Tips Buat Mamah Muda yang Mau Ikut Demo

Tips Buat Mamah Muda yang Mau Ikut Demo

Seorang teman berkata bahwa segala bentuk demo di muka bumi ini adalah kemubaziran alias kesia-siaan. Kecuali demo masak. Hasilnya bisa dimakan, ilmunya bisa dipraktekkan.

Waduh, kayaknya teman saya itu belum kenal dengan Cut Nyak Dien, yang malah memimpin perang melawan penjajah di Aceh sana. Begini deh, kalau mamah muda terjebak pada image artis sinetron saja. Yang harus rapi, wangi, mulus, berkulit putih, dan bisa menatap dengan tatapan sinis dan bicara dengan hati.

Eits, atau mungkin teman saya itu tidak membaca berita kemarin. Aksi ibu-ibu yang tidak lagi disebut mamah muda, sembilan petani perempuan yang disebut-sebut sebagai “Kartini Kendeng.” Mereka mendatangi seberang Istana Merdeka. Ibu-ibu itu, yang namanya Yu Sukinah, Martini, Siyem, Karsupi, Sutini, Surani, Ngatemi, Ngadinah, dan Ripambarwati demo menolak pabrik semen.

Waktu itu mereka duduk berjajar, siang-siang yang panas. Tak peduli sinar ultraviolet yang mampu menghitamkan kulit. Lengkap dengan busana kebaya dan topi caping, lalu mereka menyemen (mengecor) kaki mereka di depan Istana…!!!

Ini ibu-ibu lho…!! Luar biasa bukan?

Sah-sah saja teman saya berpendapat begitu. Mungkin yang dia tahu demonstrasi itu merusak, penuh kekerasan fisik dan diwarnai aksi bakar ban. Mungkin dia belum pernah ikut aksi damai dimana para bayi dan balita biasa diajak untuk ikut turun ke jalan.

Lho, memang bisa aksi bawa bayi, balita dan anak-anak? Aksi apa posyandu Bun? Bisa dong.

Ada banyak organisasi masyarakat dan komunitas yang mengakomodir aksi damai dan terorganisir. Aspirasi tersampaikan, piknik keluarga pun jalan, ups.

Bagaimanalah bukan piknik namanya, bawaan mamah muda yang turun ke jalan macam orang pindahan. Berbeda jauh dari status single dulu. Mahasiswi aksi cukup gendong tas ransel kuliah berisi air mineral dan make up ala kadarnya.

Mamah muda turun ke jalan bagai singa turun gunung. Selain menggendong anaknya macam kanguru ataupun tetap berstyle jarik, gembolannya kanan kiri oke. Tas isi perlengkapan dedek bayi mulai dari popok, baju ganti, handuk kecil, minyak telon, tisu kering, tidu basah, susu, air mineral, cemilan sampai baju ganti cadangan. Bayi enggak cuma pee dan pup, kadang muntah, ketumpahan air sampai basah keringat.

Tas slempang kecil si mamah muda cukup berisi dompet dan ponsel. Itu baru properti satu anak, kalau dua-tiga anak yang diajak, makin bervariasi jumlah bawaannya. Tentu saja peran bapak sebagai juru angkut tas dan patner gendong amat diandalkan di sini.

Dari pengalaman penulis sebagai mahasiswi yang pernah ikut aksi ditambah cerita beberapa rekan seperjuangan tempo doeloe yang kini berstatus mamah muda. Saya rekam beberapa alasan kenapa para mamah muda nan rempong sampai emak senior tetap bersemangat turun ke jalan.

1. Aksi adalah harga mati.

Bisa dipastikan prinsip cetar ala mahasiswa ini masih mengilhami jiwa para mantan aktivis di jamannya. Enggak aksi, enggak keren. Mungkin kamu bisa menyuarakan aspirasi lewat tulisan di media sosial, tapi kalau belum aksi rasanya tetap ada yang kurang.

2. Pemerintah diam seribu bahasa dalam kasus agama dan kemanusiaan.

Ini yang memicu aksi 4 November besok. Sudah jelas Ahok melakukan penistaan agama, eh tidak ada tindakan hukum yang adil. Masyarakat bergerak sebagai warga negara yang baik, aksi bertujuan mendorong dilakukannya tindak hukum bagi pelaku.

Begitu juga dalam kasus Munir yang terkesan ditutupi. Wajar masa menggugat keadilan meski nyawa sudah meradang.

3. Aksi bagian dari jihad fi Sabilillah.

Jangan ditanya bagaimana heroiknya para emak dengan semangat macam ini. Sudah pasti ridho Allah yang dicari. Mengendong anak pun bakal dilakoni, asal dirinya tercatat berpihak pada kebenaran yang diyakini.

4. Aksi ajang silaturahmi antar komunitas.

Aksi yang melibatkan beberapa segmen organisasi masyarakat dan komunitas tentu menjadi ajang temu kangen kawan dan saudara yang mengharukan. Ibaratnya sama-sama bertemu di medan jalanan, masih seiya sekata dengan idealisme jaman mahasiswa dulu.

Duh, mamah muda baper kalo ketemu teman lama masih di jalan juang yang sama. Semoga tidak ketemu mantan aja, yang masih menunggu sambil nyanyi lagu “the man who can’t be moved.”

5. Aksi salah satu bentuk pendidikan jiwa korsa anak.

Pada anak-anak usia kanak-kanak mengikuti aksi akan menjadi salah satu hal heroik dalam kenangan masa kecil mereka. Long march, mengikuti barisan dan satu komando akan menjadi pemandangan sekaligus pengalaman keren anak-anak.

Sedikit banyak orangtua bisa menjelaskan alasan kenapa mereka turun ke jalan. Tidak aneh jika kesadaran dan kepedulian mereka akan terbentuk sejak dini.

6. Dokumentasi aksi adalah aset berharga mamah muda.

Dibanding foto selfi dengan bibir semi maju, foto saat aksi turun ke jalan bersama keluarga tentulah lebih berharga bagi mamah muda. Apalagi kalau mantan aktivis. Udah tidak keren lagi lah foto seperti anak-anak ABG kekinian, dus lebih keren bukan kalau foto pas lagi demo.

Nah, foto ini juga bisa tidak hanya mengenang sejarah aksinya tapi juga melibatkan anggota keluarganya untuk merintis jalan juang bersama. Foto-foto aksi bersama anak bisa jadi bagian dokumentasi tumbuh kembang si kecil yang keren.

“Pada suatu ketika dahulu, disaat pemerintah dikuasai oleh penyihir jahat. Mama bersama pasukan besar…” begitu kira-kira awalan buat cerita ke si kecil.

7. Aksi menimbulkan reaksi, eh rumpian.

Saat aksi, biasanya para mamah muda sampai emak senior tidak banyak mengikuti long march. Mereka dikondisikan stand by di posko atau titik kumpul. Tentu saja para mamah ini lebih selow dibanding pemuda dan ayah yang fokus mendengarkan orasi, menjaga barisan keamanan dan mengurusi properti aksi lainnya. 

Mamah muda heroik ini lebih leluasa ngadem sambil momong dan ngerumpi di pojok kanan-kiri. Sudah hukum alam, jika para emak bertemu dan berkumpul akan tercipta obrolan yang tak kalah heroik dari orator di depan. Mulai dari harga sembako yang menanjak sampai susah senang mengasuh anak masing-masing.

Nah, jika besok Jumat Anda belum bisa ikut turun aksi, tak perlu larut kecewa berlebihan. Ada beberapa aksi di rumah yang tak kalah pentingnya anda lakukan.

1. Support doa dan dana.

2. Mendukung suami yang pergi aksi dengan menjaga amanah di rumah sebaik mungkin.

3. Aktif mengkampanyekan perlunya supremasi hukum yang adil.

4. Santun menggunakan media sosial. Tunjukan prinsip Anda dan tinggalkan yang berlebihan.

Bagaimana Bun, siap beraksi?

Ditulis oleh: Yosi Prastiwi, ibu dua anak yang berbahagia.

Comments

Yosi Prastiwi

Ibu dua anak.