Surat Cinta buat Ayah

Surat Cinta buat Ayah

Aku tak bisa membayangkan betapa hebatnya seorang ayah. Tak pantas jika aku tak mengatakan jika Ia adalah sang pahlawan, ia hero, ia terbaik, serta kekuatan yang selalu memberi jalan dan dukungan dalam setiap tindakan. Bahkan ia tidak pernah mengeluh dalam setiap permintaan yang aku ajukan. Ia hanya membuka senyum lebar dan berucap, “Besok ayah carikan ya sayang.”

Aku baru sadar hari ini, semenjak aku melahirkan anak pertamaku yang bernama Fafa. Di pikiranku langsung terbesit wajah ayah, usianya sekarang sudah mulai menua. Tiba-tiba aku kangen dan bermaksud ingin memeluk tubuhnya yang mulai renta, sayu matanya begitu tampak nyata dalam mata.

Dulu ayah sangat kuat dan kekar badannya. Aku selalu minta digendong setiap mau berjalan, aku tidak takut, aku manja banget, aku yakin ayah merasa ribet. Tapi ayah tak pernah mengeluh sedikitpun. Tapi di saat ayah sekarang lagi tak bisa berbuat apa-apa di mana kerja hanya sekedarnya untuk memenuhi hidup, aku malah jauh dari sisinya.

Entahlah ayah, kenapa kita harus berpisah. “Kita memang harus berpisah,” begitu bukan yang kau katakan sebelum aku ikut pergi jauh bersama suamiku tercinta. Kau katakan jika aku sudah cukup dewasa dan mampu hidup tanpa ayah. Bagi Lisa tidak ayah, sampai kapanpun, dalam kondisi apapun, ayah tetaplah orang yang paling hebat dan kuat, tempat curhat ketika Lisa punya masalah keluarga.

Di saat yang seperti itu, aku masih bisa merasakan kata-kata bijaknya yang membuat aku tak khawatir menghadapi ribetnya urusan rumah tangga. Terimah kasih ayah, kau masih seperti yang dulu, selalu ada.

Karena Alisa sadar, tetes keringat yang basah pada tubuh ayah ketika kerja menafkahi Alisa, itu tidak pantas bagi seorang anak untuk mengatakan jika ia paling hebat dan kuat dari kedua orang tuanya. Bagiku, ayah tak kalah hebatnya dengan ibu yang mengandung Alisa selama sekian bulan lamanya.

Ayah, bolehkah aku merindu lewat doa di setiap waktuku. Kuhajatkan beribu doa yang menyirat di dalamnya kata mutiara kerinduan dan ucapan terimah kasih yang tak terbatas harganya, karena ayah membesarkan Alisa penuh cinta. Pengen rasanya di darah Fafa mengalir deras semangat kakeknya yang begitu tulus mendidik ibunya sampai sekarang.

Hari ini, Alisa tidak bisa memberikan apapun, karana masih belum bisa menjenguk ayah. Tapi ada kabar baik buat Ayah, dan ayah pasti senang mendengarnya. Fafa sekarang tumbuh menjadi anak yang hebat dan kuat, ia juga selalu bertanya, kapan ia bisa bermain ke rumah kakeknya. Katanya dia ingin bermain bersama ayah, sembari bercerita tentang hikayat ‘Gatot Kaca’ yang dulu menjadi cerita favorit Alisa, anak yang manis dan manja sama ayahnya.

Ia sungguh ingin ketemu ayah, katanya cerita Gatot Kaca akan lebih menarik jika kakeknya yang bercerita. Maklum ayah, selama ayah masih ada, tidak akan ada orang yang sepandai ayah bercerita tentang kehebatan Gatot Kaca yang bisa menebas kejahatan di jagat raya.

Maaf seribu maaf ayah, sekali lagi Alisa belum bisa bertemu keluarga di Banjarnegara, Fafa masih sibuk sekolah dan Mas Fahlevi Masih sibuk Kerja. Tau kan ayah bagaimana dulu ngurus Alisa? Sekarang Alisa merasakannya di saat ngurusin Fafa. Ia sekarang sangat suka susu coklat, jika tidak susu coklat tidak mau minum. Mana saya juga harus memberikan suplemen madu Anak anjuran ayah. Tapi Alisa sadar, jika urusan anak, kita tidak boleh mengeluh, apalagi menggerutu, seperti yang ayah ajarkan selama ini pada Lisa.

Ayah, semoga dengan sebatas kertas dan oretan cerita tentang Fafa,dan curhatan seorang anak yang lagi bangga ini dengan anaknya, bisa mengobati rasa rindu ayah pada Alisa. Semoga ayah baik-baik saja, terima kasih ayah, telah mengajarkan segalanya tentang cinta pada keluarga.

Hal yang paling dalam yang bisa aku pelajari tentang cinta ayah pada keluarga adalah tentang kesebaran, serta ketulusan. Tak semua ayah bisa sepertinya, ia juga setia sehidup semati bersama keluarga apa adanya.

Ayah, InsyaAllah dalam waktu dekat ini, Alisa dan Fafa bisa ketemu dalam keadaan keluarga yang lengkap. Dan Fafa bisa menyentuh tangan ayah dan bunda. termasuk Lisa yang memang kangen pada ayah. Semba bakti ayah, semoga kita bisa bertemu dengan tatap mata yang berbinar-binar, layaknya dulu ketika aku masih kecil.

Ayah tetaplah abadi bersama kami, “I Love You Ayah.”

Comments

Close Menu