka saya tahu bagaimana perasaan seorang wanita bila seringkali ditanya, “kok belum dapat momongan?”

Ah, walaupun sebenarnya cuma pertanyaan sederhana. Namun bagi saya, dan juga wanita lain yang nasibnya serupa, pertanyaan itu seperti tombak yang ditancapkan ke dalam hati. Jleb!! Sakitnya tuh disini!!!

(Hal ini juga yang membuat saya untuk lebih berhati-hati bertanya soal yang sangat pribadi kepada wanita lain)

Cerita berubah saat negara api menyerang pada tanggal 17 Maret 2015 itu. Salah satu saudara jauh melahirkan seorang bayi. Lahir tepat waktu melalui operasi caesar.

Namun naas, akhirnya sang ibu mengalami pendarahan berat. Sehari setelah melahirkan bayinya yang keenam dia menghembuskan nafas terakhir. Bayi perempuan itu lahir sehat dengan berat badan 3,5 kg.

Ayah si bayi sebenarnya bersikukuh untuk merawat bayinya sendiri, namun keluarga besarnya tidak tega, karena dia juga harus merawat sendiri empat anaknya yang lain (ada satu anaknya yang sudah meninggal saat masih balita). Melalui musyawarah akhirnya keluarga memutuskan bahwa bayi itu akan diasuh oleh kami, pasangan yang sekian lama menanti buah hati.

Walaupun saya sangat ingin mengharapkan kehadiran suara tangis anak kecil di rumah saya, namun kesempatan itu tak lantas saya sanggupi. Saya dan suami berpikir matang selama dua hari sebelum akhirnya berkata, “ya, biarkan kami yang merawat anak itu.”

Bayi itu baru berusia tiga hari saat untuk pertama kali menangis di rumah kami. Saya sebagai anak bungsu yang sama sekali tidak punya pengalaman merawat anak kecil, dengan takut dan deg-degan akhirnya mulai belajar. Membuat susu, memandikan, membedong, mengganti popok, juga membersihkan BAB. Hal-hal yang dulu membuatku jijik seperti membersihkan BAB, anehnya sirna begitu saja. Yang ada adalah bahagia, seolah saya membersihkan kotoran anak kandung sendiri.

Seolah ujian tak berhenti begitu saja.

Bayi itu  diberi nama oleh ayah kandungnya “Nada.” Sewaktu usianya satu setengah bulan, ia kena batuk. Saya periksakan Nada ke bidan terdekat. Waktu itu berat badannya hanya 3, 7 kg, dimana pertambahan hanya 2 ons.

Dan berdasar pemeriksaan lebih lanjut, saya dirujuk ke dokter spesialis anak. Betapa terkejut saya saat mendengar diagnosa dokter kalau Nada mengalami kelainan jantung bocor, atau penyakit jantung bawaan.

Saya yang saat itu diantar tetangga (karena suami sedang di luar kota) sangat terguncang. “Ya Allah, apakah hanya 1,5 bulan Engkau mempercayai kami merawatnya? Apakah Nada juga akan Engkau ambil menyusul ibunya?”

Singkatnya saya putuskan untuk membawa Nada ke rumah sakit yang di Yogya. Pemeriksaan secara berkala, juga obat rutin kami lakukan. Di rumah sakit itulah saya menemukan anak-anak yang memiliki kelainan sama dengan Nada. Ada yang sudah sembuh, ada yang masih berobat seperti kami.  Merasa lebih kuat, juga bersyukur karena banyak juga bayi yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan dibanding Nada.

Pada titik itulah saya dan suami diberikan pelajaran oleh Nada tentang ketegaran sebagai orang tua.

Selain berobat medis, saya sealu meminta doa keluarga, tetangga, juga sahabat. Seorang ahli hypnoterapi juga mengajarkan hipnosis untuk terapi penyembuhan yang juga saya praktikkan dan Alhamdulillah terlihat ada kemajuan.

Saat ini aktivitas tambahan yang mewarnai keluarga kecilku adalah bergantian mengasuh Nada; membeli sufor, menyuapi, yang semuanya mengisi sudut hati saya untuk memberikan cinta pada putri kecil kami “Nada.”

Saat ini usianya genap satu tahun.  Sedang belajar berjalan dengan baby walker, dan sudah mengucapkan satu-dua kata.

Nada, we really love you. Jadilah nada merdu dalam kehidupan.

nada

.

.

Ditulis oleh: Arwina Maulana, Mamanya Nada

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here