Suami yang Memahami Istri, Akan Berdampak Baik buat Anak-Anaknya

Suami yang Memahami Istri, Akan Berdampak Baik buat Anak-Anaknya

Kerapkali kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menimpa seorang istri rumah tangga. Ada yang tahu mengapa hal demikian bisa terjadi? Bukannya hubungan rumah tangga terbentuk dari cinta yang suci, perayaan pernikahan yang begitu meriah? Lantas dengan alasan apa seorang suami bisa menjadi begitu sangat kejam?

Ada sebuah asumsi dasar sebagai alasan pribadi saya ketika melihat banyak dinamika KDRT di Indonesia, maupun yang menimpa tetangga rumah sebelah sampai curhatan teman semasa SMA. Yang pertama kurangnya pemahaman atau fungsi dari seorang perempuan kenapa ia harus diciptakan. Seperti Tuhan menciptakan Hawa demi memberikan kenyaman hidup bagi Adam, mungkin hal inilah yang tidak diketahui oleh seorang suami.

Untung saja saya perempuan yang aktif mengikuti kajian tentang “Gender” atau keperempuanan semasa kuliah di kampus, serta membaca banyak literatur dari buku-buku, baik pengertian secara agama maupun kajian buku yang lebih umum.

Baca juga :

Cintaku Hanya pada Anakku


Cita-Cita Anak Ditentukan Oleh Kebiasaan Orang Tuanya


Kenapa Mama Tidak Pernah Mencium Bibirku?

Bahkan filosofi jawa pun saya pelajari, seperti  kebiasaan saya lebih menyebut kata “perempuan” ketimbang “wanita.” Karena kata wanita itu kata orang jawa “ wani ditata” sedangkan perempuan kata pak Jokowi adalah adalah kunci perdamaian.

Maka siapa yang percaya pada perempuan, ia akan mendapatkan kedamaian.

Makanya ketika di saat dulu sebelum saya menikah, saya dengan tegas mengatakan pada Mas Danang dengan memberikan persyaratan yang harus dipenuhi selain mahar. Bagiku mahar adalah nomer sekian.

“Mas jika memang sampean niat mau nikahi saya, penuhi dulu persyaratan saya?” ujarku waktu itu.

“Persyaratan apa yang perlu saya penuhi, bukannya mahar telah kita sepakati?” jawabnya.

“Mahar bagiku tidak terlalu penting mas, karena hal itu hanya berkaitan dengan diriku sendiri, tapi persyaratan ini berkaitan dengan persoalan keberlangsungan keluarga kita ke depan,” tegasku.

“Apa yang perlu saya lakukan untuk bisa memenuhi persyaratan itu, aku akan lakukan semampuku, jika itu bisa dilakukan dengan nalar yang sehat dan memang bisa dikerjakan,” balas Mas Danang.

“Santai Mas, tidak berat kok, apalagi meminta persyaratan yang tidak bisa dikerjakan oleh sampean,” ujarku lagi.

“Apa itu?”

“Cukup sampean jelaskan kepada saya, bagaimana sampean memandang seorang perempuan ? Dan kenapa perempuan harus diciptakan oleh Tuhan, dan kenapa saya layak menjadi istri dan ibu dari anak-anak sampean kelak,” lanjutku.

Mendengar itu, suamiku langsung berubah wajahnya, terlihat aura pucat di matanya, seolah memberikan sarat bahwa aku tidak mempercai ketulusan cintanya yang sudah hampir 5 tahun bersamanya, walaupun berjalan sebagai pacar yang tulus mencintainya.

“Mas jangan tersinggung, saya tahu mas bisa bicara itu, tapi aku ingin mendengarnya langsung dari sampean, supaya kita ada kesepakatan yang harmonis bersama,” pintaku.

“Tidak sayang, saya tidak tersinggung. Saya senang,” balas suamiku.

“ Tapi kenapa mukanya pucat?”

“Saya tidak pucat karena sedih, tapi karena saya terharu dan bangga pada kamu, itu pertanyaan yang bagus sekali, saya akan menajawabnya. Dengan senang hati!”

Pada saat itu suamiku memberikan penjelasan yang sangat menarik buat diriku, meyakinkan aku untuk tidak ragu ketika menjadi istrinya.

“Bagiku perempuan adalah pendidik masa depan, guru dari setiap peradaban, apabilah ia melahirkan, di tangannya anak akan lebih terdidik dan melek pengetahuan. Apa yang menjadi keputusan, pasti keluar tidak hanya hasil dari pikirannya saja, melainkan juga dari ketulusan hatinya. Lantas bagaimana aku bisa ragu untuk mencintainya dan dijadikan pendamping yang bisa memberikan jalan bahagia,” ungkapnya.

“Lantas bagaimana ketika punya anak, dan saya ribet mengurus anak serta pekerjaan rumah tangga lainnya?” aku bertanya kembali.

“Saya berjanji, jika urusan rumah tangga tidak hanya urusan istri, melainkan juga urusan seorang lelaki, aku akan membangunkan anak-anak kita lebih pagi darimu, membuatkan susu dan memberikan suplemen kesehatan, serta di malam hari aku akan menemani mereka ketika belajar dan mengerjakan PR. Dan hal lainnya yang perlu kamu tahu tentang rumah tangga adalah persoalan hidup bersama antara pasangan suami istri, apapun yang diderita istri adalah derita suami juga, dan sebaliknya bahagianya istri juga kebahagian semua isi keluarga yang ada didalamnya,” pungkasnya.

Dengan ketegasan yang seperti itu, pada akhirnya aku pun mau menikah dengan Mas Danang. Ia lelaki yang tahu tentang perempuan, fungsinya di dalam rumah tangga, dan tahu pula cara bagaimana agar istri bisa bahagia, hal inilah yang aku rasakan sekarang. Ia sangat mencintaiku dan anak-anak. Dan aku tentu saja merasa bahagia.

Comments

Close Menu