Saat Rey Ingin Nyanyi di Pengajian Ibu-Ibu

Saat Rey Ingin Nyanyi di Pengajian Ibu-Ibu

Kemarin malam Raihan bikin ulah lagi. Tak tanggung-tanggung, Rey –panggilan Raihan- mau nyanyi di pengajian Ibu-Ibu.

Masya Allah, saya sebenarnya tak habis pikir; masa di forum pengajian yang harusnya dihiasi dengan bacaan al Quran, eeh Rey malah minta menyanyi.

Kok bisa? Jadi begini awal mula ceritanya.

Sudah menjadi kebiasaan di kompleks perumahan saya bahwa pengajian rutin ibu-ibu digilirkan. Tiap anggota akan mendapat jatah giliran rumahnya untuk digunakan pengajian. Kebetulan malam itu jatah rumah saya.
Tikar saya gelar di ruang tamu. Saya siapkan snack seadanya dan minuman wajib saat ada lebih orang berkumpul di seluruh Indonesia; teh manis hangat.

Bada isya, ibu-ibu mulai datang. Rey saya ajak ke teras depan rumah. Saya ajarkan Rey agar bisa bersalaman dengan para tamu.

“Ayo Rey, salim (salaman) dulu sama budhe,” kata saya.

Rey pun menurut. Dan Budhe tadi pun juga menyahut tangan mungil Rey, tak lupa mencium pipinya.
Setelah ibu-ibu telah hadir semua, acara dimulai. Saat itu Rey masih tenang. Ia duduk di pangkuan saya. Sambil menunggu acara dimulai.

Karena yang datang cukup banyak maka Bapak memakai mikrofon dengan speaker mungil. Agar suaranya terdengar jelas oleh semua yang hadir.

Nah, disinilah awal mula tingkahnya Rey.

Melihat mikrofon yang dipegang oleh Bapak, Rey langsung memintanya. Ingin pegang. Ingin mainan mic. Saya berusaha mencegahnya. Tapi Rey tetap aja bersikeras, sambil berkata, “Nyanyii, Ndaa.. Nyanyii.. Nyanyii…Mo nyanyiii… ” Dengan itonasi yang masih terpatah-patah. Maklum, Rey masih berusia 2,5 tahun belum cukup lancar mengucapkan beberapa kata.

“Ssst…. Nyanyi apaa? Ini baru ngaji, Nak,” kata saya menenangkan.

Rey masih tetap berontak. Maunya pegang mic.

Melihat ulah Rey, Bapak berkata, “Nanti ya. Kalau sudah selesai.”

Saya bilang pada Rey bahwa ia boleh nyanyi. Boleh pegang mic. Tapi nanti nunggu giliran, sekarang biar Bapak dulu. Setelah itu giliran Rey. Saya menambahkan kepadanya dengan itonasi perlahan, tidak marah. Tidak keras. Namun dengan lembut.

Mendegarnya Rey jadi lebih tenang. Selama acara pengajian ia tak berulah lagi. Ia sibuk dengan snack yang ada di hadapanya. Beberapa ia makan dengan lahap, terutama roti yang menjadi makanan kesukaan Rey.
Setelah acara selesai, yang hanya berlangsung sekitar 30an menit, saya mesti menepati janji. Rey saya biarkan pegang mic, lalu ia nyanyi dengan suara tak jelas. Sambil berjingkat-jingkat, menggoyangkan tubuhnya tak beraturan.

“Pwangi.. Pwangi… “ ucap Rey yang maksudnya lagu Pelangi.. Pelangi.

Ibu-ibu yang hadir malah bertepuk tangan. Beberapa malah ikut menyanyi. Rey makin kegirangan.
Saya tersenyum aja melihat ulah Rey.

Setelah puas pegang mic, Rey kembali ke pangkuan saya. Ibu-ibu bertepuk tangan, beberapa sambil tertawa melihat Rey. Acara dilanjutkan kembali dengan ramah tamah dan ngobrol.

Buat para Mama, sebenarnya ulah anak-anak kita sebagian besar bisa diselesaikan dengan kompromi dan cari akal. Anak usia batita sudah bisa diajak untuk berkompromi. Sudah bisa diajarkan untuk mengontrol sikap dan emosinya. Namun sebelumnya Mama harus terlebih dahulu bisa mengontrol emosi.

Permintaan Rey tak muluk-muluk, ia hanya ingin; pegang mic sambil nyanyi. Dan itu wajar bagi anak seusianya.
Menanggapi permintaan yang hanya sekecil itu, tak perlulah dengan marah-marah. Dengan bentakan. Janganlah sambil dengan cubitan.

Ajaklah anak ngomong baik-baik, berikan tawaran-tawaran alternatif, bila perlu alihkan perhatiannya. Dan bila anak setuju, maka jangan lupa untuk menepati janji Mama. Anak akan belajar untuk menerima dan percaya, saat Mamanya juga menepati janji yang telah ia ucapkan kepada anak.

.

.

Ana Rosdiana, asal Banyuwangi Mamanya Raihan

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu