Ucapkan “Tolong” ya Rey

Ucapkan “Tolong” ya Rey

Anak kecil memang gampang lupa. Itulah sebabnya untuk menanamkan sebuah pemahaman kepada si kecil, harus dilakukan dengan berulang-ulang. Pun dengan penuh kesabaran.

Itulah yang coba saya lakukan pada Raihan, buah hati saya yang baru berumur 2,5 tahun.

Suatu hari Raihan pengen makan kue. Kue itu tersimpan di toples yang saya letakkan di atas meja. Cukup tinggi untuk Rey –panggilan Raihan- ambil sendiri.

Awalnya ia mencoba untuk mengambil sendiri. Tangannya ia julurkan sambil berjinjit untuk menggapai toples kue itu. Namun apa daya, tangan Rey tak sampai.

Melihat tingkah Rey itu, saya yang sedang membaca buku di dekatnya berlagak pura-pura tidak tahu. Tak berapa lama setelah melihat saya, Rey lantas berlari kecil sambil memanggil-manggil, “Ndaa… Bunda…”

“Bunda…ambilin jajan!” pintanya dengan cara bicara yang masih patah-patah sambil menarik-narik lengan baju saya. Jajan yang dimaksud adalah kue dalam toples itu. Rey menyebutnya “jajan.”

Saya cuek.

“Bunda, ambilin jajan!” ulangnya.

Saya tetap diam.

“Bunda..bunda…bunda..” Rey mulai merengek. Dan saya masih saja diam. Dia merebut buku yang sedang saya baca, mencoba menarik perhatian. Tapi saya berhasil mengambilnya kembali.

“Ambilin jajan…”

“No…”

Wajahnya hampir menagis. Memelas. Lantas Rey berkata, “Bunda, tolong ambilin jajan..!”

“Nah, gitu baru pinter. Kalo Adek gak minta tolong, Bunda gak mau ambilin. Jadi, ingat-ingat ya anak pintar. Ucapkan kata tolong atau minta tolong kalau Adek butuh bantuan. Oke?”

“Iyaa…” Rey manggut-manggut.

Saya lalu beranjak dari kursi. Mengambil satu dua buah kue, lalu menyerahkannya ke Raihan. Dia sumringah menerimanya.

“Trus kalau sudah ditolong bilang apa?”

“Ma-cih ya,” katanya.

“Sama-sama.”

Saya memang berpesan padanya untuk menyertakan kata ‘tolong’ jika dia membutuhkan bantuan orang lain saat tidak bisa melakukan keinginannya sendiri. Rey menurut meski seringkali lupa.

Anyway, membiasakan kebaikan akan lebih baik kalau dilakukan sedini mungkin, bukan? Setidaknya dimulai dari hal-hal kecil yang sering dilakukan sehari-hari. Karena otak anak masih fresh jadi akan mudah menangkap pelajaran itu.

Tapi tetap harus disampaikan dengan halus, ehmm mungkin istilahnya soft learning hehe…

Jadi anak tidak merasa sedang disuruh belajar. Biasanya saya menanamkan pesan itu dengan membacakan cerita atau dengan merefleksi kegiatan kami seharian saat akan tidur disaat otak anak dalam kondisi tenang.
.
.
Ana Rosdiana, asal Banyuwangi Mamanya Raihan

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu