Soal MPASI yang Perlu Diketahui Mamah Muda

Soal MPASI yang Perlu Diketahui Mamah Muda

Anak pertama memberi kesan yang teramat menggoda. Mulai dari menjalani kehamilan, persalinan, hingga pengasuhan yang semua dimulai dari nol. Termasuk yang bikin deg-degan adalah saat memulai proses pemberian Makanan Pendamping Asi atau yang kita kenal dengan sebutan MPASI.

Di jaman serba digital ini, informasi perihal seluk-beluk MPASI dengan seabrek teori bisa kita temukan dengan mudah. Masukkan kata kunci MPASI aja ke google, dan mesin pencari canggih itu akan menyediakan ribuan artikel tentangnya. Apalagi kalau data yang kita input lebih spesifik, resep MPASI misalnya, beragam menu bisa tak habis kita pelototi berbulan-bulan.

Bagi ibu muda yang perasaannya biasanya sensitif, penting untuk memiliki kemantaban hati dalam memilih sebuah tindakan bagi buah hatinya. Kapan memulai MPASI, menu apa yang menurut kita terbaik, sampai bagaimana solusi jika proses pemberian MPASI tidak sesuai bayangan. Hal-hal itu nampak biasa, tapi harus mulai dipikirkan. Biar nantinya kita tidak rempong mendengarkan banyak masukan yang kadang malah menguras pikiran. Ya, harus diakui bahwa mendengarkan itu tidak mudah. Termasuk mendengarkan nasehat dan kritikan dalam hal pemberian makanan.

Menjelang pemberian MPASI saya mulai berselancar di dunia maya. Mulai dari bertanya ke sahabat-sahabat via sosmed, sampai ngubek-ubek grup MPASI yang filenya bejibun sekali. Mungkin karena saya tipikal emak anti rempong, akhirnya saya cuma ringkas prinsip MPASInya aja. Perihal varian menu adalah hal yang paling saya abaikan. Bagi saya itu fleksibel saja. Saya share beberapa prinsip di sini, ya.

Pertama, berikan MPASI saat bayi siap menerimanya. Dalam ilmu perbayian terbaru, waktu yang direkomendasikan untuk MPASI adalah 6 bulan. Untuk memantabkan jawaban ini saya mencoba melihat kasus kematian bayi setelah diberi makan buah pisang di usia yang masih sangat dini. Duh, ngeri sekali. Dalam tradisi keluarga kami di desa, bayi yang sering nangis biasanya solusi yang ditawarkan adalah dengan disuapi makanan. Fyuh.. beruntung saya tidak tinggal di desa. Alhamdulillah. Bagi saya hidup terpisah dari orang tua adalah salah satu bukti bahwa kami siap mandiri mengurus anak pertama kami. Termasuk mandiri dalam mengambil keputusan-keputusan perihal bayi kami.

Di sisi lain ada kasus ibu yang memberikan MPASI anaknya justru sudah lewat dari waktu yang direkomendasikan. Beberapa chat dengan ibu-ibu senior, keterlambatan ini juga kurang baik. Kebutuhan bayi untuk tumbuh kembang sudah semakin banyak. Sementara ASI tidak cukup mampu lagi mencukupi semuanya. Maka pemberian MPASI selain untuk melatih anak makan sebagaimana orang tuanya makan, hal yang utama adalah demi pertumbuhannya yang optimal.

Saya tidak saklek enam bulan tepat atau 180 hari. Lihat kesiapan anak aja. Seingat saya kurang beberapa hari Wahida saya suapi pisang. Cuma untuk ngetes aja, sekalian memperkenalkan makanan. Tidak harus pisang sih, alpukat juga sangat recommended. Waktu itu saya gunakan untuk mempelajari kesiapan makan bayi saya.

