Sehat Mahal, Sekolahpun Mahal?

Sehat Mahal, Sekolahpun Mahal?

“Jangan menangis istriku, hidup sederhana dan serba  kekurangan  jangan membuat kita lemah. Percayalah jika kita adalah keluarga yang kaya, apalagi yang kita butuhkan? Bukannya kita sudah cukup makan, kuat iman, dan bisa melepas senyum pada orang lain adalah kekayaan.”

“Tapi bagaimana jika anak kita tidak bisa sekolah ayah ?”

“Kita tidak usah khawatir istriku, bukannya kita adalah guru terbaik buat anak-anak kita.”

Begitulah pesan yang disampaikan suami saya pada istrinya yang sedang meratapi nasib menjadi keluarga yang tidak punya apa-apa, tinggal di kampung yang hanya bekerja sebagai buruh tani, dan mengelola sepetak tanah.

Entahlah perih hati masih saja terus menimpali ulu hatiku, tentu sakit yang kurasa. Naluri sebagai ibu tentu menginginkan perubahan yang kelak bisa terjadi pada anakku. Ia bisa menjadi anak yang mampu mengubah keluarga jadi lebih baik, dan sebaik-baiknya.

Bisa sekolah, bisa memakai baju yang layak seperti dikenakan oleh anak-anak tetangga lain. Tapi tentu saja untuk mendapatkan semua itu, suamiku harus bekerja keras siang dan malam, ladang adalah rumahnya. Terbesit dalam hati kalau aku merasa kasihan padanya.

Kakinya yang sudah mulai retak, mukanya yang mulai kusam, dan matanya yang memar, tanda bahwa ia jarang sekali merebahkan kepalanya dengan sempurna.

Akupun pada akhirnya hanya mengurusi sepetak tanah dan membantu beban suami supaya anakku bisa sekolah. Tetapi untuk sekolah saja sungguh sangatlah mahal, belum lagi ditambah dengan biaya hidup sehat yang mahal, memaksa kami sekeluarga hanya meluapkan perasaan sedih bersama air mata yang terus basah setiap hari.

“Anakku jangan pernah sedih, sekolah tidak akan membuat kamu lebih baik, sekolah tidak membuat kamu lebih hebat dan baik hati pada orang lain. Cukup ayah dan ibumu saja yang menjadi guru,” ungkap ayahnya di depan tungku di saat kami sedang menunggu menu makan malam matang.

Aku tetap saja prihatin padanya, aku masih saja ingen ia tetap sekolah, tapi harus bagaimana lagi, kami tak mampu memberikannya yang lebih baik. Apalagi semakin hari ia semakin kurus, susah tidur, dan kulitnya semakin pucat.

Saya menjadi lebih takut. Ketakutan ini terus-terusan menghantui dan membuat keluargaku semakin panik tak karuan. Aku tatap matanya yang sayu, aku peluk, aku cium keningnya, tetap saja ia tak berbuat apa-apa selain merenung dan melamun.

Siapa yang peduli? Hari ini tidak semua orang bisa menjadi baik, tidak semua orang bisa saling tolong menolong, semua orang menjadi lebih kompetitif, bersaing dan saling memusuhi satu sama lain. Orang semkin pintar bukan semakin punya budi pekerti, justru malah saling dengki.

Anakku, bangkit, katakan jika kamu kuat dan menjadi hebat bersama keluarga kami. cepat sembuh sayangku, kamu harus kuat menjadi penyelamat keluarga kami.

Dengan apa? Hidup sederhana mewarisi cinta, peduli pada orang lain, walaupun itu hanya sebatas senyum yang bisa membuat orang nyaman. “Anakku, cukup kamu tidak pernah berbuat salah sama orang lain, maka kamu akan hidup bahagia,” kataku pada anakku.

Sampai hari ini, anakku masih sakit dan nafsu makannya berkurang. Tetanggaku bilang jika anakku kekurangan gizi, tapi tidak ada satupun yang peduli, kecuali aku harus mencari obat alami yang bisa membuat anakku kembali pulih.

Entah kenapa di pojok rumahku ada banyak sekali lebah yang berkeliaran pada lubang atap rumahku, yang di belakangnya terhampar sepetak tanah sebagai sumber penghidupan keluarga kami. Tenyata di sana merupakan tempat lebah bersarang dan  menghasilkan madu.

Dari situ pada akhinya aku mengambilnya, dan mencampurnya dengan temu lawak supaya ia bisa menjadi lahap makan. Dari situ kami pada akhirnya bisa hidup sehat.

Sedangkan anakku pada akhirnya bisa menjadi anak yang tumbuh sehat dan mewarisi kehidupan keluarga petani yang hebat dan sehat dengan madu.

Comments

Close Menu