Saat Dua Anak Cemburu dan Saling Berebut Perhatian Orang Tua

Saat Dua Anak Cemburu dan Saling Berebut Perhatian Orang Tua

Sore ketika saya tengah duduk di teras rumah, terjadi pertengkaran antara kedua anak saya. Mereka saling meneriaki dan berkelahi layaknya dua bocah kecil yang sedang emosi hingga keduanya menangis. Entah bagaimana hal itu bermula, tetapi perkelahian itu tidak berhenti dalam hitungan detik. Namun samapi sepuluh menit berlalu dan adegan ribut di rumah itu tak kunjung berhenti.

Dari teras di depan rumah, saya mendengar teriakan marah mereka berdua. Tampaknya berasal dari lantai dua di mana kamar anak pertama saya berada. Saya pikir itu pertengkaran biasa yang akan segera selesai begitu salah satu menangis sehingga satunya akan mengalah. Saya sedang lelah dan ogah-ogahan mengurus pertengkaran mereka.

Capek.

Istri saya memang sedang tidak berada di rumah saat itu. Ikut berkumpul bersama ibu-ibu kompleks dalam acara rutinan PKK. Saat ia pulang, perkelahian kedua anak saya belum berhenti. Dari depan rumah ia juga mendengar suara ribut itu.

Baca juga: Wahai, Ibu.. Sebelum Engkau Tidur Doakanlah Anakmu. Hasilnya Sungguh Menakjubkan..

“Kok didiemin sih, Pa?” katanya setelah menghela nafas sambil menggelengkan kepala. Ia tidak marah memahami karakter saya yang dikenalinya sejak jaman pacaran sebagai orang yang sangat cuek.

“Belum lama kok. Hehe.” Kata saya pelan merasa bersalah sebab mendiamkan anak-anak.

Istri saya segera menuju kamar anak di lantai dua dan sebentar kemudian kedua anak saya diam. Hmm, memang istri yang hebat. Saya beruntung memilikinya.

Istri saya membawa dua kakak berRakak itu ke bawah duduk bersama saya. Wajah mereka masih terlihat sebal dan enggan bicara satu sama lain. Saya suruh mereka saling meminta maaf dan berjabat tangan. Keduanya menurut walau dengan ekspresi wajah yang merengut. “Tak apalah, sebentar lagi mereka juga akan kembali baikan,” kata saya dalam hati.

Sebagaimana semua anak kecil dengan hati yang tulus, pertengkaran mereka juga berakhir dan malamnya mereka kembali akur. Saya tahu itu. Memang saya merasa agak bersalah, tapi tak terlalu merisaukan. Saya anggap pertengkaran mereka masih berada dalam batas kewajaran.

Namun istri saya tak menganggapnya demikian. Malam hari selepas kedua anak tidur pulas ia mengajak saya membicarakan kenakalan Raka sore. Saya masih ingat, ia bicara serius dengan nada yang terdengar seperti menyalahkan sikap suaminya.

Baca juga: Aku Menyesal Membentak Anakku, Akibatnya Sangat Menyedihkan

Apalagi yang bisa saya lakukan selain diam mendengar penuturannya. Ia menegaskan bahwa sudah saatnya tidak mendiamkan anak-anak kami kala mereka ribut. Sejujurnya, mereka memang sering berkelahi karena berebut mainan, makanan atau bercanda yang kelewat serius. Awalnya bercanda Raka power ranger yang melawan monster, eh, kok berlanjut saling memukul. Mungkin berebut jadi ranger merah yang paling hebat.

Nah, di titik itulah istri saya bicara. Soal persaingan dua anak laki-laki saya yang ingin Raka paling hebat. Oh ya, saya lupa menjelaskan soal keduanya. Mereka adalah kakak berRakak dengan usia terpaut empat tahun. Si kakak berusia 8 tahun dan si bungsu, 4 tahun.

Tidak kurang dari sekali dalam seminggu biasanya kedua membuat seisi rumah Raka ribut. Saking seringnya saya menjadi kebal dan abai. Sementara istri sering muntab dan meledak melihat kelakuan dua bersaudara itu yang tak akur ala anak kecil.

Istri saya berteori, kalau hubungan yang tidak akur itu disebabkan oleh persaingan antar saudara kandung yang biasanya diistilahkan sebagai Sibling Rivalry (Persaingan antar saudara kandung). Itu gejalan yang terjadi pada rata-rata anak yang merasa tersaingi dengan kakak.

Tentu saja semua itu bermula dari anak pertama saya yang merasa tersaingi dengan kelahiran Rakaknya sendiri pada usianya yang keempat. Mungkin saja teori yang saya dengar dari istri itu benar adanya.

