Suamiku Hebat Tidak Hanya Pada Istri, tapi pada Anak-Anakku Juga

Suamiku Hebat Tidak Hanya Pada Istri, tapi pada Anak-Anakku Juga

Pertemuan saya dengan suami saya berawal dari kegiatan organisasi di salah satu kampus ternama di Yogyakarta. Kebetulan saya satu daerah dengannya, yaitu sama-sama kelahiran Padang. Tentu saya mau menikah dengannya, selain orangnya rajin ibadah, rendah hati, tidak pelit, dan baik pada semua orang.

Yang paling terakhir dari suamiku Mas Romi adalah tentunya penampilannya yang menarik dan sempurna. Ketika menatap mukanya, aku merasa adem, dan apabila tersenyum semakin aku temukan setitik cahaya kenyamanan yang memancar dalam pada batinku.

Dengan prilaku kesehariannya itu aku langsung yakin, jika ia layak dijadikan sandingan hidup, menjadi imam dalam rumah tangga. Tidak hanya itu, aku melihat aura kenyamanan dalam dirinya. Hingga waktu itu aku tak berdaya ketika ia mengatakan akan melamarku. Tak bisa dibayangkan aku akan menjalani hidup bersamanya di bawah tangannya yang lembut itu.

Dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahim aku menganggukkan kepala dengan seyakin-yakinnya, tanpa rasa ragu sedikitpun yang membesit sanubariku.

Aku mencintai dia apa adanya, meskipun saya lebih sedikit berada darinya. Tapi apalah arti dari sebuah harta jika sama sekali tidak bisa membuat aku lebih bahagia. Apalagi aku seorang dosen yang secara SDM lebih diunggulkan pikirku. Tapi aku menyadari jika dia lebih pandai dariku, sebab dia telah membuat aku tak berdaya dan benar-benar takluk bersimpuh rindu setiap kali aku jauh darinya.

Akhirnya aku menikah dengan mas Romi. Setelah menikah aku jadi dosen dan dia menjalani profesi sebagai kontraktor pembuat rumah. Alhamdulillah hasil menjadi kontraktor lebih dari cukup untuk kebutuhan rumah tangga, tapi kendalanya ia jarang sekali pulang ke rumah, aku nyaranin ia untuk bekerja yang sering pulang ke rumah. Dan ia pun merintis usaha sendiri sekarang, setidaknya ia setiap hari bisa pulang walaupun itu sudah larut malam.

Singkat cerita, Setelah sekian lama menikah dengan Mas Romi, kami dikaruniai dua orang anak yang usianya tidak terlalu jauh berbeda, tapi bukan kembar, yaitu Rafa dan Dita. Keduanya mempunyai keunikan dan kenakalan masing-masing. Sebagai ibu aku sedikit kewalahan mengawasi mereka, apalagi aku juga sibuk mengajar sebagai dosen di kampus, tak sempat mengantarkan mereka ke sekolah.

Tapi bagi suamiku mengasuh anak bukanlah hal yang sulit, justru menyenangkan, walaupun ia mempunyai waktu yang padat di kantor. Tapi ada yang unik dari suamiku dalam hal membangi waktu dengan anak-anaknya.

Tentu ini membuat aku kagum pada Mas Romi, jarang sekali ada lelaki yang seperti dia, seribu satu mungkin jika bisa dihitung. Ia sangat piawai dalam mendidik anak, walaupun jarak ketemu dengan anak bisa dibilang lebih intens daripada aku ibunya.

Entah apa rahasianya, akhirnya aku penasaran kenapa anak-anak kok lebih suka bareng sama ayahnya dibanding ibunya. Bahkan tak jarang anak-anak selalu bilang kangen papa ketika sehabis pulang sekolah.

Setelah sekian lama kuperhatikan, ternyata suamiku menang satu langkah dariku, walaupun caranya sangat sederhana.

Kemenangan Mas Romi pada kedua buah hatinya, tak lain karena ia selalu ada dalam momen yang tepat dan berarti buat seorang anak. Ia selalu menjadi orang yang pertama membangunkan anak-anak di pagi hari dan ada disampingnya ketika mau tidur di malam hari.

Berikutnya sehabis subuh dia mengajarkan anak untuk selalu disiplin waktu, olahraga pagi, mandi dan menyiapkan sarapan pagi. Sehabis itu ia mengantarkan mereka ke sekolah, di malam hari, waktunya anak-anak belajar ia juga selalu menemani, dan yang terakhir sebelum tidur ia tidak pernah lupa untuk berdongeng. Hingga anak-anak merasa diayomi dan disayang ketimbang ibunya yang tidak tahan ketika ia mengobrak-abrik rumah.

Waktu bersamanya memang tidak terlalu banyak, tapi waktu yang sedikit bersama anak dimaksimalkan dengan tepat, hingga membuat anak merasa nyaman bersama ayahnya. Itulah kehebatannya, ia sungguh sayang pada Rafa dan Dita.

Sisanya membagi waktu bahagia denganku sebagai istri, ia selalu memberikan ciuman dan pelukan mesra, walaupun jerih payah dan surut matanya terlihat lelah, tapi ia pernah berjanji tidak akan pernah lelah jika itu buat istri.

Terimakasih Mas Romi, telah membuat aku, Vara bisa bahagia dalam lindungan dan kasih sayangmu selama ini. I Love You.

Comments

Close Menu