Sudahkah Menjadi Ibu yang Adil Pada Anak?

0
90

Tidak Adil

Sebagai ibu, banyak sekali saya merasa tidak adil terhadap anak saya. Walau saya rasa, suami saya juga ada ketidakadilan-nya, namun biarlah ia menilai dirinya sendiri.

Bagaimana tidak adilnya?

Saya menyuruhnya sholat, sementara saya menghabiskan scrolling fb detik-detik terakhir, atau menyelesaikan ngelap kompor yang dikit lagi. Ngepel setelah nyapu, karena kalau disela sholat dulu, lantainya keburu kotor lagi.

Sementara mulut saya komat kamit mengingatinya agar bangun dari kemalasannya dan segera berwudhu.

Akhirnya?

Cara dia untuk turut mengajakku segera sholat adalah dengan berwudhu dan berkata ‘ma, sholat jama’ah yuk!’

Glek. Skak mat!.

Saya tidak adil ketika menyuruh anak-anak untuk memiliki kebiasaan baik untuk segera mandi seketika setelah bangun pagi, walaupun terkadang saya baru sempat mandi di sore hari.☹️

Saya tidak adil, ketika mengharapkan mereka cinta Al-Qur’an dan senantiasa suka membacanya. Sementara, kapan banget sih, mereka melihat saya terus menerus dalam segala waktu luang, memegang kitab suci?
Saya memang mengaji, tapi kebanyakannya ketika mereka sedang terlelap, atau malam sekali. Jadi, toh mereka jarang melihat saya sedang mengaji?

Saya tidak adil, mengharapkan mereka suka sayuran, sehingga mereka bisa tumbuh menjulang tinggi dan sehat, sementara saya? Memilih-milih dan kalaupun mengambil, tidak sesuai dengan porsi nasi di piring .

Saya tidak adil, ketika mengharapkan anak hafal juz 30, lalu 29 dst. Sementara saya yang menjelang 40, belum tuntas dengan juz yang ada sejak kecil.

Saya tidak adil.

Banyak ketidak adilan saya pada mahluk kecil titipan Tuhan pada saya.

Dan parahnya, walau saya tahu; action speaks louder than words. Bahwa menjadi tauladan itu adalah suatu keharusan, sebelum mengharapkan keturunan saya lebih baik dari saya, saya masih banyak sekali terlena dan terlarut dalam kemalasan saya untuk menjadi contoh.

Bukankah, nanti kita akan dimintai pertanggung jawaban tentang semua ini?
Kurangkah berat beban itu?
Kenapa masih menganggapnya ringan?

Mana tauladan itu? Mana?

Saya tidak adil. Masih belum.
Semoga Allah mengampunkan saya.

Semoga Allah sudi untuk senantiasa menatar saya menjadi hamba yang lebih baik. Lebih adil. Semoga saya bisa lebih ‘mencambuk’ diri,…sebelum waktu yang diberikan pada saya segera berakhir, nanti, besok, atau lusa.

Bagaimana kiranya, mempunyai angan-angan anak yang sempurna fisik, mental, ahlaknya, jagoan di kelas dan juga penghafal Qur’an, ketika kehidupan kita, sebagai orang tuanya hanya stagnan dan bergerak sedikit sekali, dibandingkan masa remaja kita dulu;
Hijab hanya lebih panjang sedikit,
Bacaan sholat tetep belum ngerti,

Surat pendek yang sama diulang-ulang dalam sholat sejak 20tahun yang lalu,
Baju dasteran di rumah lengkap dengan rambut acak-acakan.
Marah-marah jika ada yang berantakan, dan berharap mereka paham akan keletihan kita, dan mengajarkan mereka untuk bersabar ketika berebut mainan sama adiknya.

Mari sama sama kita segera kuatkan niat,
Singkirkan malas,
Menyegerakan sholat,
Merapihkan pakaian ketika di rumah,
Menambah hafalan surat,
dan seribu satu hal lainnya, yang kita harapkan anak kita jadi lebih baik dari kita.

Yuk bikin list..
Apa saja yang kita inginkan anak kita menjadi,
dan bagaimana kita juga mencapai gol yang sama atau lebih, terutama dalam kebaikannya.

Semoga Allah sudi, senantiasa membimbing kita dalam jihad memperbaiki diri dan keluarga.

Bukankah musuh utamamu, adalah nafsumu sendiri?

Wallahu a’lam bis shawab

‪#‎winathethinkingcoach‬

A self reminder.

Disalin dari tulisan: Wina Risman 

Oh, iya untuk Bunda yang pengen tahu tips agar anak tumbuh cerdas, bisa yuk dibaca tautan ini yaa.. Tips Anak Cerdas. 

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here