Suamiku, Jangan Keseringan Keluar Malem Bareng Temen

Suamiku, Jangan Keseringan Keluar Malem Bareng Temen

Resiko menjadi istri dari suami sibuk itu sering ditinggal pergi. Jarang banget dia di rumah. Paling pulang malem dan pagi udah berangkat lagi. Begitulah suamiku, Parto, menjalani kesehariannya sebagai seorang suami. Suami saya ini seorang pekerja kantoran yang kerjanya sudah ditentukan dari jam berap sampai jam berapa.

Harusnya sih delapan jam, tapi berhubung dia berada di jabatan top level, maka tak jarang jadwal rapat memaksanya kerja sampai malam. “Ini resiko jabatan,” kata Parato padaku suatu kali.

Awalnya saya mengiyakan dan menerima saja. Kesibukannya memang tak terelakkan, lagi pula kami masih muda dan memang inilah saatnya bekerja keras, bahkan sampai malam sekalipun. Tapi namanya perempuan, lama-lama saya jadi ngerasa kurang perhatian.

Kesibukan suami menjauhkan saya dari perhatiannya. Jarang sekali dia menyapa dan mengajak saya ngobrol. Apalagi mau ndengerin keluh kesah saya. Namanya perempuan, paling senang cerita dan didengerin seseorang. Lah kalau enggak ada yang dengerin, masa mau cerita sama tembok?

Saya jadi ngerasa nelangsa sendiri. Ngerasa jadi korban sinetron yang teraniaya sepanjang musim.

Kata orang, pertengkaran itu hal biasa dalam rumah tangga. Saya juga bertengkar dengan suam karena persoalan waktu ini. “Mau sampai kapan kamu ngurus kerjaan terus?”

“Maksudmu, ini tanggung jawabku,” kata Parto menjawab.

“Terus tanggung jawab sama aku gimana?” jawabku sinis.

“Bukannya aku kerja buat kamu.”

“Enggak penting tanggung jawabmu itu, kalau kamu di luar rumah terus.”

Parto diam, tidak membalas ucapan terakhirku. Iya, dia memang tidak suka bertengkar panjang-panjang. Lebih suka menahan marah dengan diam daripada melangsungkan pertengkaran hebat dengan istri. Satu sisi, aku senang dengan perangainya ini, mau mengalah kalau aku sedang panas.

Di hati aku memaklumi kesibukannya itu, tapi tetep aja, enggak bisa gitu terus. Mau sampai kapan di jadi manusia luar rumah. Ini pernikahan buat apa sih sebenarnya? Buat banyakin kesibukan di luar rumah?

Kan bikin capek Bunda.

Saya ingin dia lebih banyak ngasih waktu buat saya. Kerja ya kerja, tapi enggak perlu sampai seharian penuh sampai malem segala. Emangnya istri enggak perlu dikasih waktu, diajak ngobrol panjang kek, makan bareng kek, gitu aja enggak dapet.

Tiap kali suami masih kerja di luar, aku jadi bingung ngapain di rumah terus akhirnya ain gadget sendirian. Bener-bener jenuh dengan kondisi seperti ini.

Maaf aja kalau aku ngungkapin cerita kayak gini buat umum. Tapi, mungkin perasaan ini enggak dirasain aku aja sih. Bunda yang lain ngerasain juga betapa sakit ditinggal dan enggak diperhatiin. Klasik banget ya persoalannya. Tapi begitulah dilemma istri muda yang belum punya anak tetapi ditinggal mulu sama suami.

Jenuh tauk.

Kerja sih kerja, tapi umumnya kerja kan cuman depalan jam dari pagi sampai sore. Kalau sore sampai malem namanya lebur. Lembur itu sekali dua kali dalam satu minggu. Tapi ini kok setiap hari selama berbulan-bulan. Jarang sampe rumah tepat waktu.

Aaaaaak, sibuk amat dah.

Bagaimana caranya melewati masa-masa seperti ini ya Bunda? Saya yang terbilang masih pasangan muda ini belum bisa menerima fakta seperti ini. Ditahan-tahan kok tetep enggak bisa.

Barangkali fenomena ini juga dialami banyak ibu di seluruh alam semesta. Udah nikah dan punya suami, eh malah sering keluar malem suaminya. Ini kebiasaan buruk yang wajib dikikis. Kalaupun suami dulunya seneng nongkrong sama temen, sekarang kan beda.

Ada kebiasaan yang perlu dikikis dan dibuang, ganti dengan nongkrong di rumah bareng istri. Mau bilang punya temen banyak juga, semuanya perlu diubah.

Pernah lho saya sampai ngunci pintu rumah gara-gara suami pulangnya jam satu malem, bilangnya rapat sama bos. Saya percaya dia rapat, tapi kalau sampai jam satu malem, istri mana yang suka.

Perempuan hanya pengn suaminya bisa meluangkan banyak waktu buat dirinya. Hidup ini kan enggak cuman sibuk kerja, enggaklah. Ada waktu buat nemenin istri, dnegerin cerita, dan disuruh istri beresin rumah.

 

 

Comments

Close Menu