Terima Kasih Ibu, Sudah Membesarkanku dengan Baik

Terima Kasih Ibu, Sudah Membesarkanku dengan Baik

Kemarin hari pahlawan, semua orang ngucapin Selamat Hari Pahlawan di media sosial. Pahlawan menurut mereka hanya para pejuang kemerdekaan, betul sih. Tapi buatku, pahlawan paling hebat adalah ibuku. Kenapa ya enggak ada yang ngucapin selamat buat ibu-ibu sedunia kemarin?

Hmm, sudah jelas ibu mengandung selama Sembilan bulang dan melahirkan kita dengan mempertaruhkan nyawa sendiri. Bukankah semua itu adalah perjuangan hebat yang dilakukan seorang ibu?

Betapa beraninya ibu bertaruh nyawa demi anak-anaknya. Sampai sekarang, saya enggak pernah berani bayangin jadi sosok ibu. Bu, kenapa kau mempertaruhkan nyawamu demi anakmu ini?

Aku ingin sekali menanyakan hal itu. Tapi mulut ini kelu tiap kali bertatap mata dengan ibu. Rasanya, aku belum siap mendengar jawaban yang pasti sangat dalam sedalam samudra pasifik. Kau, Ibu, adalah pahwalan terbaikku.
Kasihan sekali ibu kalau hanya diucapkan selamat di waktu hari ibu. Sehari dalam setahun enggak sebanding dengan perjuangan ibu setiap hari. Enggan sebanding.

Saya ingat saat kecil diasuh dengan sangat baik. Diingatkan makan setiap kali saya bermain di luar dan lupa waktu. Siang hari sepulang dari sekolah, ibu pasti menyuruh saya makan sebelum bermain. Namanya anak-anak, begitu pulang penginnya langsung main bareng temen-temen di luar.

Tapi ibu bilang, “Makan dulu biar mainnya kuat,” perhatian banget ya ibu.

Saat itu saya sering marah karena disuruh makan. Saya menganggap itu paksaan yang tidak menyenangkan karena menunda jadwal bermain sampai setengah jam. Ya, namanya juga anak-anak. Disuruh makan biar gemuk dan sehat malah enggak mau, dikiranya ngelarang main. Maafkan aku, ibu.

Jadilah saya sering makan sambil bergaya ngambek. Makan nasi dengan cepet sampai keselek sendiri. Waktu batuk-batuk karena keselek, toh ibu juga yang datang menolong, ngasih saya air putih biar keseleknya cepat berlalu.

Masih aja saya mikir pengen cepet main. Enggak mikirin lelahnya ibu yang masak dari pagi hari sampai siang. Pasti ribet dan melelahkan. Padahal, saya hanya dikasih makan dan seharunys bersyukur dan berterimakasih.

Tapi, pemikiran seperti itu kok belum ada di otak saya waktu itu. Ngejangkau hal kayak gitu butuh waktu lama banget. Hehehe.

Buat anak-anak, mungkin ibu itu enggak selalu baik. Ibu itu sering ngelarang anak-anak main, sering marah karena pulang kesorean, sering nyuruh cuci piring sendiri, dan hal lain yang enggak srek di hati anak.

Andai saja sudah mengerti kerja keras ibu sejak dulu, pasti saya akan menghargai ibu dengan baik. Tidak menyia-nyiakan seorang manusia yang sudah membesarkan saya sampai saat ini. Semua yang saya dapatkan hari ini tidak lepas dari peran besar ibu.

Jadi, di hari pahlawan ini, meski telat, saya ingin mengangkat sosok-sosok ibu hebat sebagai pahlawan yang patut dihargai. Memberinya sebuah ucapan hangat untuk membalasnya. Tidak ada anak yang sanggup membalas kebaikan ibu, tapi setidaknya saya berusaha.

Semua ibu sayang anaknya, tapi kenapa banyak anak bandel dan tidak berbakti?

Pasti berat jadi ibu hebat yang tabah dan sabar menghadapi semua tantangan. Gimana coba rasanya mengarungi tahun-tahun yang berat dalam mengasuh anak, sejak anak cuman bisa menangis sampai besar. Pas udah besar, eh, anak-anaknya malah pergi menjauh dari ibunya.

Gimana ya perasaannya si ibu?

Saya pengin banget tahu perasaan terdalam seorang ibu. Apa dia bahagia punya anak kayak saya yang enggak pinter bikin bangga. Apalah saya ini yang tak pandai membahagiakan ibu.

Dari empat anak ibu, mungkin saya termasuk paling bandel. Anak ketiga yang ogah-ogahan diem di rumah dan usilnya minta ampun. Saya pernah bikin ibu malu karena tetangga datang ke rumah mengeluhkan kelakuan saya yang suka mencuri mangga di halaman rumahnya.

Waktu tetangga menceramahi ibu, ibu diam saja tak berkomentar. Sesekali mengangguk untuk memberi tanda mengerti pada tetangga agar cepat selesai. Bagaimanapun ibu bukan orang yang akan diam saja ketika dicecar omongan orang. Ibu cerewet. Tapi kali ini, dia diam saja. Mungkin karena besar-benar terdesak rasa malu akibat kelakuan saya.

Usai tetangga kembali, Ibu melirik saya lekat-lekat. Kemarahannya tertahan di ubun-ubun dan sebentar lagi pasti meledak. Tapi hal itu ia urungkan. Kakak-kakak saya yang memarahi saya dengan ucapan dan sumpah serapah tanpa jeda.

Bandel sekali, memang.

Begitulah kisah singkat anak laki-laki yang tak tau berterimakasih pada ibunya. Penyesalan selalu datang terlambat, sebab di awal adanya pendaftaran. Hehe.

Ibu, terima kasih atas segala usaha untuk mendidikku. Tentu saja ada banyak sekali keterbatasan, aku tahu, kita bukan orang kaya. Tapi, itulah usaha terbaik Ibu untukku. Tidak pantas aku menyesal atau marah atas pola asuh yang kau terapkan padaku.

Kalau memang begitu banyak kesalahan yang kuperbuat di tahun-tahun dulu, maafkanlah. Mungkin aku anak tak tahu diri, atau apapun itu. Kau boleh marah padaku, tapi aku mengaharap maafmu. Terimakasih. Selamat Hari Pahlawan, Ibu.

Comments

Close Menu