Saya Ingin Anak Cerdas dan Aktif, Bukan Pendiam

0
172
Ilustrasi

Ini sebuah pesan buat anakku, bukan mutiara hidup, tapi hanya sebagai prinsip menjadi orang yang baik. Saya punya  pengertian sendiri bagaimana menjadi orangtua yang baik, mungkin berbeda dengan orangtua lainnya.

Ketika ditanya apakah aku senang  ketika berkumpul bersama teman-teman, misalnya saat reuni lalu mereka memuji anak pertamaku, Satria disebut sebagai anak yang baik, pendiam dan santai saja tidak seperti anak yang lain. Usil, lincah dan lain sebagainya. Tentu tidak.

“Anak kamu baik banget ya, dari tadi diam saja,” kata seorang temanku. “Iya… Ali nih beruntung banget punya anak seperti Satria, tidak membuat orangtuanya pusing-pusing bagaimana caranya nyuruh anak diam,” sambung temanku yang satu lagi.

Itu penting, tapi tak cukup bagi seorang anak. Aku ingin anak yang cerdas dan aktif. Seperti keinginanku dulu jika kelak aku punya anak. Sejak dulu, aku memang senang sekali bermain sama anak-anak dan tak jarang waktu SMA aku dititipkan tetangga anak mereka.

Hal itu membuatku ingin punya anak di usia muda, ketika baru menikah saja, setiap bulan aku pasti tak pernah absen menanyakan ke istri apakah ia sudah telat datang bulan?

Jujur, kalau sudah lihat teman menikah lebih dulu dari aku dan sudah punya anak, ada rasa iri kapan aku bisa seperti mereka? Bisa bermain, makan bersama bahkan semua hal kalau bisa ingin aku lakukan bersama anakku.

Seperti postingan foto temanku, Irfan di Facebook yang menunjukkan anaknya lagi lari-lari di taman bersamanya, anaknya terlihat begitu aktif dan bahagia sekali.

Oleh karenanya, waktu Satria lahir dan besar jadi anak yang pendiam, bukan alasan bahwa aku telah sukses mendidiknya. Seperti yang dialami oleh Satria hari ini, terlihat sangat pendiam, kurang bergaul, dan suka marah secara tiba-tiba.

Apa ini nyaman? Tentu ini masalah bagiku dan istri, karena tidak sesuai dengan harapan dan impianku. Lahir dengan sempurna, tangis pertama dan rupanya yang tampan adalah surga dan pelengkap paling sempurna di dalam rumah tangga.

Aku yakin, anakku pendiam bukan karena kodrat tuhan yang membentuknya demikian, pasti banyak faktor yang mempengaruhinya. Bisa saja karena istriku yang salah memberikan susu dan menu pagi bagi anak hingga kekurangan nutrisi, atau bisa saja karena lingkungan.

Sebagai orang tua, rasa khawatir tentu ada, aku inginnya anakku bisa lebih aktif, mudah bergaul dan cakap, serta akrab dengan kehidupan di luar rumah.

Tak dirasa pengalaman ini sudah berjalan dua tahun lamanya, semenjak ia sudah bisa berbicara memanggilku papa dan mama pada istriku. Entahlah aku sendiri bingung apa yang sudah aku dan istri lakukan terhadap proses tumbuh kembangnya. Seperti selalu mencoba vitamin baru bagi kesehatan anak, tanpa memikirkan bagaimana dampaknya.

Sebagai orangtua tentu saja aku dan istri selalu tidak tenang dan merasa khawatir. Merawat anak dengan rasa khawatir tentu bisa mengganggu pada proses keaktifan serta kecerdasannya.

Mungkin dua hal ini yang harus menjadi pelajaran penting bagiku dan istri sehingga menyebabkan satria menjadi pribadi yang pendiam. Pertama, kurang konsistennya orang tua pada pilihan vitamin dan nutrisi untuk pola makan anak. Kedua bisa jadi karena kurang intensnya waktuku bermain bersama Satria.

Kadang istriku kerap memarahiku dan mengatakan aku kurang dekat dengan Satria, padahal menurutku, aku sudah mencoba melakukan yang terbaik buat anakku.

Aku menukil pendapatnya, aku tidak sependapat, yang ada istriku terlalu sibuk dengan urusan rumah sehingga kadang mengabaikan Satria. Akhirnya aku dan istri sepakat agar kami merubah pola didikan terhadap Satria. Mencoba untuk lebih dekat dan akrab sejak sering ribut tersebut. Lambat laun Satria mulai berubah, sudah jadi anak yang lebih berani dan aktif. Bahkan sekarang Satria sudah menjadi teman satu timku yakni sebagai suporter fanatik sepakbola Ingris yaitu Manchester United (MU).

Tak jarang Satria kecil sudah mau jingkrak-jingkrak ikut berteriak bersamaku ketika MU mencetak Goll “Gooollll….I Love You Lukaku…,” teriak Satria saat menonton bola pertama kalinya denganku.

Dan istriku sendiri, saat ini sudah lebih selektif dalam hal pemilihan makanan dan gizi yang tepat untuk mendukung proses cerdas serta keaktifan Satria, misalnya memberi sayur, susu, serta madu dalam setiap menu makannya untuk membuat ia lebih berstamina.

Alhamdulillah sekarang ia tidak hanya rajin shalat kemasjid bersamaku, tapi ia juga menjadi teman dari keluarga kami. Semenjak itu pula saya menggunakan konsep rumah tangga sebagai satu kekuatan tim menghadapi masa depan.

Dampaknya luar biasa !! Ia sekarang selalu mendapat nilai baik di sekolahnya, tentu saja ini jadi prestasi bagiku dan istri. Perlu diketahui untuk semua orangtua, bahwa kecerdasan dan prestasi anak bisa dibangun di atas kebersamaan dan kasih sayang yang penuh dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here