Suami yang Possesif Bisa Menjurus pada KDRT

Suami yang Possesif Bisa Menjurus pada KDRT
A young couple arguing at the breakfast table

Tidak hanya sekali mantan suami saya menampar pipi. Itu dulu. Ketika kami masih hidup bersama dalam satu atap. Sekarang semuanya sudah selesai. Saya hidup sendiri dan dia juga sendiri.

Ini lebih baik daripada selalu mengulangi pertengkaran dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT-red) atas nama sayang. Ya, mantan suami saya itu, melakukan KDRT pada saya atas nama kasih sayang. Padahal, kekerasan tetaplah kekerasan.

Mantan suami saya adalah seorang pria yang posesif. Bersikap berlebihan dalam segala hal dan malangnya baru terlihat setelah saya resmi jadi istrinya.

Bagaimana saya hendak menceritakan ini, itu masa lalu yang pahit, sebenarnya tak perlu diingat lagi. Tetapi, saya perlu mengungkapkan pentingnya sikap istri agar tidak ada lagi suami yang bersikap semaunya dalam rumah tangga. Semua perempuan berhak mendapat perlakuan yang baik dari suaminya.

Sebab sampai saat ini rasa trauma masih menghantui pikiran saya. Ya, pengalaman menikah dengan mantan suami sungguh menyisakan trauma berat. Menulis seperti ini sebenarnya salah satu usaha penyembuhan diri. Biar saya merasa lega.

Sejak menikah, suami seperti memutus kehidupan sosial saya. Begitu banyak larangan yang diberlakukan pada Istrinya dari mulai bertemu teman sampai pada kegiatan lain di luar sana. Saya ini seperti dipenjara saja. Dilarang kemana-mana. Dia bilang khawatir dan tidak ingin saya kenapa-napa.

Memang mulutnya manis. Tetapi melarang seorang perempuan dewasa untuk bergaul dengan teman-temannya bukanlah keputusan yang tepat. Dikiranya saya tidak bisa menjaga diri saat bertemu dengan teman lelaki atau saat berada di luar rumah.

Memangnya kenapa? Suami saya selalu keberatan dengan karakter flamboyan yang saya miliki. Maksudnya begini, saya ini sejak dulu memang perempuan yang suka bergaul dengan siapa saja. Tidak memandang itu perempuan atau laki-laki.

Hasilnya, daftar teman saya begitu panjang. Selalu saja ada yang mengajak bertemu untuk sekadar hangout di cafe.

Sebenarnya suami saya sudah benar-benar mengerti dengan sifat saya yang suka bergaul dan ramah kepada siapa saja, termasuk perhatian kepada siapa saja. Kalaulah banyak pesan masuk di handphone dari teman, maka itu wajar saja.

Tetapi tidak bagi suami saya. Sejak resmi jadi suami, dia benar-benar menunjukkan sifatnya yang posesif dan mulai berani melarang saya untuk pergi bersama teman. Hasilnya, saya sering di rumah. Dua bulan pertama saya masih betah tinggal di rumah. Itu pun mungkin karena efek pengantin baru.

Tetapi situasi tidak mengenakkan ini terus berlanjut. Saya benar-benar tidak betah dikandangkan suami dan akhirnya mulai sering keluar rumah. Sesekali bolehlah keluar bersama teman-teman lama. Karena setelah saya pikir, pernikahan sudah memisahkan saya dari kehidupan sosial dan teman-teman.

Malam itu saya bertemu teman-teman lama di sebuah cafe. Pertemuan sesama teman lama dan semua berjalan biasa saja.

Sepulang hangout, suami sudah menunggu di rumah dan tahukah apa yang terjadi selanjutnya? Ia menginterogasi istrinya sendiri seperti seorang tahanan.

Tetapi saya tidak bisa begitu saja menerima. Sebab saya juga punya hak untuk pergi keluar bersama teman-teman. Toh hanya mengobrol biasa, tak melakukan apa-apa. Tapi tidak bagi dia, ia terus saja menanyakan hal-hal yang tidak penting.

Semua orang yang posesif selalu curiga berlebihan. Iya, suami saya curiga pada hal yang tidak-tidak. Takut saya selingkuhlah, takut saya ketemu mantan, dan lain sebagainya.

Kesal banget kan kalau ditanyakan hal-hal begitu. Dikiranya saya enggak tahu perbedaan setelah jadi istrinya. Tentu saja saya menjaga diri dan tahu batasan-batasan yang perlu. Tapi dasar posesif, saya malah dimarahi dan dicurigai yang enggak-enggak.