Baca juga: Wahai, Ibu.. Menyesalah Bila Kesibukanmu Membuat Jauh Dari Anak

Sejauh ingatan saya, sikap kakak Raka berubah sejak istri melahirkan bayi kedua. Sebagaimana semua ibu yang baru melahirkan, istri memang mencurahkan waktu lebih banyak bagi Rakak Teto. Itu nama si sulung.

 Enam bulan pertama saat Raka, anak kedua, membutuhkan asi dan perhatian sepanjang waktu, istri fokus padanya. Meski bukan berarti mengabaiakan teto sepenuhnya. Tapi konsekuensinya jelas, curahan perhatian lebih besar terarah pada Raka.

Sementara saya dipasrahi untuk memperhatikan Teto. Tteto lebih dekat pada ibunya dan tentu saja, saya tidak berhasil memberi perhatian yang cukup bagi Teto. Ayah secuek saya ini memang tak pandai mendengar cerita anak dan mengerti kemauannya.

Sehingga, ya, sikap dan mood Teto seringkali berubah. Kadang ia Raka pemurung yang tak peduli pada keadaan rumah, bermain di luar bersama teman-temannya sampai sore. Suatu kali ia Raka hiperaktif dengan bicara sepanjang waktu dan bersikap begitu manja pada ibunya.

Kedua sikap yang berbanding terbalik itu menarik perhatian saya. Mengapa teto bisa berlaku demikian padahal sebelumnya ia bukan anak yang suka berubah sikap. Tenang, rajin, dan tengah belajar mandiri.

Baca juga: Hati-Hati ! Gangguan Pada Anak Akibat Ayah Jarang di Rumah

“Mereka berdua kudu dapat perhatian yang Rakal sesuai kebutuhan. Jangan sampai ada satu yang ngerasa iri dan enggak diperhatiin.” Ucap istri saya malam itu.

Mungkin benar, selama ini soal membagi perhatian memang luput dari perhatian saya sebagi seorang ayah.

Dampaknya, Teto tidak terlalu peduli dengan si Rakak. Menganggapnya saingan yang sudah merebut kasih sayang seorang ibu. Ia lebih memilih keluar rumah untuk bermain bersama teman-temannya. Sudah berulang kali saya atau pun istri marah pada Teto sebab jadi bandel.

Tapi itu tak cukup membuatnya jera. Terus saja bermain di luar dan jika di rumah hanya diam atau menjaili si kecil sampai memangis.

Lalu apa yang kami lakukan setelah kejadian berantem sore itu?

Kami hanya bisa memperbaiki keadaan karena toh semua sudah terjadi dan terlambat. Membagi perhatian sbisa kami pada mereka berdua berharap keduanya jadi akur. Terutama untuk Teto, agar dapat berlaku baik pada Raka seperti seharusnya.

Seharusnya seorang kakak dapat menyayangi adiknya? Begitu pula sang adik. Kami sedang mencoba memperbaiki hubungan kami dengannya. Tentu ini bukan salah Teto, melainkan kami berdua sebagai orang tua.

Seharusnya Teto sudah dipersiapkan untuk menerima Raka sejak istri mengandung. Ia perlu diberi pemahaman bahwa kelak akan menjadi seorang kakak yang memiliki tanggung jawab menjaga adiknya.

Setidaknya, sang adik bisa jadi teman bermain di dalam rumah kelak.

Tapi itu tidak pernah kami lakukan sampai bertahun-tahun. Kami melakukan semampunya, menyayangi, memberi perhatian, namun ternyata belum cukup membuat kedua buah hati tersenyum bahagia. Kami melupakan soal rasa bersaing di antara keduanya.

Baca juga: Selagi Ada Waktu, Habiskanlah Bersama Anak. Sebelum Semuanya Terlambat

Sibling Revalry hanya membuat jealous berkepanjangan. Orang tua mana yang tak khawatir dengan relasi hubungan kakak adik yang saling iri dan tak akur. Kami berdua enggan menerima konsekuensi panjang kalau keduanya tak akur sampai dewasa.

Memangnya, orang tua mana yang mau menjalani masa tua dengan melihat hubungan anak-anaknya tidak harmonis. Saya membayangkan sebuah hari tua yang menyenangkan dengan kedua anak yang mau memperhatikan dan merawat orang tuanya.

Juga dengan cucu lucu yang mengunjungi kakek neneknya dan berlarian di halaman depan rumah. Semua itu mungkin terjadi kalau setiap orang tua mempersiapkannya sejak dini. Salah satunya adalah dengan membuat hubungan kakak adik menjadi hangat dan akur.

 

Comments