Nak, Dalam Hidup Ini, Kamu Harus Berjuang Untuk Mendapatkan Sesuatu

0
160
Ilustrasi

Bagi yang baru punya anak satu kebanyakan mungkin berpikir untuk menyenangkan anak semampunya. Kalau memang mampu, keinginan anak pasti bakal bisa dipenuhi sampai dompet menipis.

Menjadi orangtua emang menyenangkan. Penantian selama sembilan bulan istri yang sudah mengandung dengan berbagai halang rintangan  akhirnya bisa terlewati. Hufft. Lega banget rasanya saat mendengar tangisan bayi dari kamar bersalin, bergetar seluruh tubuh membayangkan kalau sekarang saya sudah menjadi seorang ayah. Padahal tantangan lain yang tak kalah berat masih menanti.

Waktu tidur bayi yang jadwalnya belum tetap selama empat bulan, membuat saya dan istri bergiliran berjaga tiap malam, khususnya istri saya yang sudah harus mempersiapkan MPASI di enam bulan pasca itu. Perjuangan seorang ibu memang tidak pernah usai meski ia sudah melahirkan buah hati kami. Ya, perjuangannya akan terus ada sepanjang masa.

Ya, itu perjuangan yang pasti dilalui semua ibu di dunia ini. Bagi saya, itu sebuah kepastian yang tidak bisa ditolak. Selanjutnya adalah keinginan saya dan istri untuk selalu menyenangkan anak melebihi apapun. Memangnya, apalagi tujuan yang diharapkan saat menjadi orangtua selain menyenangkan anak? Sepertinya ini adalah hal utama.

Menurut saya, membahagiakan anak adalah sebuah relationship goal dari sepasang suami istri yang kini sudah jadi ayah dan ibu ini. Pengennya sih saya ajak jalan-jalan tuh si baby kemana dia mau. Pokoknya saya tidak akan nanggung-nanggung buat ngasih sesuatu sama anak. Atau singkatnya, ayah dan ibu mau kasih apapun demi kebahagiaan kamu, nak.

Tetapi apa hal semacam itu sudah palig tepat untuk dilakukan? Hmmm, saya sempat berpikir demikian.

Pola asuh yang saya rasakan dahulu kala sangatlah tidak enak. Dibesarkan dalam pengekangan dan keterbatasan akses pada banyak hal. Saya pikir jaman 80-an atau 90-an masih demikian. Model parenting dominan yang diterapkan orangtua pada anaknya yakni mengekang dan membatasi.

Saya benar-benar ingat, sebagai seorang anak yang tinggal di desa, tempat saya bermain sangat dibatasi. Meski saya anak laki-laki, tapi orangtua melarang saya meninggalkan rumah lebih dari satu kilometer (keluar desa maksudnya) usai pulang dari sekolah. Bayangkan saja, saya terkurung di dalam desa sampai saya besar.

Selain itu masih banyak pengekangan lain yang diterapkan orang tua pada masa itu. Karenanya, pengalaman pahit masa lalu itu ingin saya ubah demi kebahagiaan dan kepuasan anak pada masa kecil.

Tidak ada cetak biru bagi tindakan manusia. Itu kata seorang sastrawan. Maksudnya begini, pengalaman parenting yang mengekang di masa lalu saya yang hidup di generasi jaman dulu tidak bisa disamakan dengan jaman sekarang, bisa berubah jadi banyak hal.

Beberapa orangtua bahkan bisa jadi lebih galak sebab merasa hal ini lebih baik, tapi sebagian lainnya menjadi sangat bebas sampai memperbolehkan anak untuk melakukan apa saja, yang penting paham akan batasan-batasannya. dikekang itu sangat tidak enak, sakit, pedih, dan kurang gaul.

Dan saya, saya pilih nomor dua saja. It sounds good.

Tapi, tapi….

Tak semua hal yang terdengar bagus akan jadi bagus dalam kenyataan. Tidak semua anak yang diberi kekebasan akan puas dengan masa kecilnya lalu jadi sosok hebat di masa depan. It’s proved by my older sisters.

Kakak saya yang perempuan lebih tua lima tahun dan sudah punya anak laki-laki berusia delapan tahun. Anak seumur itu tentu saja, sudah pandai bermain apa saja, berjalan sampai berlari, dan makan apa saja tanpa perlu dikhawatirkan kepedasan atau bikin perut sakit.

Foto-foto : Istimewa


Anak kakak saya itu, masih manja sekali. Anak usia sepuluh tahun yang manjanya seperti anak enam tahun. Ya, itu kakak saya sendiri yang mengatakannya ke saya.

Masih saja  minta gendong biar mau tidur, masih minta dimandikan dan lain sebagainya. Padahal umur segitu sudah seharusnya belajar mandiri paling tidak untuk hal-hal paling sederhana seperti mandi dan tidur.