Kedua, usahakan bayi senang dengan aktivitas barunya. Lagi-lagi saya membaca banyak untuk mendapatkan pemahaman ini. Kisah tentang orang tua yang ‘memaksa makan’ anaknya menjadi point utama yang menghantui pikiran saya. Saat memulai MPASI itu pun saya usahakan menjadi hal menyenangkan bagi Wahida.

Wahida menyeringai setengah tersenyum saat saya menyuapkan makanan pertamanya. Itu pemandangan yang sangat mempesona bagi saya. Nah, fokus saya bukan pada bagaimana makanan itu masuk ke mulutnya, atau bagaimana agar bayi saya mau menelannya. Tapi fokus saya adalah bagaimana Wahida merasa nyaman dengan makanan di mulutnya.

Saya menatap mata Wahida yang berbinar merasakan benda asing di mulutnya. Saya ikuti dengan senyuman lebar dan anggukan kepala. Sambil bertanya, “Enak, Wahida? Itu namanya makanan. Wahida belajar maem, ya.” Ya. Kontak mata sangat penting. Saya tidak peduli mulutnya belepotan. Makanannya dimuntahkan. Saya lebih peduli Wahida tidak merasa terancam dengan aktivitas makannya. Saya lebih peduli bagaimana ia merasa nyaman dengan pelajaran barunya.

Ketiga, berikan variasi makanan sejak awal MPASI. Seringkali kita temukan awal MPASI anak bayi hanya disuapi buah. Kalau saya, jika hanya untuk mengenalkan sekali nggak masalah. Tapi jika seminggu buah melulu bagi saya itu masalah. Dari literatur yang saya baca dan saya amini, prinsip MPASI adalah mengenalkan beragam makanan ke bayi, dengan syarat teksturnya dibuat selembut mungkin. Jadi di awal MPASI bayi sudah boleh dikenalkan dengan aneka karbohidrat (tidak hanya beras, bisa jagung, ubi, ketela, kentang), protein hewani dan nabati, dan jangan lupa lemak. Tambahan lemak bisa didapatkan dari minyak, margarin, atau santan. Saya lebih sering memilih santan.

Kalau saya simak di grup ibu-ibu MPASI mereka membuat jadwal menu makanan selama seminggu. Saya mungkin kurang telaten, jadi tidak membuat jadwal menu untuk bayi saya. Prinsip yang saya pakai akhirnya adalah tidak memberikan makanan berserta tinggi secara berturut-turut, karena akan menyebabkan sembelit. Berarti saya harus mengetahui makanan apa saja yang berserat tinggi itu.

Termasuk, pilihan menu yang kadang direkomendasikan susah ditemui dan mahal tidak saya prioritaskan. Misal ikan salmon, hehehe. Sekali doang Wahida saya belikan itu ikan. Bisa untuk beberapa hari. Selebihnya untuk protein nabati saya variasi antara telur ayam kampung, hati ayam, ceker rebus, daging ayam, dan ikan nila atau gabus. Sayuran juga seadanya, paling sering wortel, brokoli, bayam, dan buncis.

Jadwal makan di awal usia 6 bulan masih kurang teratur. Kadang 2 kali makan, kadang 3 kali. Lihat sikon bayi. Termasuk banyaknya makanan bagi saya itu sangat fleksibel. Mungkin karena di awal prinsip saya adalah tidak memaksa makan kali, ya. Jadi Wahida bisa makan dua atau 3 suap aja saya sudah senang. Baru setelah 7 bulan ke atas saya mulai agak seriusi jadwal makan dan jumlah suapannya. Tetap tidak harus banyak tapi dibuat teratur aja. Diberi alternatif ngemil buah, bubur kacang ijo, dan semacamnya.

Itu aja share saya, Bunda. Alhamdulillah banyak kemudahan menjalaninya. Semoga bunda-bunda yang akan atau sedang menjalani MPASI perdana pun dimudahkan. Stay happy, Moms.

Comments

Wahtini

Mamahnya Wahida, tinggal di Jogja. Suka menulis.
Close Menu