Saat Si Kecil Bikin Sebal Mama

2
75

Beraneka macam tingkah anak-anak, lucu menggemaskan, namun tak jarang membuat bunda harus ekstra sabar. Bagaimanapun juga reaksi yang berupa tingkah polah, perasaan dan pikiran  mereka tidak akan jauh dengan respon yang kita berikan atas apa yang mereka lakukan.

Seperti siang itu, pada saat jadwal makan siang Jundi. Saya bersegera mengambil nasi, sop dan abon tuna kesukaannya. Jundi membuntuti dari belakang.

Dia menarik bagian baju belakang saya.

“Uh..uh..uh..” sembari menunjuk mangkuk makan siangnya.

Saya segera tahu, ia ingin membawa sendiri makan siangnya ke ruang tengah. Dimana kami biasa makan lesehan bersama. Saya pun mengikuti dari belakang khawatir dia akan mengguncangkan isi mangkuknya. Namun tampaknya dia sudah semakin pintar saja menjaga keseimbangannya.

Semangkok makan siang sukses dan selamat hingga tepat ditaruh di depan posisi dia duduk. Usianya 1 tahun 6 bulan. Dia sudah belajar menyuap makanannya sendiri. Jangan heran kalau sisa makanan bertebaran dimana-mana.

“Mas Jundi tunggu dulu ya, Bunda ambilkan minum” ditengah tengah dia makan saya ijin meninggalkannya sebentar. Karena dia akan merengek jika tiba-tiba ditinggalkan sendiri.

Tak sampai satu menit saya sudah kembali. Tampak nasi bertebaran dimana-mana. Kuah sop berceceran dilantai. Rupanya Jundi sengaja melempar makanannya ke segala penjuru. Ini hal baru.

“Mas Jundi, makanan tidak boleh dibuang, ini untuk dimakan” saya memperagakan orang sedang menyuap makanan.

Dia diam sejenak, tak berapa lama nasi dilempar-lemparkan lagi. Saya meminta sendoknya dengan lembut dan berusaha menyuapinya. Namun mulutnya tertutup rapat. Tangannya berusaha mengelakkan nasi yang saya suapkan.

“Okey, kalau mas Jundi sudah kenyang Bunda minta mangkuknya,” saya berusaha meminta mangkuk didepannya

Namun dia segera memegang erat mempertahankan mangkoknya.

Saya menghela napas, tidak menyerah.

“Kalau begitu mas Jundi yang bawa mangkuknya, bunda temani ke belakang,” sembari mengajaknya berdiri berusaha menghentikan perbuatannya.

Saya berusaha selalu mengajaknya berbicara, meskinpun dia belum bisa mengucapkan kata. Saya merasa inilah proses belajar dan semakin lama dia akan memahami apa yang saya ucapkan.

Bukannya berhenti, tanpa sengaja dia melempar makanan ke badan saya. Karena hari itu memang pekerjaan sedang banyak sehingga pikiran sedikit penat ditambah dengan sikap Jundi. Saya mulai sebal.

Dengan sadar saya diam dan segera meninggalkannya ke ruang tamu. Khawatir tidak mampu menahan emosi yang akan memutuskan jutaan syaraf neuronnya. Melihat saya pergi, Jundi diam. Terdengar dia merengek sambil memukul-mukulkan sendok ke mangkuk.

Tak berapa lama, suara rengekannya sudah tak terdengar. Tiba-tiba Jundi muncul, sambil membawa mangkuknya dia berdiri saja melihat ke arah saya.

“Uh..uh..uh..” dia meminta perhatian dan berharap saya akan mendatanginya.

Saya masih diam tidak beranjak tetap pada posisi yang sama.  Kemudian dengan langkah kecilnya dia mendatangi dan duduk didekat saya.

Saya masih tetap saja diam. Hingga dia menarik narik kaki saya.

“Uh..uh..uh…”sembari memberi kode dengan tangannya kalau dia ingin makan.

Luluh saya melihatnya, mimik wajahnya menyiratkan penyesalan. Tampak seperti orang dewasa yang merasa bersalah dan ingin meminta maaf.

Barangkali kalau dia sudah bisa berbicara dia akan mengatakan,“Bunda maafkan Jundi, Jundi nggak akan buang buang makanan  lagi, sekarang Jundi mau makan.”

Saya raih badan mungilnya, saya peluk erat. Bagaimana saya akan tetap diam, yang berarti itu akan mematikan perasaannya.

“Oh sayang, maafkan Bunda bagaimana mungkin bunda akan menyakitimu.”

Berusaha memaafkanlah segala tingkah mereka yang menyulitkan, maka dada kita akan merasa lapang menghadapinya.

Jangan membebani mereka karena akan menghambat segala perkembangannya. Karena kita akan melihat bagaimana perkembangannya begitu menakjubkan. Dengan berbekal kesabaran semoga mampu menumbuhkan perasaan sikap empati, kecerdasannya dan segala potensi baik pada diri anak.

 Love You Boy…

.

.

Oleh: Tantri Mega Sanjaya, Asal Jambi Mamanya Jundi

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here