Panggilan Terindah Itu Dipanggil “Mama”

Panggilan Terindah Itu Dipanggil “Mama”

Mama, ingat tidak kapan pertama kali  mendengar si kecil mengucapkan kata ‘ma !’ Memanggil kita sepenuh cinta dengan kedua bola matanya yang jernih. Kadang bola mata itu basah, ia memanggil kita sambil menangisi entah apa. Dan kita begitu bahagia karena ia sempurna mengeja, ‘ma-ma’.

Di tahun-tahun selanjutnya, ketika panggilan itu tidak hanya keluar dari satu anak, kita mulai belajar. Membagi perhatian. Merespon lebih singkat tanpa mengurangi cinta. Begitupun saat saya menjadi mama bagi dua balita. Si sulung Ammar yang perasa dan bayi Hira, follower kakaknya.

***

Malam-malam lalu, ketika Hira baru saja tertidur pulas. Saya bersiap bangun. Ada selusin daftar acara ala mama yang sudah saya susun di otak. Mendadak  Ammar naik kasur. Melompat dan berseru menunjukkan sesuatu.

“Ma ! Lihat !”  Hira menangis. Bangun terkaget-kaget. Oke, daftar acara saya berguguran. Berganti dengan kesal.

“Ammar, pelan-pelan ya. Adik bobo” saya sigap mendekat ke Hira. Siap memulai lagi rutinitas menina bobokan bayi. Badannya sudah bergerak gelisah.

“Ma…!” Ammar berseru lagi.

“Mas,” saya menekan suara, pelan. Saya kadang memanggilnya mas, sejak ia punya adik.

“Kereta ini….” Ammar berusaha menunjukkan sesuatu di tangannya.

“Iya itu kereta,” saya menimpali singkat. Tidak berusaha melihat apa yang ada di tangannya.  Ammar tidak puas, dia membongkar kereta susunannya, menimbulkan suara. Hira menggeliat lagi, menangis sekejap.

“Mas, mau bobo atau main? Kalau main di luar ya.” saya mulai main ultimatum. Ammar diam, menyusun ulang, entah apa. Tanpa ijinnya, saya mengambil balok susunannya dari kasur, meletakannya di lantai.

“Lepas Ma, lepas…” Ammar protes rangkaian mainannya lepas.

“Mainnya di luar ya, Mama tidurin adik dulu. Boleh?”

Dia tak menjawab. Berlalu keluar kamar dengan rangkaian keretanya. Menyisakan punggung kecilnya. Saya menghela nafas. Tertidur hingga lupa kapan Ammar masuk kamar. Dia sudah lelap di samping saya.

***

Jelang shubuh ketika saya keluar kamar, barulah saya terdiam. Mata saya tertumbuk pada rangkaian balok kereta. Kereta ini yang hendak Ammar tunjukan. Saya meresponnya begitu buruk, bahkan mengusirnya. Barangkali semalam Ammar tidak hanya membawa rangkaian keretanya keluar, melainkan serpihan hatinya. Hati anak lelaki yang kecewa.

Ketika Ammar bangun, saya meminta maaf atas keabaian semalam. Tak lupa memuji kemampuannya merangkai kereta dari balok. Ammar tersenyum. Ia memeluk saya, erat.  Erat sekali.

***

Ma, bukan cuma anda yang sering khilaf. Kesal ke anak lantas menyesal kemudian. Memarahi anak, setelahnya menangis sendiri. Saya juga sering.

Padahal kita tahu, anak-anak kita belum paham situasi macam apa yang kita jalani. Menuntut anak memahami ibunya capek kerja, ibunya pusing mengasuh, ibunya kurang tidur justru membentuk bangunan negatif dari apa yang ibu lakukan. Apakah Mama sedang menyalahkan kehadiran anak?

Anak kita masih kecil. Ada waktunya kelak dia akan memahami orangtuanya. Lelahnya untuk apa. Bekerjanya untuk apa. Sementara sekarang, biarkan ia menerima kasih sayang dan pengasuhan terbaik dari kita. Para mama yang begitu bahagia ketika dipanggil, “Ma !”

***

.

.

Oleh: Yosi Prastiwi, tinggal di Yogya.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu