Semua Bunda Ngerasa Capek, Tapi Hanya Bunda Hebat yang Enggak Mengeluh

Semua Bunda Ngerasa Capek, Tapi Hanya Bunda Hebat yang Enggak Mengeluh

Senang sekali melihat ibu-ibu yang bersemangat menjadi super mom buat anak-anaknya yang masih kecil. Tampak wajah berani untuk mengatasi berbagai persoalan yang menghadang setiap hari. Saya juga merasakan hal demikian, 2 anak saya yang usianya masih kecil selalu membuat rumah ramai. Selalu ada tantangan, tapi namanya hidup, kadang rempong juga.

Saking ramainya, kadang saya merasa sumpek dan ingin jalan-jalan keluar rumah saja. Bagaimana tidak, anak-anak bergerak dari pagi sampai malam seakan tak pernah merasa lelah. Ibunya ini jadi tidak punya waktu untuk beristriahat.

Waktu ohhh waktuu…

Setelah jadi ibu, waktu itu mahal banget. Jaraaaang banget punya waktu sendiri buat bersantai dan menikmati kesendirian. Adanya ya bertugas setiap saat dan setiap hari.

Dua hari lalu saja keributan kecil terjadi rumah. Masalah anak-anak, biasa. Anak kedua saya, Dandhy, menangis karena berantem dengan kakaknya, Angga. Mainan Dandhy diambil paksa sama Angga. Terjadilah adu rebut karena keduanya tidak ada yang mau mengalah.

Bagaimanapun, tubuh Angga yang lebih besar bikin dia menang. Mainan kembali, Dandhy coba merebut tapi tak bisa, lalu senjata terakhirnya keluar. Menangis.

Dari dapur saya mendengar tangisan Dandhy. Lalu segera mematikan kompor dan pergi ke kamar. Dandhy duduk di atas lantai, menangis meraung-raung keras banget. Eh, Angga malah ngeliatin adiknya yang nangis sambil melet-melet ke adiknya.

Mau gimana, saya langsung marah ke Angga karena tingkahnya yang keterlaluan. Emak yang baik hati ini akhirnya berubah jadi singa betina yang galak. Dan dueeerrr, di lura dugaan Angga menangis juga.

Lah kok begini, si kakak malah ikut nangis kayak adiknya aja. Dua anak menagis karena dimarahi orang yang lebih tua. Si adik dinakalin kakak, si kakak dinakalin emak.

Saya jadi batal ngelanjutin masak saat itu. Mending ngurus dua anak tersayang yang sama-sama nangis. Mom comes as hero, emak datang sebagai pahlawan buat bikin keduanya tersenyum kembali.

Bunda tahu ujung ceritanya, keduanya berbaikan lagi. Namanya juga anak-anak, tidak punya rasa dendam dan benci.

Tapi tetep enggak menyenangkan kalau berantemnya tiap minggu. Bayangin aja mereka berantem, salah satu nangis, terus emaknya gagal masak lagi. Kan capek. Mau makan apa pula kalau enggak masak. Pertengkaran antarsaudara enggak boleh terus terjadi. Melelahkan dan bikin emak menyerah. Jangan lagi, ya.

Saya yakin Bunda di rumah juga merasakan hal sama. Apalagi yang memiliki sudah punya 2 anak. Anak satu aja capek bukan main. Eh, kedatengan satu lagi, jelas berlipat ganda rasa capeknya. Bersyukur saja, artinya saya dipercaya Tuhan untuk mengasuh dan membesarkan dua anak.

Membesarkan anak selalu menghadirkan tantangan baru setiap hari. Ada saja hal baru yang memaksa emak untuk belajar jadi ibu hebat. Saya sudah merencakan banyak hal untuk mereka berdua. Tapi di tengah jalan, kondisi kerap berubah.

Seorang ibu tidak pernah bisa memprediksi apa yang akan terjadi besok. Tiba-tiba anak berantem, demam tinggi, jatuh pas naik sepeda, dan seabrek kejutan lain yang tak terduga. Jadi ibu adalah masa terbaik untuk belajar bagi seorang perempuan.

Ternyata saya telah memasuki masa terbaik dalam hidup. Memilik suami dan dua anak lucu yang bikin saya sibuk melulu. Tapi toh saya senang-senang saja. Meski capek tapi berusaha tidak mengeluh, sebab mengeluh tidak menyelesaikan pekerjaan apapun.

Lanjutkan saja, teruskan saja, jangan berhenti hanya karena lelah. Apa sih arti lelah jika semua itu dilakukan demi anak-anak tercinta kita semua.

Kalau lelah, cari teman sesame ibu-ibu buat cerita dan berbagi. Itu menguatkan kita yang kadang lelah.
Pada dasarnya, semua ibu itu sibuk dan lelah. Tidak ada yang benar-benar bebas dari rasa lelah. Enggak beda kok. Say abaca cerita-cerita Bunda di grup facebook Komunitas Saya Bunda Hebat dan melihat semangat dari buibu di sana.

Ibu-ibu itu merasa kuat dan tabah mengarungi segala jenis kerempongan yang ada. Tidak ada satu pun kerempongan yak tak dirasa, tapi yam au gimana lagi, kudu kuat demi anak tercinta.

Kalau karena rasa lelah kita mengabaikan anak, maka jangan menyesal kalau anak nanti besar melupakan orangtuanya. Atau anak jadi naka sebab kurang mendapat kasih sayang dari kedua orangtuanya. Itu banyak terjadi, bukan? Umumnya, anak nakal lahir dari situasi rumah yang tak stabil.

Saya pikir, karena ibunya lelah lalu mengabaikan anak. Sama kayak apa yang sedang kita rasakan ini, Bun, Lelah dan rempong. Kalau kita mau terus berjuang, anak-anak akan tumbuh besar dengan baik. Tapi, kalau kita milih mengabaikan anak dan meninggalkannnya sendirian, anak akan tumbuh kurang kasih sayang.

Jadi, dia bisa enggak keurus. Tumbuh tanpa sentuhan kasih sayang yang penuh dari orangtua. Jangan diterusin ya, Bunda. Jangan nyerah ya Bunda. Lanjutin terus sampe Bunda enggak ngerasa capek lagi.

Comments

Close Menu