Mantan suami saya itu, memang bukan tipikal pria yang suka bergaul dan memiliki banyak teman. Jadi, ia amat berbeda dengan saya yang easy going dan perhatian dengan siapa saja.

Paginya, saya melihat dia mulai cari tahu dengan  memeriksa handphone saya. Mungkin dia sedang mencari pesan tersembunyi atau sejenis itu. Berharap bisa menemukan celah lalu marah lagi pada saya.

Hasil gambar untuk posesif

Foto-foto: Ilustrasi


Tak disangka, sebelum berangkat kerja dia masih sempat menginterogasi saya soal pesan-pesan dalam handphone. Ya Tuhan, kok ada lelaki seposesif ini.

Kemudian hari-hari di dalam rumah terasa menjengkelkan. Semua ini hanya disebabkan sifat over protektif mantan suami saya.

Seakan-akan seorang istri adalah hak milik mutlak yang boleh diperlakukan sesuai keinginan suami tanpa mempedulikan keinginan-keinginan istri. Padahal dia benar-benar tahu, kalau dari dulu saya memang punya banyak teman. Saya mengenal mereka lebih lama dari dirinya. Lalu, dengan seenaknya dia mau memutus hubungan pertemanan itu.

Empat bulan bersamanya saya masih tahan menghadapi karakter posesif itu. Tetapi sejak dia berani menampar, mempraktekkan KDRT, saya sudah tidak betah lagi bersamanya.

Saya mulai berpikir bahwa saya telah menikahi orang yang salah. Seharusnya bukan dia yang jadi suami saya. Tetapi begitulah kondisinya. Saya coba untuk terus menahan. Tetapi perlakuan kasar yang mulai saya terima jadi menghancurkan segalanya.

Perempuan berhak diperlakukan dengan baik dan lembut. Suami saya? Dia malah menampar. Bahkan pernah menendang saya waktu saya coba membantah dan melawannya. Sungguh, sifat posesif yang dimilikinya berujung pada KDRT.

Memang dia meminta maaf usai menampar. Meminta maaf, merayu, dan selalu bilang bahwa semua ini karena ia sayang pada istrinya. Dia hanya tidak ingin kehilangan. Tetapi, menggenggam istri terlalu kuat justru akan membuatnya terlepas dan semakin jauh.

Dan begitulah perasaan saya padanya. Pernah saya mencintanya di awal-awal pernikahan. Tetapi sikap posesif dan curiga berlebihan buat cinta saya padanya perlahan hilang. Dia bilang ini bukti cinta dan sayang, tetapi bagi saya itu bentuk pengekangan. Over protektif!

Mau bagaimanapun, seorang istri tetaplah perempuan yang memiliki teman dan kehidupan sosial. Seorang suami tidak seharusnya memutus istrinya dari teman-teman yang  sudah menemaninya selama ini.

Apalagi sampai berbuat kasar dan menampar. Sungguh keterlaluan dan tidak pantas. Saya beruntung memilih jalan perpisahan dengannya. Waktu saya utarakan keiginan ini, dia memohon, memelas dan berjanji pada saya akan berubah.

Tapi maaf, saya sudah hafal betul tingkahnya. Memohon dan memelas kerap ia lakukan. Tetapi itu tidak pernah ditepati. Sungguh, hidup bersama pria seperti itu benar-benar melelahkan.

Pada akhirnya, seorang istri adalah seorang perempuan yang juga manusia biasa, memiliki hak dan keinginan. Ada begitu banyak teman yang ia kenal sebelum mengenal suaminya. Jadi ia berhak bertemu dan bermain dengan mereka.

Melarang istri keluar adalah sikap posesif. Sikap seperti itu bukannya akan menjaga cinta, melainkan menghilangkannya. Sebab dengan itu berarti menunjukkan sikap tidak percaya pada istri. Ya, padahal seharusnya setiap pasangan harus saling mempercayai.

Sebab terlalu posesif, setiap tindakan istri yang di luar kebiasaan akan dicurigai macam-macam. Diinterogasi layaknya kriminal yang melakukan tindak kejahatan. Lalu kalau tidak sabaran, akan terjadi kekerasan. Saya pernah merasakan tamparan dan beberapa jenis kekerasan lain, rasanya sungguh menyakitkan.

Comments