Pasanganmu Tidaklah Sempurna

Pasanganmu Tidaklah Sempurna

Menikah dengan seseorang yang belum kita kenal sebelumnya, bagi saya, seperti membaca sebuah buku yang masih tersegel utuh. Kita hanya bisa meraba-raba isi didalamnya dari judulnya dan dari synopsis di sampul belakang. Setelahnya; dalam setiap lembarnya, adalah berbagai kejutan-kejutan yang menjadi warna tersendiri dalam setiap waktu.

Itulah saya.

Saya mengenal calon pasangan hidup hanya beberapa bulan sebelum menikah. Saya memang tidak menggunakan pendekatan pacaran seperti orang kebanyakan. Sejak awal saya sudah memutuskan bila sudah menemukan belahan hati yang cocok, maka saat itu juga saya akan langsung menikah dengannya.

Maka cinta adalah sebuah keputusan.

Cinta adalah keputusan yang kita buat secara sadar. Bukan semata soal ketertarikan atau hal remeh temeh lainnya.

Apakah saya waktu itu sudah jatuh cinta?

Ah, pertanyaan bodoh. Siapa bilang cinta tidak bisa dipelajari? Cinta bukanlah sesuatu yang rumit. Cinta itu sederhana saja. Dan yang paling penting; cinta itu bisa dipelajari dan ditumbuhkan.

Apakah pasangan saya adalah pasangan ideal?

Ah, pertanyaan bodoh yang lain.

Mana bisa kita mengharap sebuah kesempurnaan dari sesuatu yang tidak sempurna? Mengharap sesuatu yang ideal dari manusia yang tidak ideal? Adakah manusia sempurna di muka bumi ini? Yang bisa memenuhi segala kriteria ideal?

Kalau ada, itu berarti ia tidak bakal mau menikah dengan saya tho.. hehehe.. Lha wong, saya ini juga penuh kekurangan kok.

Maka bila kau sampai sekarang masih berharap ideal pada pasanganmu, maka berhentilah saat ini juga. Karena, pasti ia tidak ideal dan tak akan mungkin bisa menjadi ideal seperti harapanmu.

Bahkan rasanya tak akan ada seorangpun di dunia ini yang mampu untuk memenuhi standar idealismemu itu. Yang bisa dilakukan pasanganmu hanyalah senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik untuk dirinya sendiri, dirimu dan keluarga.

Bila kau sudah mulai merasa bahwa menikmati perbedaan sebagai cinta dan dinamika hubungan sebagai keindahan itu hanya sementara dan mungkin di awal-awal waktu saja, maka menunduklah sejenak dan renungkanlah: benarkah janji kita dahulu untuk selalu siap sedia menerima segala sesuatu apa adanya?

Maka, sungguh benar nasehat orang tua kita untuk senantiasa bersikap apa adanya dan menerima segala sesuatu apa adanya.

Bila kau masih saja menyimpan idealisme dan tuntutan harusnya pasanganmu begini dan begitu, maka yakinlah setiap hari kau bisa dengan mudah mendapati satu kekuranganya dan sebaliknya pasanganmupun dengan sangat gampang akan membuat daftar panjang betapa tidak idealnya dirimu.

Seandainya itu yang terjadi dan terus terjadi, maka segalanya akan sia-sia dan kehidupanmu tak akan bisa tenang dan bahagia.

Bukankah sejatinya cinta itu apa adanya dan tak membutuhkan apapun?

Bila cintamu masih membutuhkan pengorbanan, pembuktian, perjuangan, pengertian, prasyarat, harapan ideal dan bahkan masih butuh bahasa dan kata-kata, maka jangan pernah bilang cintamu sejati. Apalagi cinta yang semata karenaNya, lillahi ta’ala.

.

.

Oleh: Widya, Asal Yogya

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu