Tempat Favorit Saya Buat Menitipkan Anak

Tempat Favorit Saya Buat Menitipkan Anak

Entah apapun itu, setiap rumah tangga memiliki rulenya sendiri-sendiri, baik yang memilih bekerja ataupun tidak. Asalkan suami ridho dengan kita bekerja dan kita tak memalaikan kewajiban kita terhadap anak-anak why not?

Gak usah nyinyir dengan rumah tangga orang lain deh yang lebih memilih menjadi ibu bekerja, apalagi jika sampai muncul kalimat gak layak menjadi ibu karena jam dinasnya lebih banyak di kantor, atau menyamakan perhiasan dan anak yang dititipkan, waduh sungguh menyayat hati.

Tanpa diberitahu pun ibu bekerja sudah memiliki banyak kekhawatirann ketika meninggalkan anak saat bekerja. Memangnya menjadi ibu bekerja itu lalu tanda bahwa lebih memilih pekerjaan daripada anak? Memangnya menjadi ibu bekerja itu menjadi tanda kita bukan ibu yang baik?

Coba lihat deh, banyak kasus kekerasan pada anak yang dilakukan oleh ibunya yang seharian bersama anak!

Maka mari berpikir jernih. Tenang. Dan tidak perlu membanding-bandingkan. Memilih menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja itu sama sulitnya.

Setiap ibu, baik itu rumah tangga ataupun ibu bekerja tetaplah seorang ibu. Catat itu baik-baik yaa. 

Gelar ibu tetap akan tersemat kepada siapa saja yang menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya baik itu fulltime mom ataupun ibu yang bekerja.

Saya pernah menjadi fulltime mom dan saya pun pernah menjadi working mom. Saat saya menjadi ibu rumah tangga saya tidak pernah terpikir untuk menitipkan anak saya, namun saat saya memutuskan untuk bekerja hal pertama yang saya pikirkan adalah dimana saya menitipkan anak saya?

Ya, anak saya nanti akan gimana? Sama siapa? Sekarang berbuat apa? Tolong jangan dilanjutin jadi lagunya grup band yang sudah bubar itu ya.

Nah, ada banyak pilihan dalam menitipkan anak, urutan pertama tentu adalah menitipkan anak kita pada nenek dan kakeknya sendiri, babysitter, atau daycare.

Pertama menitipkan anak pada neneknya

Nah berhubung neneknya anak-anak saya juga seorang ibu bekerja tentu pilihan ini bukanlah pilihan yang kami pilih dalam metitipkan anak.

Sekalipun beliau sekarang sudah pensiun tetap saja kami tidak memilih untuk menitipkan anak kepada neneknya karena usia yang sudah senja kasihan jika harus dibebani juga dengan mengasuh cucunya biarlah beliau menikmati masa senjaya dengan tenang, bermain bersama cucu saat beliau mau bukan karena kewajiban mengasuh cucu.

Saya sendiri termasuk orang yang kasihan ketika melihat nenek dan kakek mengasuh cucunya seharian, dengan tubuhnya yang sudah renta masih harus mengejar-ngejar cucu belum lagi jika si cucu sakit dan harus menggendongnya seharian.

Bukan hanya itu saja, tipikal banyak nenek yang lebih memanjakan anak akan cukup berbahaya jika kita tidak memiliki komunikasi yang baik dengan neneknya anak2. Pola asuh yang berbeda dengan orangtua juga akan menjadi konflik tersendiri jika tidak disikapi dengan bijak.

Banyak juga teman saya yang memilih menitipkan anak mereka kepada neneknya, selain karena sudah kenal tentu akan membuat anak menjadi lebih nyaman dan membuat orang tua pun menjadi tenang saat bekerja.

Banyak nenek yang justru meminta mengasuh cucunya saat sang ibu bekerja, dengan alasan kasihan jika harus dititipkan ke orang lain atau orang lain belum tentu bisa mengasuh anak sebaik keluarga sendiri apalagi mengingat banyaknya berita yang menampilkan perlakuan yang kurang baik saat mempercayakan pengasuhan anak kepada orang lain.

Yang perlu diingat ketika menitipkan anak ke neneknya adalah tentu kesediaan sang nenek, jangan lupa untuk menyediakan sendiri kebutuhan anak kita misalnya snack, susu, dll serta jalin komunikasi yang baik dengan nenek supaya tidak terjadi saling tolak belakang dalam mendidik anak, kan bisa gawat kalau gitu.

Pilihan kedua adalah menitipkan anak pada pengasuh (babysitter).

Pilihan ini dirasa lebih sulit dibandingkan dengan dua pilihan lainnya. Mencari pengasuh dengan tata karma yang baik serta sayang kepada anak kita bukanlah perkara yang mudah.

Karena kita akan meninggalkan anak kita berdua saja dirumah dengan pengasuhnya sehingga dirasa sangat perlu untuk memilih pengasuh yang tepat untuk anak kita. CCTV bisa menjadi pilihan dalam mengawasi anak kita saat dirumah bersama pengasuh.

Sisi positif ketika mengambil pengasuh adalah perasaan nyaman sang anak karena diasuh dirumahnya sendiri tanpa harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Namun repotnya adalah ketika sang pengasuh ijin atau cuti pulang kampung.

Nah pilihan ketiga adalah daycare (tempat penitipan anak).

Terus terang Pilihan saya jatuh pada daycare, selain harga yang relative lebih murah dibandingkan kita memakai babysitter,  guru di daycare juga biasanya terdidik dalam mengasuh anak bahkan beberapa daycare ada yang juga memberikan pelatihan parenting kepada orang tua.

Sebenarnya tujuan utama saya memilih daycare adalah supaya sosialisasi anak terbangun disini, maklum saja kami tinggal dilingkungan yang nyaris tanpa anak kecil kalaupun ada jarang bermain diluar rumah karena kesibukkan sekolah. Dengan masuk ke daycare anak saya bisa bersosialisasi dengan anak-anak yang lain.

Banyaknya anak di daycare pun takselalu berdampak positif ada juga bagian-bagian yang menjadi resiko yaitu mudahnya tertular penyakit.

Resiko tersebut sudah kami sadari dari awal, jadi etikanya ketika anak kita sakit tak perlulah kita menyalahkan anak lain yang menulari apalagi sampai pada kondisi mencari dan merunut darimana dan siapa yang menulari anak kita, cukup kita rawat anak kita dan kita obati daripada harus menyalahkan anak lain.

Apapun itu setiap ibu pasti memiliki pertimbangan sendiri dalam memilih menitipkan dimana anak kita saat kita bekerja. Nah kalau ibu-ibu disini lebih sepakat yang mana?

Tolong deh, jangan komentar “lebih baik anak tidak dititipkan.” Hal itu betul, tapi bukan itu yang sedang kita bicarakan bukan?

Ditulis oleh: Evy Kusumaningtyas,

Comments

Close Menu