Orangtua Jangan Cuma Nuntut Anak Sukses dan Kaya, Tapi Lupa Kebahagiaannya

0
1085

Banyak anak yang tidak pernah dibahagiakan orangtuanya. Orangtua memang menyekolahkan mereka di sekolah elit yang berkualitas, serta mendaftarkan mereka ke les-les bakat usai jam sekolah.

Sekilas, hal itu tampak sebagai totalitas orangtua. Mereka ingin anaknya jadi hebat dan menguasai banyak hal. Tapi ada satu hal yang terlewat, mereka tidak bertanya pada sang anak, apa dia bahagia?

Apa anak itu bahagia dengan sekolah dan les sebanyak itu?

Tentu orangtua itu tidak benar-benar paham perasaan sang anak. Mereka hanya menjalankan apa yang menurutnya baik. Sekolah dan les itu baik karena buat anak jadi makin pandai, teteapi kalau anak tak menginginkannya, maka kegiatan itu bikin anak jadi sedih.

Saya tak ingin memaksakan anak saya untuk ikut kegiatan yang tak diinginkannya. Terkadang, itu hanya melukai perasaan si kecil. Banyak orangtua melakukan itu tetapi sata tidak.

Saya sadar satu hal, ha paling penting di dunia ini adalah bahagia, bukan pintar matematika atau IPA. Apa yang membuat anak saya bahagia? Tentu saja bermain. Sebagaimana semua anak, bermain adalah apa yang paling mereka inginkan setelah sekolah.

Sekolah, kalau kita mau jujur, tentu membuat anak lelah. Masa kita masih mau memaksakan mereka ikut les tambahan? Apa enggak bikin anak stres.

Banyak alasan kenapa orangtua suka memaksa anaknya ikut ini dan itu. Pertama, mereka ingin anaknya jadi seperti apa yang mereka inginkan. Mereka selalu medikte anaknya tanpa memberi jeda untuk bermain. Pokoknya harus ini dan itu.

Kasihan si kecil, jadi tertekan dan tidak memiliki masa kecil yang indah.

Kedua, orangtua yang mempertahankan gengsi. Mereka ingin anaknya sesukses anak orang lain. Sebab itulah sang anak ikut ini dan itu. Orangtua ini ingin anaknya terlihat sama dengan anak teman atau koleganya.

Hmm, ini juga menyiksa lho. Saya tahu kalau ada banyak hal yang belum bisa dipahami anak sehingga orangtua memberi arahan. Itu benar. Seperti bayi yang belum tahu kalau api itu panas, orangtua wajib menghalangi bayi yang mau menyentuh api.

Iya begitu. Tapi sekecil dan semungil apapun anak, dia punya ruang kebebasan untuk mengekspresikan perasaan dan melakukan keinginan-keinginannya. Itu yang bikin anak bisa bahagia. Meski ya, kadang malas-malasan danmain sampai lupa waktu.

Namanya juga masa kecil, masa bermain, bukan masa menanggug tanggung jawab ikut les ini itu sampai kecapekan.

Kecerdasan itu penting, tapi tanpa kebahagiaan, kecerdasan hanya akan menyiksa hati seorang anak. Nonsens.

Makanya jangan jadi orangtua pemaksa yang memaksakan kehendaknya pada anak.

Jangan-jangan, kita terlalu bersemangat menginginkan kesuksesan anak di sekolah hingga melupakan kebahagiaannya. Setiap kali pulang ke rumah, yang kita tanyakan selalu nilai ulangan dan PR-nya.

Kita tidak pernah mau mendengarkan ceritanya di sekolah, cerita teman-teman bermainnya, atau hal-hal yang menurutnya menarik dan membuatnya bahagia.

Jika kita melakukan itu, maka sadarilah, kita sudah menjadi orangtua yang buruk dalam mengasuh anak. Jangan begitu, ya. Kasihan si kecil.

