Pak Jokowi Harus Tahu, Kelangkaan Gas Elpiji Bisa Bikin Rumah Tangga Berantakan

0
276
gas langka

Yang langka saat ini bukan cuma suami yang tanpa ada hujan, tanpa ada angin, lalu tiba-tiba bilang, “Mah, jalan-jalan yuk.” Atau istri yang bisa ngangkat galon sendiri tanpa tumpah, tapi juga gase LPG -lebih mudah disebut elpiji- 3kg. Atau biasa dikenal dengan sebutan “gas melon,” karena warnanya hijau dan bentuknya bulat, seperti melon.

Ya, gas elpiji sedang langka. Emak-emak di berbagai kota panik bukan main. Jelas aja panik, gas itu kebutuhan dasar buat keluarga. Kalau gas habis, mau masak apa kita? Bisa-bisa meja makan di rumah bakal kosong terus.

Bener deh, gas langka bikin keluarga kacau. Pas suami pulang kerja, enggak ada makanan di rumah. Istri merasa malu dan bisa dikatakan tidak bertanggungjawab atas pekerjaan rumah. Karena itu asap dapur mengepul adalah koentji keharmonisan keluarga.

Sudah tahu kabar di Bogor, Bun?

Di sana emak-emak sampai buang tabung gas ke jalan saking keselnya. Bayangin aja, tiga minggu enggak ada gas di rumah. Jelas kesel. Akhirnya mereka buang deh tabung gas melon ke jalan depan rumah. Biarin. Lagian pemerintah tidak menanggapi keluhan mereka selama ini.

Pak Jokowi, emak-emak ini gelisah karena kelangkaan gas. Sediakan gas melon yang banyak buat kami. Yang bersubsidi. Pengeluaran sudah banyak, tolong deh jangan dicabut subsidinya.

Apakah kami harus pakai kayu bakar buat masak? Tapi mau nyari kayu bakar dimana? Hutan dan kebuh sudah jadi beton smua. Kami ini kan emak zaman now yang lebih akrab dengan dunia maya daripada dunia perhutanan dan perkayuan.

Terasa banget kalau si gas melon adalah kebutuhan dasar rumah tangga. Iyalah, gas melon harganya paling murah. Gas biru gede itu mahal, gas apel ungu itu juga mahal. Paling masuk akal buat emak ya gas melon.

Ayo Bun, jangan diem aja sama situasi ini. Keluarin komentar dan tanggepannya. Biar pemerintah tahu kalau rakyatnya lagi menjerit. Dikira emak-emak enggak punya aspirasi. Diginiin terus diem aja gitu? Enggaklah.

Emak adalah jantung keluarga. Dia yang bikin masakan setiap hari buat suami dan anak. Tanpa emak, keluarga kacau, negara bisa kacau. Dan tanpa gas melon, emak langsung kacau.

DI Jakarta, gas elpiji sekarang mahal banget. Bisa sampai Rp 50.000 lho. Tidak kebayang deh kalau harga gas yang tadinya 20 jadi 50. Bangkrut, bangkrut, apalagi kalau pemasukan tetap dan tidak naik-naik.

Giliran sudah ada stok gas melonnya, ibu-ibu harus ngantri panjang banget sebelum beli gas. Sampai ada seorang ibu yang pingsan gara-gara antri terllau lama. Hebat banget ibunya. Berjuang demi mendapat gas yang dibutuhkan keluarganya buat masak.

Semua itu dia lakukan agar asap dapur keluarga tetap mengepul. Ibu ini sadar banget kalau dia sendiri yang harus keluar rumah mencari gas. Usaha apapun bakal dia lakukan agar dapar gas. Setiap ibu pasti membayangkan betapa susahnya anak-anak kalau sedang kelaparan. Sedang lapar dan minta dimasakin, eh, kompor tidak bisa nyala.

Kasihan kan keluarganya.

Kalau beli diwarung pengeluaran bakal jadi nambah. Tambah boros. Emak mana yang mau boros? Enggak ada. Penginnya irit semua, tapi kondisinya sesulit ini.

Khawatir aja, kalau habis langka kayak gini, besok subsidi gasnya dicabut. Terus gas melon yang murah jadi mahal dan tidak terjangkau rumah tangga seperti kami ini. Pendapatan kami hanya cukup buat makan dan biaya anak sekolah, masa mau dinaikin lagi harga gasnya. Bisa tambah susah rumah tangga ini.

Jangan dimahalin lagi, ya, bapak-bapak di pemerintahan sana, Pak Jokowi. Wakil rakyat harus mengerti perasaan rakyat, termasuk perasaan emak-emak yang sedang kalang kabut gara-gara kelangkaan gas melon.

Baru beberapa minggu ini aja, emak udah panik. Apalagi kalau sampai berbulan-bulan tanpa gas. Serius, rumah tangga bisa berantakan.

Keluhan-keluhan ini adalah bukti cinta emak pada keluarga. Emak hanya ingin memastikan dirinya bisa bekerja untuk keluarga dengan baik, hanya itu. Tanpa gas, pekerjaan rumahnya akan berkurang satu, yaitu memasak. Padahal, masak itu pekerjaan paling penting.

Kalau sampai bulan depan gas masih langka, jangan heran kalau emak-emak bakal biksi aksi besar-besaran di Jakarta menuntut pemerintah. Haduh, kebayang enggak sih kalau ada 7 juta mek yang berkumpul di Monas dan menuntut pemerintah membagikan gas gratis.

Jangan, jangan sampai itu terjadi. Semoga gas melon yang berwarna hijau itu segera beredar kembali di seluruh warung terdekat dengan harga yang sama.

Ya sudah, Bunda, saya mau nyari gas melon dulu di desa tetangga. Kalau lagi langka, nyari gas aja kayak perjuangan merebut kemerdekaan. Butuh tenaga, keringat, dan usaha keras selama berjam-jam.

Selamat berjuang mencari gas, Bunda. Tetap semangat demi dapur keluarga.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here