“Stop Bullying pada Anak”

“Stop Bullying pada Anak”

Satu bulan terakhir ini, anakku Tahza sikapnya mencurigakan. Ia sering murung di kamar dan tak mau bergaul dengan keluarga dan teman-temannya. Hal ini membuat kami sekeluarga merasa khawatir, entah apa yang terjadi padanya. Setelah berapa lama aku telusuri dan mencoba membujuknya untuk bicara, ternyata Tahza menjadi korban bulli di sekolahnya.

Tentu sebagai orangtua, aku merasa kasihan dan bahkan merasa bersalah ketika hal ini menimpa dirinya. Ia seperti  kehilangan semangat hidupnya, tak mau berbicara dengan riang bersama boneka barbie kesayangangnya, kecuali duduk di sudut kamar sembari menutup pandangannya.

Sebelumnya aku berpikir sekolah adalah tempat yang nyaman untuk ia hidup dan tumbuh besar menjadi anak yang hebat. Tapi kehebatan dan kecerdasan yang selalu dibanggakannya seketika sirna dan sunyi saat makan malam tiba, berubah menjadi kehampaan. Hal ini juga berdampak pada kami sekeluarga, aku sendiri hanya bisa membatin dan merintih dalam tangis yang tiada henti.

Sungguh aku tak menyalahkan sekolah dan ibu gurunya. Akan tetapi maraknya pembulian di sekolah-sekolah seharusnya menjadi perhatian dan kontrol khusus lembaga pendidikan, hal ini juga bertujuan agar sekolah dapat lebih mengedepankan pendidikan “karakter” kepada semua muridnya.

Tak ada orangtua yang menginginkan anaknya bernasib sama seperti Tahza, apalagi jika pada akhirnya berujung tak mau pergi ke sekolah. Mentalnya jadi rendah dan matanya kosong, tak terlihat lagi jika ia mempunyai cita-cita menjadi ibu dokter seperti dulu yang pernah sempat dikatakannya. “Yah, Ma, Tahza pengen jadi ibu dokter, jika ayah dan mama sakit biar Tahza yang mengobati,” ujarnya kala itu.

Aku merindukan ia mengucapkan kembali kata-kata seperti itu, yang dapat menggetarkan hati saat mendengarnya. Siapa yang tak bangga punya anak cerdas dan selalu aktif. Tapi lihat sekarang, bullying telah menghantui masa depannya, tidak hanya dia tapi juga rumah tangga kami.

 

Dan dengan terpaksa untuk sementara saya menonaktifkan ia untuk bersekolah, sungguh ini keputusan yang tak aku inginkan, tapi harus bagaimana lagi, aku dan keluarga terlebih dulu harus bisa mengembalikan karakternya yang hilang, serta membuat ia kembali bersemangat, menjadi orang yang baru sama seperti ketika aku melahirkannya pertama kami. Mengulang waktu demi Tahza kembali normal dari korban bullying yang dia dapat dari teman-teman sekolahnya.

Korban bullying pada anak semakin meningkat.

Tapi di antara anak korban bullying lainnya, aku termasuk  yang masih beruntung dalam ketidak beruntungan itu sendiri. Menurut salah satu artikel yang aku baca di media, korban bulli pada anak bahkan ada yang sampai meninggal dunia, bunuh diri dengan meloncat dari gedung tinggi, dan bahkan berefek pada kriminalitas. Sungguh itu adalah ironi.

Jadi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika anak Anda termasuk sebagai salah satu korban bullying.

Dari informasi yang aku baca, aku di sini bermaksud untuk membagi tips dan cara mengantisipasi bagaimana bunda menghadapi masalah ini, tapi sebelumnya pastikan dulu jika anak Anda memang baik-baik saja. Namun jika masih bingung, berikut ini sembilan hal yang terjadi pada anak jika mereka termasuk salah satu korban bullying. Jangan ragu, segeralah bertindak, seperti yang pernah terjadi pada Tahza :

1. Terjadi perubahan yang sangat drastis pada emosi anak, semisal ketika ia mulai murung dan tidak suka bergaul lagi dengan temannya.

2. Dia sudah mulai malas untuk pergi ke sekolah. Hal ini karena ia mulai tidak nyaman, dan mukanya dipenuhi dengan ketakutan, tekanan dan sebagainya. Tapi jangan dipaksa anak untuk tetap pergi sekolah, ajak ia berlibur dan bermain, atau jika memungkinkan konsultasikan kejadian yang menimpa anak bunda pada pihak sekolah, atau wali kelasnya

3. Anak minta berangkat ke sekolah lebih awal, dan pulang lebih lambat. Mungkin saja ini terjadi karena ia menghindari bertemu teman yang kerap membulinya di sekolah.

4. Mengatakan peerutnya sakit, sebab uang jajannya diambil sama pembuli, hingga menyebabkan anak tidak makan.

5. Baju sering kotor atau kadang terjadi luka memar di kulitnya. Dianjurkan agar bunda selalu mengontrol anak secara keseluruhan jika sudah terlihat tanda-tanda ini.

6. Kurang percaya diri, selalu mengalah dan tidak mau berperan aktif seperti biasanya. Hal ini juga termasuk gejala yang kerap terjadi pada anak-anak, termasuk pada Tahza.

7. Hasil ujian di sekolahnya menurun, itu pasti.

8. Mendahulukan tugas temannya ketimbang tugas rumah sendiri. Sehingga terkadang tugasnya sendiri tidak dikerjakan.

9. Mencederakan diri. Mau diperlakukan sebagai apa saja mau karena ia merasa takut.

Beberapa tanda di atas setidaknya sudah lebih dari cukup untuk bekal bahan referensi, agar anak bunda jauh dari perilaku bullying dari teman-temannya di sekolah. Semoga kejadian yang terjadi pada Tahza bisa menjadi bahan renungan bagi bunda-bunda semua. Aibat dari perilaku bulli yang bisa terjadi pada anak kita merupakan beban dan peristiwa batin yang mendalam.

Biarlah derita Tahza tidak menjadi derita dunia, hanya cukup bagi kami sekeluarga. Dan kami berharap ada pihak yang lebih peduli terhadap masalah seperti ini, ayo sama-sama mengkampanyekan “Stop Bullying Pada Anak.”

 

Comments

Close Menu