Suamiku Lelaki Paling Romantis di Dunia

0
359

Namaku Amna, aku lahir di Banda Aceh, suamiku namanya Mas Fahlevi keturunan jawa tepatnya Jogja. Sebelum memutuskan menikah, aku dan dia adalah teman sekantor. Yang aku tahu, Mas Fahlevi orang yang sangat pemalu, pendiam tapi romantis. Entahlah, sikapnya membuatku terpanah dan menaruh hati.

Terkadang aku selalu berpikir, andai saja aku punya suami seperti dia, betapa sempurnanya kehidupan rumah tangga, karena aku yakin setiap masalah yang nantinya menimpa keluarga bisa teratasi dengan mudah. Pikirannya yang cermerlang, santai, disertai dengan hatinya yang lembut sungguh membuat aku merasa nyaman.

Pada bulan Agustus 2009 aku memutuskan menikah dengan mas Fahlevi usai ia memastikan perasaannya sehabis pulang kerja. Aku tak bisa berkutik apa-apa, diam mematung seraya tak percaya bahwa mimpi itu datang tiba-tiba. Walaupun kami sebenarnya dekat tapi sama-sama malu mengungkapkannya.

Aku tak bisa tidur semalaman kala itu, perasaan senang dan senyuman terus terpancar dari bibir ini, karena apa yang sudah disampaikan mas Fahlevi membuat aku terharu dan terbawa ke mana saja aku pergi. Esoknya aku ketemu dengannya di kantor, ia langsung menyambutku dengan senyum yang membuat aku semakin kaku.

“Mbak Amna nanti sehabis kerja bisa ngobrol di luar?” bisiknya, kebetulan kantor masih agak sepi dari riuh orang-orang.

Aku kikuk dan hanya bisa menjawab “Iya,” itu saja.

Setelah sore itu, aku langsung bergegas ke warung kopi terdekat kantor, sampainya di sana mas Fahlevi kembali melemparkan pertanyaan yang sama, hingga membuat mukaku kembali merah merona.

“Amna, aku pengen memastikan yang tadi malam, apa benar kamu mau  menikah dengan aku?” tanyanya lagi

“Mas apa yang membuat kamu berani menyatakan itu padaku ?” aku balik bertanya walaupun tanpa aku minta alasan, sebenarnya jauh di lubuk hatiku aku menyayanginya lebih dari ia menyayangiku.

“Karena aku melihat kehidupan yang lebih sempurna dari biasanya di matamu Amna, dengan itu aku berkeyakinan jika kamu terbaik dan selamanya paling baik,” ujarnya.

“Aku sayang kamu bukan sebagai pacar tapi sebagai calon istri yang nanti kelak akan menjadi ibu bagi anak-anak kita,” katanya santai.

Singkat cerita aku pun akhirnya menikah dengannya. Ia memang lelaki yang baik, impian setiap perempuan, itulah penilaianku yang paling pertama. Sebab di balik ketegasan dirinya, ia menyimpan keromantisan yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

Walaupun selama 3 tahun menikah dan belum juga dikaruniai seorang keturunan, tapi kehidupan keluarga kami baik-baik saja. Mas Fahlevi selalu memberikan dorongan semangat agar kita selalu tawakkal dan sabar dengan ini semua. Walaupun seorang anak tetap sebagai mahkota yang tak bisa diukur dengan apapun dalam rumah tangga.

Akhirnya di tahun ke empat, 1 bulan sebelum anniversary pernikahan, aku hamil 2 bulan, tentu ini kabar gembira. Hingga pada akhirnya aku melahirkan anak pertama, Ahmad Edi Bangbang namanya.

Aku yakin dengan hadirnya Edi suamiku akan berubah, tapi aku salah, ia tak goyah, iya tetap saja romantis dan selalu memberikan kejutan yang tak terduga. Kedua, penilaianku tetap sama, dia yang terbaik.

“Sayang kamu tidak ada duanya,” ungkapnya.

Oh Tuhan batinku, ini suamiku atau malaikat yang selalu berkata-kata lembut? Ia tidak mudah marah dan juga ringan dalam hal membantu pekerjaan rumah tangga. Mengepel rumah, menyuapkan bubur dan memberikan susu anak, bahkan juga sangat khawatir jika Edi sakit dan kekurangan probiotik.

Sungguh aku tergugah dengan tanggung jawabnya. Matanya tak pernah tersorot sayu dan lelah mengurus istri dan anak-anaknya. Walaupun terkadang ia juga mengeluh dengan rasa capek seharian bekerja di kantor.

Tapi suatu hal yang tak pernah aku ingkari, aku akan hidup semati dengannya. Ia tidak pernah henti mengucapkan kata-kata manis dan romantis sebelum kami tidur, bepergian, maupun ke mana saja ia akan pergi, “Ma, I love you,” ucapnya sembari mengecup keningku.

Kalimat itu menjadi  perekat hubungan kami berdua, terkesan sepele tapi kami bahagia dan nyaman bersamanya. Apalah arti semua tentang hidup jika seorang perempuan tidak diperlakukan nyaman oleh suaminya. Dan sampai kapanpun ia tetap yang terbaik, aku berharap perlakuannya tak berubah sedikitpun kepadaku.

Bagiku ia tidak pernah dilahirkan, akan tetapi diciptakan sebagai orang yang akan menuntun kami sekeluarga ke jalan yang benar. Sebab itu ia selalu berlaku adil dan memuji penampilanku.

“Amna kamu tetap terlihat cantik seperti dulu, dan kamu hanya satu-satunya orang yang senantiasa aku rindu,” pungkas suamiku.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here