Tak Cukup Hanya Cerdas, Tapi Juga Tangguh

4
683

“Eh, Jeng.. Kemaren anakku dapat juara 1 lho di kelasnya. Aduh, senang sekali rasanya.”

“Tahu gak? Anakku ulangan kemaren dapat 100 semua. Alhamdulillah ya…”

Akrab dengan percakapan seperti itu Ma?

Yup, biasanya para orang tua akan selalu membanggakan anak-anaknya, terutama dalam soal nilai sekolah. Tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi kita harus sadar bahwa: pintar saja tidaklah cukup.

Sekadar pintar dengan nilai-nilai sempurna dalam ruang kelas tidak cukup untuk menyiapkan anak dalam menghadapi tantangan jaman di masa depannya. Ya, anak-anak akan hidup di masa yang sama sekali berbeda dengan masa orang tua. Sungguh anak-anak akan hidup di zaman yang berbeda dengan zaman orang tuanya.

Maka kita harus menyiapkan anak yang tidak hanya cerdas, tapi juga tangguh jiwanya. Seperti yang dikatakan oleh Fauzil Adhim, pakar parenting, bahwa sekadar memberi anak-anak uang dan memasukkannya di sekolah unggulan, tak cukup untuk membuat anak-anak itu menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, lanjutnya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapakan apa saja dari orang tuanya, kecuali, perhatian, ketulusan dan kasih sayang.

Fauzil Adhim mengibaratkan anak-anak yang begitu seperti ayam potong. Yang mendapatkan berbagai macam fasilitas namun yang sebenarnya terjadi adalah pelemahan jiwa karena tak pernah menghadapi tantangan, dukungan, dorongan, dan apresiasi seimbang.

Menguatkan jiwa dengan cerita

Sekali lagi; tentang cerita.

Ternyata cerita yang orang tua bawakan atau bacakan untuk anak-anak tidak hanya sekadar mampu membangun bonding antara orang tua dan anak. Tapi juga mampu menumbuhkan jiwa mereka.

Sebuah cerita, kata Fauzil Adhim, akan mampu berbicara lebih banyak dibandingkan nasehat bertubi-tubi pada saat jiwa anak belum tergerakkan. Sebuah cerita yang menginspirasi akan membuka mata anak bahwa ada yang harus mereka kerjakan.

Cerita akan menginspirasi anak untuk berbuat sesuatu seperti yang mereka dengar. Mereka akan berimajinasi tentang perbuatan-perbuatan kepahlawanan, dan mereka akan menirunya. Nilai-nilai itu akan tertanam dalam diri anak.

Cerita yang menginspirasi, dan dibawakan dengan penuh cinta oleh orang tua akan membangkitkan jiwa anak. Orang tua pun tidak lagi fokus pada kekurangan yang dimiliki oleh anaknya, namun menjadi motivator yang hebat bagi anaknya.

Tidak memarahi anak saat nilainya buruk, tapi memberikan semangat agar anak mampu unggul dalam bidang lainnya. Tidak mengeluhkan kekuarangan anak, namun juga selalu membawakan cerita tentang orang-orang besar yang juga memiliki kekurangan. Tidak hanya sekadar menjejali anak dengan berbagai tuntutan, tapi juga mengapresiasi setiap pencapaian anak dengan baik. Tidak hanya ingin anaknya cerdas, tapi juga tangguh jiwanya.

Ma, Pa… Sudahkah kita menjadi orang tua yang seperti itu bagi anak-anak? Atau “maukah” kita menjadi orang tua yang seperti itu?

Yuk, sama-sama terus membekali diri.

.

Punya cerita untuk dibaca banyak orang? Kirimkan saja disini. 

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here