Kakak saya tentu pusing tujuh keliling melihat anaknya yang seperti itu. Dia bilang kalau semua ini terjadi sebab pola asuh di masa kecil Gibran, nama ponakan saya itu, yang dimanjakan sepenuh keinginannya.

Dulu, Gibran bisa mendapatkan apa saja yang ia mau semasa balita. Ingin beli makanan di jalan diberikan, minta mainan di mal dibelikan, minta apa saja pokoknya dikasih. Iya sih, bila keinginan anak masih wajar-wajar saja di kantong memang tidak masalah, yang jadi masalah adalah kalau permintaannya tidak cukup untuk ukuran keuangan orangtuanya.

Ya begitulah, hingga Gibran besar, ia jadi manja dan selalu minta diperhatikan. Kalau diledek sedikit sama temen sebayanya bakal nangis kencang dan tak berhenti (padahal dia cowok yang seharusnya gagah berani), bisanya hanya minta nempel terus sama ibunya.

Pertimbangan orang tua untuk menuruti atau tidak menuruti keinginan anak bukan sekadar soal uang aja. Mentang-mentang ekonomi keluarga lagi bagus, terus semua keinginan anak dituruti. Tidak, tidak, tentu itu tidak bagus.

Boleh atau tidaknya seorang anak saat meminta sesuatu pada orang tua disesuaikan dengan efek yang akan dihasilkan dari permintaannya. Sebab tidak semua permainan akan membuatnya jadi sosok yang cerdas dan hebat.

Misal, dengan memberi gadget dan membiarkan anak bermain sepanjang waktu. Mungkin si anak akan diam dan tenang tidak rewel. Tetapi dalam jangka panjang, bisa-bisa anak akan kecanduan, enggan bergaul, tidak punya teman di dunia nyata, dan lain sebagainya. Kasihan sekali kalau anak jadi tidak punya teman di masa kecilnya. Sungguh. I know that feel.

Itu alasan yang kelihatan dan para orangtua seharusnya bisa menimbang dampak baik dan buruknya. Sementara alasan lain yang agak filosofis, anak harus belajar tentang kehidupan. Iya, kehidupan nyata yang kelak akan dia hadapi.

Baca juga:

Alasan Kenapa Anak Perempuan Harus Dekat dengan Ayah & Laki-laki dengan Ibu


Sudahkah Kita Menjadi Ayah yang Hebat..?


10 Trik Khusus Agar Ayah Bisa Dekat dengan Anak

Pelajarannya adalah: Tidak semua hal di dunia ini akan berjalan lancar, tidak semua hal bisa didapatkan. Manusia sering diterpa badai yang menyakitkan.

Ya, demikian alasan yang saya sebut filosofis tadi. Terkadang orang tua perlu memberi batasan dari setiap permintaan anak. Kita tidak harus selalu memberikan segala hal yang diminta si kecil. Mungkin akan bikin anak sedih. Tetapi itu akan baik buat masa depannya.

Sebab sedari kecil ia belajar kalau hidup adalah perjuangan. Untuk dapat sesuatu tentu butuh usaha. Dan usaha butuh perjuangan. Butuh tenaga ekstra. Life is full of struggle, dearKeep strong, don’t give up easily

Berbekal pengalaman nyata my sister, saya coba untuk membatasi pemenuhan keinginan anak. Tidak semua yang anak saya, Tio minta saya penuhi. Saya bikin manajemen hadiah untuk Tio. Misal begini, kalau dia rajin masuk ke sekolah (saat ini Tio berada di Taman Kanak-kanak) maka saya janjikan untuk memberinya hadiah. Dengan hal-hal seperti itu, setidaknya sebagai orangtua Tio, saya dan istri sudah menerapkan suatu pola perjuangan buat anak. Ya, cara ini lumayan berhasil mengerem keinginan Tio yang dulunya banyak permintaan.

Ingat, semua hal bisa kita raih asal ada perjuangan.

Sepertinya Tio mulai paham dengan hal itu. Dan tentu itu sesuatu yang baik, sebagai orangtua tentu  saya dan istri merasa senang. Meski terkadang masih suka minta mainan dengan wajah cembertu. Yah, itu wajar. Namanya juga anak-anak.

Pola asuh mengekang gaya delapan atau  sembilan puluhan awal memang sudah tidak zaman. Anak perlu dibesarkan dalam atmosfer yang nyaman dan membebaskan. Banyak ekspresi, jadi anak ceria dan bla bla bla. Meski begitu, bukan berarti orang tuanya harus memberikan segala hal yang ia mau agar tetap senang.

Sesekali, buatlah ia mengerti bahwa untuk mendapatkan sesuatu, butuh suatu usaha yang gigih dan maksimal.

Nak, Kau bisa meraih apapun asalkan terus berjuang, seperti usaha perjuangan tokoh dongeng yang pernah ayahmu ceritakan ini. Keep Strugle, my proud.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here