Dia terlahir ke dunia ini untuk merasakan kebahagiaan, bukan kekesalan. Memang dia butuh belajar tanggung jawab mengerjakan PR dan belajar. Tapi tidak pelu belajar sepanjang hari sampai kehabisan tenaga.

Selesai les di sore hari langsung tidur karena kecapekan. Kan enggak baik buat perkembangan psikologinya.

Naya, anak saya yang baru kelas satu sd, saya biarkan melakukan apapun dan bicara apapun. Tentu dalam batas wajar dan kesopanan.

Saya berusaha tidak langsung menghakimi cerita-ceritanya. Suatu hari dia bilang malas sekolah dan tidak ingin lagi bersekolah. Baginya, sekolah membosankan.

Apa saya langsung marah dan memberinya ceramah sehari semalam?Tentu tidak. Saya mengiyakan dan menanyakan alasan-alasannya. Tidak. Ungkapan perasaan dan keinginan Naya adalah miliknya, tidak boleh dimarahi ibunya ini.

Dengan begini, dia jadi terebuka dan saya dapat memberinya motivasi. Saya pun mengerti alasan-alasan tindakan Naya.

Bayangkan kalau saya langsung marah dan menceramahi Naya, mungkin dia akan diam dan patuh di depan. Tetapi sesungguhnya, dia tidak puas dengan saya dan menyimpan kemarahan. Semacam bara dalam sekam.

Naya hanya ingin bermain dan menggambar. Ya, gambarnya memang bagus, mungkin dia berbakat dan saya pelu menemukan patner menggambar untuknya.

Soal keinginan dan perasaan anak, don’t take it too serious. Jangan terlalu kasar dan vulgar dengan anak-anak kesayangan kita.

Cara membuat anak dekat dan bahagia adalah dengan tidak memaksanya. Sudah banyak cerita tentang anak yang crash dengan orangtua karena tidak sepakat dengan gaya asuh orangtuanya.

Memaksa anak sukses sejak dini enggak baik, jangan ya, jangan terburu-buru. Sejak sd dipaksa dapet nilai 100 terus. Emangnya anak kita jenius banget, kan enggak. Terima dia apa adanya, beri waktu bermain, dan dengarkan ceritanya.

Anak itu punya perasaan seperti diri kita. Dia suka, enggak suka, males, marah, dan bahagia. Kalau lagi enggak mood sekolah terus dipaksa sekolah, apa jadinya? Pasti malas di sana.

Ya, cari cara bernegosiasi dengan anak. Ingat ya, Bunda, negosiasi. Bukan memerintah atau memaksa.

Negosiasi itu berarti saling tawar menawar dan saling menguntungkan. Kalau Naya sedang malas sekolah, saya ajak dia berunding. Dia mau apa setelah sekolah, nanti saya kabulkan jika dia berangkat. Dan ya, saya sering berhasil setelah bernegosiasi dengan anak.

Lagi pula, keinginan anak tidak aneh-aneh seperti kita. Paling auh minta diajak nonton kartun atau makan ayam atau ice kream. Iya, kan?

Enggak minta dibeliin mobil ratusan juta rupiah atau liburan ke Singapur. Itu sih keinginan emak-emak kita yang udah dewasa. Haha.

Posisikan anak sebagai seorang yang berperasaan dan memiliki keingianan. Dengan ini kita tidak akan memaksa anak apalagi sampai membentaknya gara-gara malas sekolah. Anak itu terlalu berharga untuk dibentak-bentak.

Sebuah penelitian menyebutkan, sekali membentak anak, 1 milyar sel otaknya akan rusak. Sudah berapa kali Bunda bentak anak sendiri? Enggak kasihan?

Ayo, jangan paksa anak sukses dengan gaya kita, beri dia kebebasan. Sukses memang baik, tapi tanpa kebahagiaan, sukses tidak akan bermakna apa pun.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here