Obat Lelah: Memandang Wajah Anak yang Tidur Pulas

Obat Lelah: Memandang Wajah Anak yang Tidur Pulas

Pagi belum beranjak benar saat si kecil Arjuna, putra saya yang kini berusia 10 bulan, rewel. Tidak biasanya Arjuna bangun tidur dengan rewel. Biasanya ia akan bangun menjelang pukul tujuh pagi. Itu pun tidak dengan menangis. Ia hanya berguling-guling di kasur sambil ngoceh –lebih tepatnya grememeng- tidak jelas.

“Aaaa… poooo…. Aaaaaa….,” begitu ocehan Arjuna.

Tapi pagi itu berbeda. Ia berguling-guling di kasur sambil menangis. Keras. Tak henti-henti. Saya cek badannya, ia tidak panas. Saya cek apakah ada yang sakit, tidak juga.

Saya coba gendong, ia masih saja menangis. Saya tenangkan dengan kata-kata lembut perlahan-lahan. Selain itu saya coba mengayun atau menggoyangkannya. Saya usap-usap kepalanya, konon hal ini bisa menstimulasi perasaan nyaman anak. Saya sentuh juga pipi, punggung, kaki, atau perutnya.

Hal itu ternyata bisa menenangkannya. Pelan-pelan tangisnya reda.

Ternyata anak saya ini baru ingin dimanja pagi itu. Ia hanya bisa berhenti menangis saat berada dalam gendongan saya. Hal ini terbukti setelah beberapa lama saya gendong, saya coba letakkan ditempat tidur, ia menolak. Merengek lagi.

Ibu saya coba menggendongnya. Tidak mempan. Apalagi ayahnya, sama saja.

Maunya Arjuna hanya digendong saya. Alhasil saya harus menggendong Arjuna sembari mencuci pakaian, menyapu, dan menyiapkan sarapan untuk suami.

Capek, memang. Apalagi berat badan anak selalu bertambah saban harinya. Tidak lagi ringan saat ia masih berusia katakanlah misalnya, lima bulan yang lalu.

Saya yakin setiap Mama pasti akan mengalami momen seperti ini: menghadapi anak yang tiba-tiba saja rewel tanpa sebab. Menghadapi momen-momen saat anak hanya mau nempel sama Mamanya. Gak mau sama yang lain.

Ditinggal lima menit saja, ia akan menangis. Merengek. Pokoknya harus nempel Mamanya!

Terpaksa deh Mama harus menggendong anak kemana-mana. Menggendong sambil menyiapkan sarapan, sambil mencuci pakaian, sambil menyapu rumah, sambil ini, sambil itu. Sebuah hal yang tak akan mampu dilakukan oleh seorang suami. (Setuju kan, Ma?)

Saya yakin setiap Mama mengalaminya.

Dan saya yakin pula, obat paling mujarab mengatasi lelah dan capek menghadapi rewelnya anak adalah saat memandang wajah imutnya tertidur pulas. Bagi saya yang paling mendamaikan hati setelah melewati semua kejadian pagi itu adalah melihat wajah Arjuna yang tertidur pulas. Damai dan tenang. Itulah obat kelelahan yang paling berharga.

Sebut saja saya lebay, tak apa. Tapi saya yakin bahwa semua Mama akan bersepakat dengan saya. Bukankah begitu, Ma?

Bukankah memandang wajah anak yang tertidur pulas adalah jalan paling mudah untuk melupakan segala penat mengasuhnya? Bukankah memandang wajah anak yang tidur dengan damai adalah salah satu cara menghilangkan stress yang efektif?

Begitulah saya melewati pagi itu.

Setelah semua selesai, saya pandangi wajah Arjuna, sekitar lima menit untuk kemudian saya baru teringat, “Loh, saya belum mandi.”

Pernah mengalami kejadian serupa, Ma?

Nb. Foto di artikel ini adalah wajah Arjuna. Imut kan, Ma? 🙂

.

.

Oleh: Dewi, asal Yogya Mamanya Arjuna

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu