It’s True! Anak adalah Mahkota yang Dirindukan Seorang Ibu

It’s True! Anak adalah Mahkota yang Dirindukan Seorang Ibu

Apa yang dikatakan orang dengan rumah tanpa anak itu sunyi benar adanya. Seorang anak adalah mahkota keluarga yang selalu dirindukan. Rindu menjadi ibu yang rempong, rindu akan bawelnya anak, rindu tangisan anak di pagi hari, dan sangat rindu di panggil mama ketika pagi buta sekali ia baru bangun dari ranjang kecilnya.

Saya bisa pastikan, jika seorang ibu atau istri tidak suka hanya sebagai ratu yang cuma duduk tanpa kesibukan di dalam rumah, saya yakin seyakin-yakinnya ia akan merasa bosan, ia akan merasa jenuh atas apa yang ia lakukan di rumah tanpa kerjaan apapun. Termasuk tidak hadirnya anak di dalam rumah tangga.

“Menyakitkan, bagaikan sayur tanpa garam, hambar dan tidak bisa memberikan rasa apapun selain keluh kesah dalam hati yang hanya bisa diungkap dalam batin,” ungkap suamiku.

Hal ini pun aku rasakan sendiri, betapa kurang beruntungnya aku sebagai seorang perempuan tanpa anak, hanya menjadi teman dekat di setiap perjalanan suami, menjadi pekerja tanpa ada rasa semangat.

Akhirnya sepanjang waktu, aku selalu berpikir jika cinta tanpa hadirnya seorang anak tidaklah sempurna. Saya memikirkannya selama tiga tahun setengah, sebelum Tuhan memberikan tanda bahwa saya sedang hamil.

Apa yang dipikirkan tidak lain adalah rasa mumet, rasa egois yang tidak kunjung pergi, sisa emosi sewaktu masih jaman remaja sebelum menikah. Kita sering menyebutnya dengan masa abu-abu (SMA), dan masa kuliah. Suka marah dan cepat tersinggung. Untungnya suamiku sabar dan selalu mau mengalah, walaupun ia tidak bersalah.

Dari itu semua aku hanya ingin mengatakan bahwa hal yang ingin disampaikan adalah, hati dan perasaanku sedang sunyi tanpa anak. karena aku pengen cepat menjadi ibu melepas keegoisan sebagai perempuan baper. Jika boleh memilih aku lebih suka rempong memikirkan anak setiap hari dari rumah, ketimbang harus marah dan ngomel-ngomel tak jelas di dalam rumah tangga, suamilah nanti yang akan jadi korbannya.

Mungkin bisa dibilang mudah retak, jika tidak ada yang mau ngalah sekali injak bisa langsung ambles bubar menjadi keluarga yang saling tak menyayangi. Tidak banyak hal yang bisa sampaikan selain hanya bisa menganjurkan jangan pernah menunda untuk punya anak, bersegera itu lebih baik, karena hal itu bisa membuat anda lebih cepat bahagia.

Dari sekian keretakan keluarga kami jalani yang hampir setiap hari terjadi, hal itu teredam seketika di saat kabar gembira datang bahwa aku positif hamil. Aku yang waktu itu tahu setelah tes urine langsung bergegas pergi ke kantor suamiku, untuk mengabarinya.

“Ada apa sayang kok tiba-tiba ke kantor, papa kaget ne ?”

“Adila Hamil Mas, aku senang banget !”

“Serius sayang?” tanya suamiku dengan kaget, kulihat matanya bersinar bahagia, ia langsung memelukku dan mecium keningku sembari mengelus-elus perutku yang sebenarnya masih belum kelihatan seperti orang hamil.

“Papa kerja dulu ya sayang, “ ungkapnya pada perutku. Ia sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi ayah dari bayi yang saya kandung. Semenjak itu pula, jiwa keibuanku langsung keluar. Bahkan sebelum aku menjadi ibu yang sebenarnya.

Sembilan bulan berlalu, di bulan ke sepuluh aku lahiran. Seorang anak perempuan sesuai dengan yang kuimpikan. Walaupun sebenarnya jika aku dikaruniai anak lelaki akan merasakan kebahagian yang sama.

Kuberi ia nama Anita Permatasari, buah hati yang selalu menjadi harapan keutuhan keluarga. Sesuai dengan namanya, menjadi permata di antara ayah dan ibunya. Ya saya pengen menegaskan kembali jika rindu yang kumiliku sebagai istri dari mas Bimo, tidak lain adalah pada anakku sendiri.

Comments

Close Menu